Di Kota Ini dan Puisi Lainnya

Ilham Oktafian

1 min read

YANG MUNGKIN HILANG
buat K

Lampu tugur
kukaitkan sebuah sajak
tentang keterasingan
dan kehilangan yang tiba-tiba

Dalam jeda kesendirianku
aku lalu mengingatmu sekali lagi
lagu anti perang yang kita cakapkan
terdengar lirih menjauh
menuju serdadu pulang sauh
di mana mereka meletakkan baju bersihnya di dermaga

Tapi
mungkinkah kita akan menuju ke sana?
saat wajah bumi masih riuh oleh gas
sementara bait-bait Paul Eluard telah menyerah
oleh serangkai mesiu dan pertempuran
lalu kau dan aku disebut lahir kembali

Langit telah jatuh diantara keningmu
kemudian cahaya meredup
aku memandang jendela,
– pesta matahari telah usai
dan kau tak ada

(2025)

DI KOTA INI

Di kota ini,
Tuhan telah turun dengan warna jubahnya yang tebal
seorang anak bergegas dari pintu kertas
meninggalkan sisa makanan,
boneka bekas
dan tanda sebuah nasib yang dipermainkan

Malam lalu lindap
sedetik kemudian
warna arang itu datang lagi
dengan suara sunyi
menatap mata ibunya yang terkapar

Di kota ini,
Tuhan menjemput si miskin yang mati.

(2025)

KAU BELUM SELESAI
buat P

Bintang mati
kubenamkan seribu bahasa kehilangan
yang membayang di wajahmu
sebuah angin purba
membentur-benturkan rindu
tentang dongeng kuda resah dari nafasmu
kemudian tiada memberinya angan

Dik,
aku masih ingin menuju kamar Tuhan
di mana kau dan aku saling menatap
sebelum ciuman yang basah menyebabkan sorga gemetar

Dik,
aku masih ingin menuju serbuk rembulan
di mana lima abad melebar jauh
ke arah tubuhmu
yang senja abu-abu

(2025)

BLORA

Rembulan tak lama lagi
satu persatu nama akan menuju tubuhmu
satu persatu doa akan menuju langitmu
aku akan pasrah

pada lembar jerami dan daun-daun rosela…
aku menunggumu di tempat ini,
tanpa kota, dan lampu murung seperti nasibmu.

Aku ingin mengingat
kabar petani yang mati tengah hari
aku ingin menuju jantungmu
tanpa merah dacin, dan sisa petang di pohon saman

Kampungku…
batu-batu yang menggenang pada daun-daun jati,
kita akan tidur di sini
di ruang ini
tanpa duka
tanpa luka…

(2017)

ZIARAH

50 tahun setelah kematiannya
sebuah ajal masih terpisah dengan kepergian
maut belum membuatnya mati
benar kata bundanya
di sini anaknya ditimbun berdesakan pada hujan merah 1965
matanya masih basah
saat ia memahat nisannya sendiri
saat ia mencatat tanggal kelahirannya sendiri
sehimpun gulma dengan darah mengental
lalu memberinya arti: siapa yang lebih berdosa diantara kami?

Ia goyangkan dahan liar
suaranya mengerang
menggenapkan dendam

Dan 50 tahun setelah kematiannya
tulang rusuknya masih telanjang
sementara rohnya mengembara ke mana saja
sebab ingatannya belum rabun
saat ujung senapan dan harum rumput saling mendahului
dari doanya yang setengah putus asa

Ia masih berangan-angan kawannya dikuburkan satu-satu
meninggalkan jasadnya yang kesepian

Ia sendiri?
tak berharap apa-apa
barangkali, desisnya padaku
lupakan itu dahlia, anyelir atau kamboja
ia hanya ingin di sini bersama kembang jati
persis lanskap makam perempuan sederhana
yang tabah melahirkannya

(2014)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Ilham Oktafian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email