Seorang musisi yang setengah waktunya menulis lagu, setengah lagi menulis kalimat yang tidak pernah tahu apakah ia puisi, catatan belanja, atau sekadar teriakan dalam huruf miring.

Doa-Doa yang Bercumbu di Bukit Palasari dan Puisi Lainnya

Mirza P. Wardhana

3 min read

doa-doa yang bercumbu di bukit palasari

hidup adalah kue kering, menyapa matahari
di kaki bukit palasari. hening yang bersiul
dengan nada yang tenggelam di balik duri

rembulan dan sembilan kerikil, telah ranggas
dibedil janari. sedang kita di sini
masih saja merayakan air mata dan wangi dupa

hidup adalah henri matisse, menggores kanvas
dan belati. nafas yang tersenggal-senggal
menunggu usai di selatan dago giri

telah kupeluk kayu jati, membakar lutut angin
dengan sedikit bela diri dan petikan gitar
lengkap dengan sejumput getir. lalu aku masih saja

menantang maut lewat puisi. menghantam, merajam, memeluk desir-desir mimpi. o sepatu-sepatu yang sedih, pulanglah ke arah mata air

pada matahari dan bunga aster, pada doa-doa yang mencumbu air hujan. dengan sebelas ayat
dan dua kesalahan. dan setelahnya, mungkin hidup

akan terasa tidak begitu penuh dengan kepedihan.

(in)sanity pt. 2

jam-jam retak yang berbisik —
tock. tick. talk. ada burung bicara dalam aljabar
sayap-sayap yang remuk tertindih
bulan berbentuk stroberi dan
lipstik berwarna merah muda yang selalu menjadi alamatku

(i keep loving her in the parentheses of a scrambled sentence)

!!! stop !!!
mesin kereta adalah bubuk kopi yang disulap —
menjadi teka-teki
berteriak lancang pada angin:
am i? or am i not?

bayanganmu mencorat-coret tembok kebingunganku
mata yang terbuat dari tanda koma
she lingers between my chaos and
a trembling sunrise
dengan warna rambut baru dan kecantikan yang sama

ini adalah tata cara untuk tetap hidup:

1. kupas kulit jeruk dengan siku
2. lipat waktu menjadi burung kertas
3. tertawa di depan cermin sampai menangis

t-t-tapi!
i will keep on loving you
di bawah badai yang harum parfummu malam itu
menjahit langit dengan namamu
dengan jarum yang terbuat dari madu

dan ketika langit mulai runtuh
seperti sobekan buku yang pernah terlupakan
kamu ada di sana, bertelanjang kaki
menari di tepi kewarasanku
du du du du duuu~

glossolalia

YAP ZÜNDO FLAXO!
the clock vomits parrots at the thirteenth hour —
e a c h feather a mirror
e a c h mirror a scream
e a c h scream her name sung backward
in the throat of a dying t y p e w r i t e r

(plink!) (plunk!) (plarnk!)
the jealous moons of jupiter undress slowly,
their craters filled with the teeth of strangers
i pluck an eyelash
whisper it into a jar
throw the jar into the atlantic
and wait for the ocean to spit back a reason

WROK WROK BLEEN!
the soup i stirred was her laughter —
a hundred boiling vowels without consonants to hold them
i drink it (anyway)
it tastes like the color she wore last wednesday
it tastes like cucumber

BZZZZZAG!
who gave the wind permission to touch your hair?
who taught the shadows to lean too close?
who drew her hand inside the palm of another?
i bite my own fingers
just to make them jealous of my teeth

GAZOOF! SPLANK! AAAAAAAHHHHH!
i want nothing, i want everything
i want to steal the silence from her absence
and wear it like a crown of paper ants
— the sky is upside down and burning
and still
still
still
her laugh crawls under my skin
(i like ttttttttttttttthat)

galathea

delapan mata-mata tertangkap di zanzibar
pelabuhan penuh daki para nelayan
sedang engkau berkuda; menjadi pilgrim
menembaki pesawat di atas hadramaut
pilot-pilot oleng selepas magrib
jam dua belas tepat dia terbangun
para kamerad rebahan di pinggir altar
kemeja prada dan suara lonceng gereja
kadang berizzzzzzik tapi you have to
ada juga socrates yang tersesat di pernambuco
dan para pelukis dada lagi rapat di situraja
gala and eluard eating tofu without ernst
selingkuh sama dali di figueres
tapi tanpa itu there will be no galatea of the spheres
atau portrait of galarina yang kulihat pas smp
and then edward james mati di sanremo
and he’s not to be reproduced kata rené
“therefore will I be grateful to die in this little room”

coblong manifesto

dalam marwah breton dan aragon
kita memupuk daun angin
sobekan kertas manifesto kedua
nyasar di kolong cikapayang
di antara botolan intisari dan lamunan
seorang kawan mampus diburu ribuan pertanyaan
hayang modar sia anjing?!
gauguin ngagorowok bari madot

ada angin segar datang dari ujung cala goloritzé
raphus cucullatus terbang membawa pesan
sejumput rindu dari barudak enragés di versailles
lupakan jacobin club karena itu sudah basi
lalu bangun-bangun sudah ada di dago
tatapan matamu masih ada nemplok di dinding
bareng sama wangi coklat di rambutmu

— kadang suka ngebayangin;
jacqueline lamba pernah gak ya makan di si bungsu?
sambil melukis walungan cikapundung
atau makan telor gulung di dipatiukur
terus pulangnya meluk andré di motor
di simpang dago merhatiin megatron

tapi ya
mending sama kamu
meskipun tanpa
sepoi angin palombaggia

imaginist sonnet

ada picabia semalam
memandangi beton-beton imajiner
air matanya mengalir berkilauan
at ten past three terlentang telanjang
ba’da dzuhur wanginya berubah
santalum di seluruh ruangan
lavender menyusul sebelum jam tiga
melewati pagar karat di jalan gempol
little contrast has already closed
no caffeine for tonightsaid soupault
ada lagu terdengar di ujung pohon sheoaks
lætitia bernyanyi french disko
teriak “la resistance!” sambil bersyukur pada ’68
waktu dulu nongkrong di nanterre
mengenang debord dan deleuze
minum wine dan kacang sukro
standards of value are internal or immanent

memaki puing-puing reruntuhan kota
koktail molotov dan sebagainya
ninyuh kopi sambil ngaheot georges delerue
mencumbu kota with psychogeography
asger jorn lagi tari piring di dago asri
what’s meaningless isn’t meaningless anymore
lagi-lagi feeling discontent
terlalu banyak diksi dan sanguinetti
reungit-reungit yang beterbangan
dua atau tiga botol intisari dengan iringan santamonica
serasa dibaptis astrud gilberto kw super
sudah lama tidak ke le pauvre
melafalkan sonnet untuk diriku

*****

Editor: Moch Aldy MA

Mirza P. Wardhana
Mirza P. Wardhana Seorang musisi yang setengah waktunya menulis lagu, setengah lagi menulis kalimat yang tidak pernah tahu apakah ia puisi, catatan belanja, atau sekadar teriakan dalam huruf miring.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email