S. Sigit Prasojo, lahir di Ponorogo. Ia adalah santri di Pondok Pesantren An-Najiyah Ponorogo, aktif di Himpunan Mahasiswa Penulis STKIP PGRI Ponorogo.

Bawah Bantal dan Puisi Lainnya

S. Sigit Prasojo

1 min read

Asbak

Asbak itu masih penuh
dengan abu yang tak sempat dibuang.
Satu batang sisa
teronggok seperti janji
yang patah di tengah napas.

Ayah dulu merokok
bukan karena candu,
tapi karena kesedihan
tak punya cara lain
untuk keluar dari mulutnya.

Sekarang, asbak itu diam,
tapi tiap malam
masih kutangkap bau rambutnya terbakar
oleh pertanyaan-pertanyaan
yang tak pernah dijawab ibuku.

Dan aku duduk di sampingnya
seperti anak baik
yang pura-pura tidak tahu
kenapa lelaki bisa sekarat
di depan televisi
tanpa menangis.

(Ponorogo, Juni 2025)

Seprai Darah

Seprai itu
masih kusimpan—
dengan noda darah kecil
di pojok kanan bawah.

Itu bukan milikmu,
bukan pula milikku,
tapi milik cinta
yang tak tahu kapan harus berhenti
menyakiti satu sama lain.

Kuingin mencucinya,
tapi tiap kali air menyentuh,
noda itu berubah jadi suara:
teriakanmu,
helaan napasku,
dan pintu yang kau banting
dengan nama Tuhan di ujung lidah.

Jadi kubiarkan ia menguning,
seperti kenangan
yang terlalu setia
untuk dibersihkan.

(Ponorogo, Juni 2025)

Kaset Rusak di Laci Buta

Ada kaset di laci
yang sudah tak bisa diputar,
tapi aku masih menyimpannya
karena suaramu
masih tinggal di gulungan pita.

Waktu kita tertawa,
bernyanyi lagu lama,
dan tak sadar
bahwa tawa pun bisa menjadi racun
jika tak diucapkan pada waktu yang tepat.

Kaset itu kusayang
lebih dari tubuhku sendiri,
karena hanya dari situlah
aku bisa mendengar diriku
bahagia.

Dan sekarang,
tiap kudengar kekrakan pita,
aku tahu:
bahagia pun bisa pecah
jika disimpan terlalu lama.

(Ponorogo, Juni 2025)

Dinginmu di Rak Tengah

Di kulkas itu,
masih ada dua mangkuk sup
yang tak sempat kauhangatkan.

Ada sepasang sendok,
dan secarik kertas kecil
berisi catatan belanja
dan satu kalimat:
“jangan lupa, kau dicintai.”

Tapi malam itu,
kau tak pulang.
Dan kulkas ini
menyimpan malam
seperti peti es
bagi cinta yang gagal.

Kini, tiap aku membukanya,
udara dingin menyergap
seperti pelukan yang tertunda,
dan sayur itu membusuk
tanpa pernah sempat diucapkan
dengan suara.

(Ponorogo, Juni 2025)

Bawah Bantal

Ada gunting
yang kau sembunyikan di bawah bantal—
bukan untuk membunuh,
katamu,
tapi untuk berjaga
jika aku lupa
cara mencintaimu.

Dan aku memang lupa.
Lupa cara menyebut namamu
tanpa nada tinggi,
lupa bahwa tubuhmu
bukan ladang perang
bagi trauma-traumaku.

Tapi malam itu,
kau tak pakai guntingnya.
Kau hanya tidur lebih dingin
dari biasanya,
dan sejak itu
aku tahu:
tak semua luka berdarah.

Beberapa
hanya diam
dan menatapmu
sampai kau tak tahan lagi

melihat dirimu sendiri.

(Ponorogo, Juni 2025)

*****

Editor: Moch Aldy MA

S. Sigit Prasojo
S. Sigit Prasojo S. Sigit Prasojo, lahir di Ponorogo. Ia adalah santri di Pondok Pesantren An-Najiyah Ponorogo, aktif di Himpunan Mahasiswa Penulis STKIP PGRI Ponorogo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email