Egalitarianisme Masyarakat Desa: Miskin Ekonomi namun Kaya Nurani

Asrori Pamungkas

5 min read

Setelah doa selesai dan makanan dibagikan di acara kenduren 7 harian tetangga, Mbok Giyanti nyeletuk—saat membagikan nasi uduk dan ubo rampe lainnya, “Yo ngeneki lho, Mas, urip nang ndeso iku gak usah kuatir keluwen.” Lalu, disahut guyonan ala Pak Modin, “Berkat mblerah …. Mangkat luwe, mulih warek. Hidup madyang!”

Saya turut ketawa, meski yang punya hajat, mungkin, masih duka-sedih. Kemudian, saya termenung dan tak bisa menolak pernyataan demikian.

Hidup di desa, memang tidak pernah benar-benar glamor. Tidak ada istilah quiet quitting atau healing tipis-tipis ke Bali. Yang ada justru bertungkus lumus sejak matahari belum niat bangun. Sawah digarap meski luasnya sepetak kuku. Singkong dicabut meski hasilnya tak bisa buat flexing di media sosial. Tapi, dari kerja yang tampak remeh itu, dapur jarang kosong.

Baca juga:

Bukan karena orang-orang di desa itu kaya raya, melainkan karena hidup mereka masih mengenal satu hal yang kian punah di kota, yaitu tepa selira.

Orang desa—seperti kami—boleh saja terkatung-katung secara ekonomi—penghasilan tak menentu, harga panen naik-turun seperti mood pejabat, namun “urusan perut” relatif aman. Sebab hidup di desa tidak digerakkan oleh logika “bisa makan harus punya uang”, melainkan “masih bernapas pun, masih bisa bertahan”.

Sambatan Sebagai Seni Sosial Tak Tertulis

Gotong royong atau sambatan adalah bentuk pergerakan sosial nun jujur yang pernah ada. Tidak ada invoice, tidak ada slip gaji, apalagi kontrak kerja. Ia adalah seni sosial terelok yang tak tertulis dalam aturan administrasi hidup di desa.

Mengaspal jalan, bikin talud, ngecor pondasi bangunan rumah tetangga, hingga bersih-bersih desa adalah bagian dari seni tersebut. Termasuk hari ini, misalnya, bantu panen padi, besok gantian dibantu tanam kacang, lusa disambati bikin kandang ayam atau kerja sosial lainnya. Semua bergerak dengan satu mata uang: rasa kepedulian.

Sebab hidup di desa tak pernah sepenuhnya sendirian. Ada lahan yang tak luas tapi bisa ditanami padi, kacang, atau singkong. Ada kebun kecil yang mungkin tak Instagramable tapi sanggup menghasilkan daun singkong, bayam, pepaya, atau kelor. Hasil bumi itu sewaktu-waktu bisa diminta tetangga tanpa perlu transaksi QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard). Cukup bilang, “Njaluk godonge yo Yu,” lalu pulang membawa bahan buat bikin lauk yang sah secara moral dan sosial.

Kalau Emile Durkheim iseng mampir ke desa dan sudi turun ke sawah tanpa sepatu pantofel, barangkali ia akan mengangguk-angguk pelan, tersenyum tipis, sambil geleng-geleng. Sambatan, gotong royong, dan kebiasaan saling bantu itu persis contoh hidup dari apa yang ia sebut sebagai solidaritas mekanik.

Siklus masyarakat desa terikat bukan oleh pembagian kerja yang ruwet atau visi pembangunan yang muluk-muluk, melainkan karena urip iku urup atau kesamaan nasib yang tak bisa dipungkiri: tanpa tabir kelas, tepa selira dan bergantung pada hujan, tanah, dan keberuntungan musim. Dari keserupaan itulah tumbuh kesadaran bersama bahwa hidup tidak pernah benar-benar urusan soliter.

Dapur-dapur tetap bisa ngebul meski gagal panen atau tak punya uang sekalipun. Misal saja, petani jagung yang panen turut membagi hasilnya ke petani padi yang gagal karena kekeringan atau hama, begitu pula sebaliknya.

