Sasmita bahagia memiliki Ayah seorang pendongeng. Setiap ia melihat sesuatu yang menarik, ia akan meminta didongengkan Ayah tentang sesuatu itu, dan Ayah selalu memulai dongengnya dengan “pada suatu hari”. Ayah sungguh lihai meramu imajinasi. Sasmita selalu penasaran pada setiap dongeng yang akan disampaikan Ayah. Ketika Sasmita minta untuk didongengkan perihal kupu-kupu, maka Ayah akan berdongeng tentang gajah yang mempunyai sayap kupu-kupu. Ketika Sasmita minta untuk didongengkan perihal kecoak, maka Ayah akan berdongeng tentang seorang lelaki yang berubah menjadi kecoak.
“Pada suatu hari,” Ayah memulai dongengnya sore itu. Mereka sedang duduk di bangku taman yang terletak tidak jauh dari rumah. Sasmita melihat seekor burung yang sedang memberi makan pada anak-anaknya di sangkar pohon, dan seketika ia meminta didongengkan perihal burung. Ia menggoyangkan kaki mungilnya yang tidak menapak tanah ketika Ayah mulai mendongeng.
***
Seorang lelaki terbangun di kamar apartemennya dan menyadari kedua tangannya berubah menjadi sayap seperti burung. Ia sudah menantikan momen ini sepanjang malam, sepanjang hari, dan sepanjang waktu. Ia selalu membayangkan bagaimana rasanya terbang ke atas pucuk gedung yang setiap malam ia pandangi dari jendela kamar apartemennya. Pucuk gedung itu merupakan pucuk gedung tertinggi dari gedung-gedung lain yang berdiri di sekitarnya.
Sebelum ia terbang ke pucuk gedung itu, ia terlebih dulu belajar mengepakkan sayapnya beberapa kali. Tubuhnya terangkat sedikit demi sedikit hingga menyentuh langit-langit kamar. Ia tersenyum takjub menyadari dirinya benar-benar bisa terbang. Sesaat kemudian ia melesap melalui jendela kamar, menembus angin, dan seketika sampai di pucuk gedung. Ia melihat pemandangan kota dari ketinggian.
Keesokan malamnya ia kembali ke pucuk gedung itu, melihat lanskap kota yang penuh dengan rona cahaya. Kamar apartemennya terlihat begitu kecil dari sana, bagaikan kotak kecil ajaib yang menyala. Keesokan malamnya ia melakukannya lagi, berulang-ulang.
“Bagaimana reaksi orang-orang ketika melihatnya, Ayah?” tanya Sasmita. “Apakah ia bersembunyi dari orang-orang? Kalau memang begitu, bagaimana ia mendapatkan uang untuk makan?”
“Ya, ia bersembunyi dari orang-orang sejak sayapnya tumbuh. Ia sama sekali tidak keluar dari apartemennya kecuali melalui jendela kamar ketika hari sudah malam. Dan hebatnya, sejak sayapnya tumbuh, ia tidak merasakan rasa lapar dan haus.”
“Berarti ia tidak makan dan minum sama sekali?”
“Betul.”
“Hanya terbang?”
“Hanya terbang.”
***
Lelaki burung itu tentu saja bosan jika hanya terbang ke pucuk gedung tertinggi. Ia ingin terbang ke tempat-tempat lain. Maka terbanglah ia ke stadion bola, atap rumah ibadah, dan patung-patung bersejarah. Beberapa orang pernah tak sengaja melihatnya terbang, tapi mereka segera berpikir bahwa itu hanya ilusi, sebab di kota yang sudah serba maju itu, mereka tak lagi percaya dengan hal-hal aneh yang bersifat mistis, termasuk penampakan manusia burung.
Namun, semakin banyak orang yang pernah melihatnya terbang, semakin berubah pula situasinya. Lelaki burung itu mulai dibicarakan di berbagai tempat, dan orang-orang kota lambat laun percaya bahwa memang benar-benar ada sosok manusia bersayap.
Si lelaki burung tidak tahu bahwa ia sedang dibicarakan oleh orang-orang kota. Ia tetap saja terbang ke sana ke mari, hinggap sana hinggap sini. Hingga pada suatu malam, ia berniat terbang ke tempat yang menurutnya tempat terlarang. Tempat itu terlalu berbahaya untuk didatangi, bahkan untuk sekadar terbang di atasnya. Tempat itu adalah istana negara.
