Abdul Turgenev, menetap di Jakarta. Suka bikin puisi di Instagram @abdulturgenev. Koresponden: abdlturgenev@gmail.com

Blues Oktober dan Puisi Lainnya

Abdul Turgenev

2 min read

Simpang Makna
L’enfer, c’est les autres

tigapuluh makna di pinggir jalan terbelah,
seperti kelopak bunga yang digigit angin,
diganggu sintaksis berkaki dua
— yang kadang menjualnya
dengan harga sehelai napas.

“Ah, nona, tak bisakah berhenti sejenak?
Kecantikan jarang tahu bahwa ia telah lewat.”

Patahan morfologi mengintai di sudut-sudut,
fonem terjerat lidah umpatan,
menyisakan keheningan
yang terasa lebih kejam dari suara.

“Aku sudah bilang, jangan kita lakukan.”

“Ini salah siapa? Diam…
tawa tidak lahir dari bibir
yang kering oleh dusta.”

Satu purnama, dua, tiga purnama—
makna menjadi pesta pora ambisi purba,
mengutuk nama tanpa menyentuh wajah.

Wacana, dengan setengah hati,
mengandung janin institusi,
dengan denyut curiga dan nyeri yang indah.

Jarak setinggi bumi dan langit
menjadikan makna ragu pada dirinya sendiri.

Ratusan makna di pinggir jalan tertawa,
ditemani sintaksis berkaki dua
yang melukai citra seperti kaca berembun,
dan menumbangkan rasa percaya
— meski hatinya, diam-diam,
telah lama penuh curiga.

(2025)

Blues Oktober

1.900 kilometer kenangan di kamar mandi
gugur seperti daun mangga
tanpa salam, tanpa basa-basi
di keramik sunyi, aku retak sendiri.

5.500 istilah cinta dalam puisi
cuma takhayul surga yang lapar dan sepi.
nyaman menjelma tragedi
kebahagiaan: fatamorgana diri sendiri.

1.900 kilometer kenangan di kamar mandi
merindukanmu dengan luka dan tragedi.
darah mendidih, nyawa ereksi
di tengah doa yang tidak lagi suci
entah kenapa, justru itu membuatku sedih.

cintaku sudah meledak
seperti doa yang ditolak.
aku tak tahu mengapa
cinta selalu berakhir putus asa.
mungkin karena sebenarnya
aku pun tak tahu:
kenapa aku mencintaimu?

meski, aku belum puas mengembara mitos
ciuman adalah jendela nafsu yang haus
dan kebahagiaan hanyalah ucapan
dalam tidur-tidur pengantin
yang diam-diam menangis.

1.900 kilometer usaha kandas
ditikam waktu, budaya, dan batas.
kau terlalu mudah melupakan kisah—
seperti puisi yang dibakar sebelum dibaca.

keinginan dan kebutuhan itu jelas beda.
tapi sejak cinta menyala di dada
bukankah kita percaya padanya
meski remuk oleh maknanya?

aku merindukanmu karena
cinta dan nafsu tak ada beda
kecuali tangis yang mengetuk dada
dan mengalir pelan
hingga kita tak bisa bersama.

entahlah—aku tetap merindukanmu
walau jarak dan waktu membelenggu.
budaya cinta tak kupahami sepenuhnya
tapi aku tahu:
1.900 kilometer rinduku padamu
adalah jalan sunyi yang kutempuh,
hingga waktu sendiri menjelma tubuh
yang rapuh, dan tak lupa semua itu.

(2025)

Berburu Nenek Moyang

Bangkitlah, Iblis maritimku.
Bukan dari neraka,
tetapi dari palung arsip yang tenggelam
di bawah reklamasi dan pertambangan.
Bangkitlah dari ombak birahi
yang disucikan menjadi wisata
dan dikhianati menjadi statistika.

Bangkitlah dari surga etis,
yang mengubah doa menjadi kampanye,
yang membotolkan cinta leluhur
menjadi parfum “heritage“.

Aku tidak memanggilmu dengan dupa,
tetapi dengan puing-puing nama
yang dihapus dari buku pelajaran
dan ditanam diam-diam di lubang tambang.

Engkau, yang tak disebut dalam konstitusi,
yang tubuhnya tersebar di gugus pulau—
namamu adalah luka.
Namamu adalah mitos yang tidak diakui
oleh kurikulum atau kebudayaan.

Bangkitlah, arkipelagi purba,
yang tersimpan dalam ciuman batu karang,
dalam sunyi pelabuhan yang ditinggalkan kapal-kapal pengangkut batu bara.

Di mana harimau Sumatra?
Yang dulu dijanjikan dari hikmah,
dan cakarnya dari kesabaran bumi?
Yang kini tinggal motif pada batik
dan museum yang tak dikunjungi?

Aku mencari jejakmu
di wajah-wajah buruh migas
yang keningnya mencium batu bara
seperti mencium ayat terakhir
dari sebuah kitab
yang terbakar di perbatasan.

Aku menulismu, Iblisku,
dari reruntuhan Indonesia
yang hanya hadir sebagai sinyal,
bukan sebagai tubuh.
Yang hadir sebagai berita,
bukan sebagai rumah.

Dan dari tumpukan arang,
di antara pecahan teko dan
buku sejarah tanpa pengarang,
aku temukan satu sobekan puisi,
yang selalu berbisik:
“Nenek moyangku siapa?”

Siapa yang masih utuh hari ini?
Siapa yang tidak tercerai-berai
oleh kartu identitas dan kontrak kerja?

Bangkitlah, Iblis maritimku,
dari suara-suara yang diredam
dan dari nama-nama yang hilang
dalam daftar pemakaman massal
tanpa penanda.

Bangkitlah
seperti doa yang menolak diformat,
seperti peta yang menolak dilipat.

Bangkitlah
seperti sumpah lama
yang tertulis dengan darah
di kulit kayu,
bukan di naskah akademik.

Aku menunggu kamu
di perbatasan antara laut dan ingatan,
antara bahasa ibu dan sensor.
Aku menunggu kamu
untuk menjawab satu kalimat:
“Apakah aku masih memiliki nenek moyang?”

Bangkitlah, Iblisku.
Bangkit, bukan untuk membakar,
tetapi untuk menuntut
asal kita yang dipalsukan.

(2025)

*****

Abdul Turgenev
Abdul Turgenev Abdul Turgenev, menetap di Jakarta. Suka bikin puisi di Instagram @abdulturgenev. Koresponden: abdlturgenev@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email