Bahkan, jika tahu tetangga tidak masak pun, sayur lodeh dan ubi rebus sudah siap diantar buat ia yang kelaparan. Ketika satu dapur mulai diam, hal itu menjadi kegelisahan bersama. Lomba-lomba saling membantu, bagi mereka yang sedang “punya”.

Di desa, konsep Durkheim ini bekerja tanpa seminar, tanpa modul, apalagi kontrak sosial yang dipajang di balai desa. Siapa yang hari ini disambati, besok paham diri untuk membantu. Resiprokal bekerja di sini.

Siapa yang pernah ditopang saat limbung, akan merasa tak enak hati jika suatu hari memilih berpaling. Rasa ketersalingan dan ingatan kolektif menjadi sistem pengaman yang jauh lebih efektif daripada asuransi mana pun.

Urun Rembuk Karl Polanyi dan James C. Scott dalam Rapat RT 

Bayangkan rapat RT di balai desa yang kursinya plastik semua, kopinya pahit, dan notulennya ditulis di buku tulis bergaris yang biasanya agak besar. Di forum sesederhana itu, saya mengajak Karl Polanyi dan James C. Scott untuk ikut nimbrung.

Bukan lewat sintesis rumitnya atau istilah ndakik-ndakik yang bikin dahi berkerut, melainkan lewat usulan-keputusan kecil yang terdengar remeh, seperti: “panen jangan dijual semua, sisakan buat tetangga sedikit”, “jangan mahal-mahal harga gabahnya kalau yang beli juga warga sendiri“, dan “kalau ada yang lagi seret, ya dibantu dulu, nanti urusan belakangan“. Di desa, ini tidak tercatat dalam aturan tertulis.

Polanyi barangkali akan tersenyum melihat bagaimana ekonomi desa tidak pernah benar-benar dilepas ke pasar. Di desa, urusan pangan jarang sepenuhnya ditentukan oleh harga, apalagi spekulasi. Ada, tapi masih manusiawi.

Beras tidak sekadar barang dagangan, melainkan penyangga hidup keluarga yang terkadang disisakan sedikit buat tetangga. Logika pasar yang kaku, seperti jual ke penawar tertinggi, sering kali dikalahkan oleh logika relasi sosial “sing penting tonggo teparo iso mangan.”

Sementara itu, Si James C. Scott akan mengangguk lebih mantap setelah melihat realitas sosial di desa. Prinsip subsistence ethic yang ia temukan dalam kehidupan petani, kini hidup nyata di laporan rapat RT itu.

Orang desa—meski tidak semua—tidak mengejar untung maksimal, melainkan keselamatan-kebahagiaan yang normal. Meski uang adalah tujuan, tapi bukan segala-galanya, setidaknya jangan sampai ada yang kelaparan.

Terdengar berlebihan, namun faktanya memang demikian. Ya …, meskipun ada satu atau dua yang pelit, medit, atau mbrekunung, itu wajar. Tapi, sistem masyarakat di desa tetap ra isanan terhadap lingkungan.

Maka, wajar jika panen dibagi, beras dipinjami, dan lauk disirkulasikan. Dalam moral sosio-ekonomi desa, membiarkan tetangga lapar bukan sekadar ketidakpedulian, melainkan pelanggaran etika yang tidak tercatat.

Di titik ini, rapat RT—yang saya ilustrasikan—berubah menjadi arena urun rembuk antara pemikiran besar dua tokoh ini: Polanyi yang menolak ekonomi lepas dari masyarakat dan Scott yang menegaskan bahwa rasa aman pangan lebih penting daripada laba.

Desa mungkin tidak pernah membaca buku mereka, tapi hidup persis seperti yang mereka maksud.

4 Alasan Orang Miskin di Desa Tak Bakal Mati Kelaparan

Berdasarkan realitas yang terjadi, setidak-tidaknya di desa saya, ada 4 alasan mengapa semiskin apa pun ekonomi orang di desa tidak bakal nelangsa kelaparan, bahkan mati oleh kosongnya perut. Antara lain:

  1. Warga bantu warga: Suka bagi-bagi hasil panen, meski sedikit.

Panen di desa jarang berakhir jadi barang timbunan di gudang. Padi, kacang, singkong, jagung yang sering disisakan untuk dibagi-bagikan. Kadang bukan karena melimpah ruah, tapi karena tidak puas jika menikmati sendiri.

