Kantor Administrasi Penghapusan Diri dan Puisi Lainnya

Jonah Mario

2 min read

Kantor Administrasi Penghapusan Diri

setelah selesai mendengar ledakan ke sekian
yang nyaring sekali dari suatu pemukiman
dengan area-area tertentu yang sepertinya ditutup
material gelap tanpa riwayat
aku menguping pembicaraan dua orang
mengenai kemungkinan bahwa dunia arwah sebenarnya
hanya pecahan hidup beberapa orang
dari keseluruhan populasi manusia
yang tiba-tiba tersendat di belakang
barisan markah
tebing raksasa tak kasat mata

lanjutan pembicaraan mereka tidak lagi kumengerti
aku kehilangan kemampuan untuk setuju belakangan ini
aku hanya ingat itupun setengah-setengah
berdasarkan sebuah tabloid yang kubaca sedikit saja
di sebuah ruang tunggu
zaman dulu sekali

bahwa
orang-orang saling menulis surat
di atas kamar yang tidak mungkin dibangun
di dunia ini beserta
segala semesta himpunannya
beberapa kali
melawan diri sendiri dengan keras
sebelum akhirnya masuk selamanya
ke dalam pucat meja kaca
yang terletak tidak persis di tengah

nanti tengah malam paling-paling akan kudengar dalam sebuah mimpi
bangku panjang halte bergetar
menyesar ke belakang
ke dinginnya serbuk komet yang jauh
di luar angkasa sana
yang tak dikenang oleh siapapun

ada juga yang bilang
saat ini senin sudah mulai
selalu sudah mulai
meski apa yang dinamakan sebagai pekerjaan
sebenarnya sudah lama tak ada

ini kudengar dari seorang perempuan
yang entah kenapa dalam adegan ini
memakai topi beludru dengan hiasan bunga
digambarkan sedang duduk
dalam sebuah cafe
yang langit di luarnya selalu mendung
dan hendak menjawab
ketika kutanya “sudah? kita bisa pulang
sekarang?”

yang ternyata hanya memiringkan kepala
menatapku dengan sedikit tersenyum keheranan
memegang pergelangan tanganku
yang ternyata
sedang berguncang sangat hebat
seperti juga seluruh kemungkinan letak tubuh
dan jalinan tulang-tulang yang terasa
seperti bukan sepenuhnya milikku

Board of Directors

segala harus dirahasiakan. segala
harus dibuang ke dalam diri
sementara kinetika ganjil
terbitan lantai ilahi manajemen

yang baru saja tiada
melipit anatomimu
sebagai dokumen gamblang administratif
yang akan menemui macam-macam rekayasa
namun segera menghanguskan semuanya, bumi, spora-spora

termasuk semua yang tak ditulis
dalam daftar isi
dikunci dalam doa-doa keliru
hasil tinjauan ilmuwan
dari timbal kait-kait klenik

“aku. sudah datang.
tapi juga tak pernah.”

tungkai tangan
tulang kering
adalah besi-besi sihir
yang dimanufaktur industri
milik suatu yang maha
disusun menjadi morfologi senapan
memegang-memutus kronologi

memusnahkan kontinum
bahkan gravitasi
ruang anti-ruang.

“aku. sudah datang.
tapi juga tak pernah.”

sebuah semesta tidak mengampuni
semua penghuninya

Isoperimetric Problem with Boundary Restrictions

di atas

kelelahan menepi
bayangan-bayangan malaikat
hanya porselen berputar

dalam ilusi:
merangkai lampu di wahana-wahana
mengantuk atau
(mengkaji konsep cahaya, kecepatan)

institusi yang mengatur
kemiringan bumi lalu
segera menyudahinya.

cuma ada segelas susu
memberitahumu
tangga ke bawah:
sebagian dinding hilang
gerlip air pada gaun mengerti

riwayat piano dalam radio
“apakah kemarau di luar?”
kau menerka
kekeringan-kekeringan
lintup kerajaan tuhan
yang telah melampaui
dingin lingkaran

bukan tuhan jika hanya figur
dalam jarak tertentu
kegelapan pintu

ingin kupasang pita pada rambutmu
lalu mungkin kita duduk di meja
ruang tamu
melihatmu pulang barusan
menyenderkan payung basah

di pojok yang bukan milik siapa-siapa

vas-vas tengah malam
trotoar dan tangga-tangga dari
suatu negara tanpa fraktal

seakan tidak ada yang dirancang untuk berhenti
hari-hari ini

Utan Kayu, 2024

Kiamat Pukul Satu Pagi

ada kengerian tanpa penjelasan
yang sedang membetulkan
kerah kemeja
malam ini

di kaca lemari
yang akan membuat kita menangis menjerit keras sekali
ingin mematahkan leher sendiri
tetap dengan celana bahan mengkilat

tapi dalam gerendel tulang-tulang kita
dalam kantong berisi struk belanja
ada meja bar
mungkin televisi atau betapa kotaknya
suara kebendaan serta hal-hal lain
dari tahun-tahun yang telah berlalu
mimpi pada lagu pop 80-an
pohon kelapa dan titik tengah pulau
yang selalu hanya ada
satu dan selalu malam hari

yang melengkung menuju sesuatu

“kita berpesta
mati. hawa parfum
pada dinding batas
yang memagari alam rumah
dengan alam roh di seberang pekarangan
yang sepertinya
hanya geripis kesendirian.
tak ada surga. di mana neraka?
di mana anak-anak?”

draf dunia dicoret.

tong sampah
berserak
di mana-
mana

Tangga Darurat, Sectional View

menuju pembaringan
tak ada bebatuan retak
juga jalan tanah yang berdesir
seperti apa kau ketika berjalan pulang
dan ketika tulisan-tulisan yang kau susun
menyembunyikanmu
di bawah pasir
putih cangkang
kota-kota

kau tahu
suatu tempat
di mana kedatangan berhenti
bintang-bintang belum berkelip
karena hanya
serpihan satelit
tak ada payung terikat. dering telepon. sapu
yang disandarkan dengan sengaja.

aku mengulurkan tanganku
(di bawah diriku)
kaki langit terlalu jauh.
bulatan pagi menyentuh dasar tebing

lalu berhenti.
mengawasi pelabuhan yang dingin
kanal-kanal panjang:
lautan nol (ujung
masa).

*****

Editor: Moch Aldy MA

Jonah Mario

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email