Cinta Kita dan Puisi Lainnya

renaldi septian

1 min read

Kuminta Ketulusanmu

Apakah kamu mau bercinta dengan rasa lapar?
Dengan kehausan dan kemiskinan yang tak usai-usai?

Sudikah cinta kita dibagi dua, pada piring plastik berwarna kelabu
dan gorengan apek sisa orang-orang kaya?

Jika takut mati,
Aku tawarkan kematian kita pada bandar judi, pada bos-bos
necis di atas kolong jembatan

Tak apa, cinta kita akan abadi pada mulut pembual

Dan kematian kita akan kekal menjadi angka-angka
di kantor kecamatan

Kalau mau, aku akan langsung pinang kau dengan
seperangkat omong kosong.

Cinta Kita

Mari kita berkembang biak, banyak-banyak
Mari kita bangun umat-umat kita
Lalu aku jadi tuhan dan kau wakilnya
Kita buat apa pun kalau kau mau
Surga yang ada kita
Istana yang ada kita
Atau kebun apel yang ada kita

Anak-anak kita akan jadi raja-raja
Kuasa kita adalah segalanya
Umat kita bebas berbuat apa saja
Hanya satu yang kita larang,
“Ada cinta yang lebih besar dari cinta kita”

Setelah itu,
Kita hanya bercumbu seumur hidup.

Bercumbu

Kita akan bercumbu dari waktu ke waktu
masa ke masa
Hanya aku dan kau, dan kau dan aku
Terus bercumbu, dan bercumbu

Ini cinta kita
Ini cinta yang telah kau rampas dari segala birahi
dan hari-hari yang banal

Maka
Mari kita terus bercinta dan bercumbu
Bercumbu dan bercinta
Tanpa hierarki apa pun
Tanpa patriarki
Tanpa feminisme
Tanpa kapitalisme
Tanpa marxisme
Tanpa sufisme
Tanpa kanan atau kiri

Kita hanya akan bercumbu
Dan akan terus begitu

Awas!

Awas ada negara di ranjang kita
Ia menyelinap begitu saja pada malam pertama
kita bercinta

Ia diam-diam merayap, gesit, dan fasis
Menjelma menjadi kondom dan tisu ajaib
Ia tak mau kita bercinta lama-lama

Amankan cinta kita!
Amankan mimpi kita!

Jangan mau cinta kita dibeli
Cinta kita resmi, murni, dan orisinil

Aku Akan Mencintaimu

Aku akan mencintaimu
Dari batu bara yang kau genggam seumur hidup
Aku akan mencintaimu
Dari doa-doa yang sesak dan tuhan yang kau bela
Aku akan mencintaimu
Dari asap tembakau yang tersusun oleh para tengkulak yang picik
Aku akan mencintaimu
Dari darah-darah yang tumpah sepanjang Jogja dan Jakarta
Aku akan mencintaimu
Dari rumah yang rubuh, tanah yang kisruh, air mata yang keruh
Aku akan mencintaimu
Dari sepatu tentara yang tercetak pada kepala rakyat jelata
Aku akan mencintaimu
Dari mereka yang hilang
Dari mereka yang mati oleh birokrasi
Dari mereka yang mati kelaparan
Dari mereka yang mati terlindas barisan
Dari mereka yang mati disikat anjing-anjing kekuasaan

Aku akan mencintaimu
Aku akan mencintaimu

Kekasihku,
Sungguh, aku akan tetap mencintaimu
Dari negara yang sebentar lagi bubar.

*****

Editor: Moch Aldy MA

renaldi septian

Kewawasan

May Wagiman May Wagiman
3 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email