Hasil panen bukan sekadar komoditas. Di sisi lain ada keluarga yang tak punya sawah, tapi tetap kebagian beras sebagai medium berbagi. Ada yang tak memelihara ayam, tapi tetap bisa makan telur.

Bagi hasil bukan soal untung-rugi, melainkan soal menjaga keseimbangan sosial agar tidak ada yang benar-benar kelaparan sendirian.

  1. Lahan sekecil apa pun, bisa jadi sumber hidup.

Pekarangan rumah-rumah orang desa adalah penyambung hidup. Bayam, cabai, terong, kangkung, daun singkong, pepaya, talas, hingga umbi-umbian tumbuh subur tanpa harus menunggu media mutakhir. Asal tanam, siram, dan jadi bahan pokok.

Yang lebih menarik, pekarangan ini tidak sepenuhnya privat. Tetangga bisa minta daun buat lauk atau sayur lain, pun saudara bisa mengambil singkong tanpa rasa bersalah. Di kota, ini mungkin tidak ditemukan. Namun, di desa, ini justru disebut bertetangga yang wajar.

  1. Peternakan dan perikanan juga tak mau kalah.

Saat harga protein hewani di kota bikin orang mikir dua kali, desa punya solusi sederhana, yakni pelihara sendiri. Ayam dan bebek bertelur tanpa banyak drama, dan kolam ikan meski kecil dan keruh, menyimpan cadangan lauk yang siap diambil kapan saja.

Tak ada regulasi seimbang versi brosur kementerian, tapi ada keberlanjutan pangan versi pengalaman. Lagi-lagi, kalau sudah panen, jatah buat tetangga tak mau lupa. Kebiasaan kecil, dilakukan konsisten, adalah cara desa yang tidak berketergantungan dengan kebijakan besar, yang terkadang tak masuk akal.

  1. Orang-orang di desa suka perayaan simbolik, tapi mberkati.

Uniknya di desa, orang-orangnya gemar merayakan apa saja. Mulai dari bersih desa, tujuhbelasan, selametan, khitanan, hajatan, hingga orang meninggal pun tak bakal dilewatkan. Selalu ada saja peringatannya.

Selain mengharap berkah—di balik doa dan ritual—secara vertikal, tidak luput juga berkatnya, seperti ada nasi, ayam ingkung, sayur, camilan, dan kadang daging kambing. Pulangnya hampir pasti membawa berkat; bonus kehidupan yang tidak pernah direncanakan.

Bagi orang yang sedang “seret”, acara desa adalah bentuk subsidi sosial paling konkret. Tidak tertulis di APBDes, tapi terasa di perut. Inilah cara desa memastikan bahwa hidup, seberat apa pun, tetap layak dijalani. Ini bukan kewajiban, tapi kesadaran.

Baca juga:

Desa sebagai Ruang Seni Bertahan Hidup

Desa memang—kerapkali—bukan tempat menumpuk kekayaan. Banyak warganya hidup pas-pasan, bahkan nyaris terkatung-katung, ekonomi pontang-panting, dan pikiran semrawut. Namun, desa punya keahlian langka, yakni membuat kemiskinan itu terlihat tidak terlalu mematikan. Kadang, hidup perlu pasrah dan menerima keadaan, setelah bertungkus lumus dengan pahitnya dunia. Takdir menjadi miskin di desa setidaknya bisa menunda kiamat karena kelaparan.

Semiskin apa pun jadi orang desa, mati kelaparan bukan skenario yang mudah terjadi. Selama sawah masih ditanami, pekarangan masih hijau, sambatan masih hidup, dan dapur tetangga masih terbuka, desa akan terus membuktikan satu hal bahwa, bertahan hidup tidak selalu soal uang, tapi soal bagaimana manusia saling tepa selira. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Asrori Pamungkas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email