Ia tahu, jika ia pergi ke sana, ada banyak kamera pengintai yang akan merekamnya. Namun, hal itu bukan sebuah alasan untuk takut. Ia benar-benar ingin terbang ke sana, menikmati panorama kota dari tempat yang hanya bisa diakses oleh orang-orang terpilih beberapa tahun sekali.
Malam itu bulan nyaris purnama, dan ia benar-benar hinggap dan berdiri megah di atas istana bersama kedua sayapnya.
Benar saja. Tepat sehari setelah itu, koran-koran memberitakan tentang sosok manusia bersayap yang terlihat di atas istana. Berbagai jenis gosip berhamburan. Ada seorang pakar yang mengatakan bahwa manusia bersayap itu merupakan hasil eksperimen yang dilakukan negara secara diam-diam, dan si pakar menuntut negara untuk mengklarifikasi apa yang sebenarnya terjadi. Ada juga seorang tokoh agama yang mengatakan bahwa penampakan manusia bersayap itu merupakan tanda-tanda akhir zaman. Ia mengimbau semua orang untuk segera bertobat.
Namun, dua tokoh tadi hanya dianggap racauan oleh orang-orang kota. Mereka, orang-orang kota, terbiasa percaya pada pemerintah dalam hal apa pun, meskipun terkadang pemerintah berbohong.
Menteri Keamanan Negara mengatakan bahwa manusia bersayap itu merupakan teror dari negara sebelah. Pemerintah kini sedang memburu si sosok manusia burung. Orang-orang kota seketika waspada, dan tak sedikit dari mereka yang turut ikut berburu.
“Lalu bagaimana nasibnya, Ayah?” tanya Sasmita. Matahari perlahan turun. Ayah memberi jeda sebelum menjawab.
“Ia tertangkap di kamar apartemennya ketika sedang tidur. Kedua sayapnya dipotong di hadapan banyak orang. Lantas jasadnya dibuang ke laut.”
“Jahat sekali,” ucap Sasmita.
“Apakah manusia burung itu benar-benar sudah mati ketika jasadnya dibuang ke laut, Ayah?”
“Tidak ada yang tahu. Orang-orang kota menganggapnya sudah mati dan lambat laun mereka lupa akan peristiwa itu.”
Matahari memancarkan warna jingga. Bangku-bangku taman tampak mengkilap ketika lidah senja mencumbu dengan hangatnya. Dongeng sudah selesai. Ayah dan Sasmita pulang ke rumah.
Dongeng itu sangat berkesan bagi Sasmita. Ia kerap menggambar sosok manusia bersayap di selembar kertas dan dipajangnya di dinding kamar. Meskipun Ayah kerap mendongeng tentang hal-hal lain, tak ada yang lebih menarik selain tentang lelaki burung. Maka, ketika Sasmita minta untuk didongengkan tentang sesuatu, ia akan meminta dongeng yang ada hubungannya dengan burung. Ketika Sasmita melihat seekor jerapah di kebun binatang, ia meminta Ayah untuk didongengkan tentang jerapah yang memiliki sayap, atau jerapah yang berteman dengan seekor burung. Ketika Sasmita melihat seekor kucing di dapur, ia akan meminta Ayah untuk didongengkan tentang kucing yang bisa berkicau. Semuanya harus berkaitan dengan burung.
Suatu hari Sasmita menunjukkan hasil gambarannya tentang lelaki burung pada Ayah. Ayah seketika tersenyum dan memuji Sasmita dengan pujian paling manis.
“Seharusnya lelaki burung itu pakai topi, agar lebih mirip.”
“Memangnya dia pakai topi, Ayah?”
“Benar, ia memakai topi.”
Seketika Sasmita melihat kepala Ayah yang tertutup oleh topi berwarna biru.
“Baiklah aku akan menggambar lagi. Pakai topi,” ucap Sasmita sembari tersenyum.
Ayah mencium pipi Sasmita. “Anak pintar.”
***
Beberapa hari setelah itu, Sasmita sedang menggambar lelaki burung di kamarnya. Ia nampak sangat serius. Ia menggores kertas dengan sangat khidmat. Tak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa mengganggu keseriusannya.
Gambar itu selesai beberapa saat kemudian. Sasmita tersenyum. Lelaki burung itu benar-benar mirip.
“Kali ini Ayah pasti bakal senang. Aku sudah menggambar lelaki burung itu dengan sangat mirip. Aku tahu, lelaki burung itu adalah Ayah. Aku melihat Ayah terbang kemarin malam.”
*****
Editor: Moch Aldy MA

Haha, menarik. Ada kritik dikit-dikit masuklah, hehe.