Belajar Kemanusiaan dari Riyanto

Abdur Rahmad

2 min read

Apakah kasih dan keberanian bisa tumbuh di tengah ancaman teror yang mencoba memecah belah kita? Pertanyaan ini menjadi cermin penting ketika kita merenungkan kembali kisah Riyanto, seorang anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang dengan sukarela menjaga keamanan Gereja Eben Haezer Mojokerto pada malam Natal 24 Desember 2000 — dan gugur saat keberaniannya diuji oleh sebuah bom yang meledak di tangannya.

Peristiwa yang terjadi lebih dari dua dekade lalu itu bukan sekadar tragedi terorisme seperti banyak yang kita baca di berita. Kasus bom yang meledak saat kebaktian Natal itu adalah bagian dari serangkaian serangan bom di berbagai gereja di Indonesia pada saat itu, termasuk di kota-kota besar lain, akibat radikalisme yang tengah tumbuh dan mencoba menciptakan ketakutan antar umat beragama.

Namun lebih dari itu, sosok Riyanto justru menjadi simbol melampaui perbedaan. Ia bukan aparat militer ataupun polisi yang dilatih khusus menghadapi bahan peledak. Ia hanyalah seorang pemuda berusia 25 tahun yang menunjukkan bahwa kemanusiaan bisa lebih kuat daripada sekadar identitas agama atau kelompok.

Baca juga:

Ketika sebuah bungkusan mencurigakan ditemukan di luar gereja, Riyanto tanpa ragu membuka paket itu dan mengetahui bahwa itu adalah bom. Ia kemudian berteriak agar jemaat berlindung dan mencoba menjauhkan bungkusan tersebut dari kerumunan. Bom itu kemudian meledak di tangannya, menghancurkan tubuhnya tetapi menyelamatkan puluhan, mungkin ratusan orang yang tengah merayakan malam Natal.

Cerita ini bukan hanya kisah heroik seorang individu. Ini adalah pelajaran penting bagi kita sebagai bangsa yang majemuk — bahwa tindakan berani dan tulus tanpa pamrih bisa menjadi perekat bagi keberagaman yang selama ini sering diuji oleh berbagai kepentingan. Pada saat ini, ketika intoleransi dan polarisasi sosial masih menjadi tantangan di sejumlah sektor masyarakat, teladan Riyanto relevan untuk terus diingat dan direnungkan.

Data dari riset terhadap Banser dan pluralisme menunjukkan bahwa keterlibatan Banser dalam menjaga tempat ibadah non-Muslim pada saat perayaan besar bukanlah kejadian yang terisolasi, melainkan bagian dari spirit menjaga kerukunan dan persaudaraan di Indonesia. Perilaku tersebut muncul sebagai reaksi terhadap ancaman terrorisme, sekaligus sebagai wujud penghormatan terhadap hak beribadah setiap warga negara.

Lebih jauh lagi, penghormatan atas pengorbanan Riyanto tidak hanya muncul dari satu pihak saja. Ratusan bahkan ribuan orang dari komunitas gereja dan elemen masyarakat sipil secara rutin mengenang dan mendoakan jasanya setiap tahun. Ini menunjukkan bahwa penghargaan atas keberanian antarpemeluk agama mampu melampaui batas-batas sektarian.

Namun, di tengah semua itu, kita juga perlu bertanya: apakah kita telah benar-benar mengambil pelajaran dari kisah ini? Apakah keberanian untuk mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan, seperti yang ditunjukkan Riyanto, telah tercermin dalam tindakan nyata kita sehari-hari dalam menghadapi perbedaan? Ataukah kita justru terjebak dalam diskursus yang hanya memuji keberanian tanpa menindaklanjuti dengan komitmen memperkuat solidaritas sosial secara struktural?

Sebagai opini pribadi, saya melihat bahwa teladan Riyanto harus menjadi bagian dari pendidikan moral dan kebangsaan kita. Bukan semata karena itu merupakan kisah heroik, tetapi karena ia menggambarkan sebuah prinsip dasar kemanusiaan: bahwa setiap nyawa memiliki hak untuk dilindungi, apapun latar belakang agama atau identitasnya. Keberanian Riyanto mencerminkan sikap yang seharusnya diinternalisasi oleh seluruh elemen masyarakat — polisi, TNI, organisasi masyarakat, sampai individu biasa, bahwa mempertahankan toleransi adalah tugas bersama.

Baca juga:

Kita sering berbicara tentang pluralisme sebagai konsep abstrak, tetapi Riyanto menunjukkan bahwa pluralisme bukan sekadar teori: ia adalah tindakan nyata yang bisa berujung pada pengorbanan hidup. Dalam konteks Indonesia hari ini, di mana dampak globalisasi, polarisasi politik, dan eksistensi kelompok ekstremis belum sepenuhnya hilang, pelajaran dari kisah Riyanto menjadi sangat penting. Kita harus terus mengingat bahwa menjaga keberagaman bukan hanya urusan simbolik semata, tetapi memerlukan keberanian moral yang konkret.

Akhirnya, sesungguhnya yang paling kita butuhkan bukan hanya cerita heroik yang dibaca sekali setahun menjelang Natal atau peringatan Haul Riyanto. Kita butuh semangat yang diambil dari cerita itu untuk terus memperkuat komitmen pada nilai-nilai Pancasila, untuk memastikan bahwa setiap warga Indonesia merasa aman, dihormati, dan terlindungi — sama seperti yang telah dilakukan Riyanto pada malam itu. Semoga kisahnya tidak hanya dikenang sebagai sejarah, tetapi menjadi inspirasi hidup yang nyata bagi kita semua. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Abdur Rahmad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email