Jadilah baik tanpa harus merasa lebih baik dari siapapun.

Banjir Sumbar-Sumut-Aceh dan Perdebatan tentang “Takdir”

Thaifur Rasyid

3 min read

Di sebagian besar daerah di Indonesia, bencana alam selalu tiba seperti ketukan yang tidak ingin kita dengar namun sudah kita hafal nadanya. Kita menyebutnya musibah, sebuah kata yang sekaligus mengandung kepasrahan dan pengunduran diri. Namun beberapa minggu terakhir, ketika banjir bandang melanda Sumatera Barat, Sumatera Utara, hingga Aceh, kata itu kembali terasa terlalu ringan.

Di antara lumpur dan serpihan rumah yang hanyut, warga menemukan sesuatu yang tidak bisa diabaikan begitu saja: tumpukan kayu gelondongan. Bukan ranting. Bukan batang rubuh yang terbawa arus. Melainkan kayu utuh-diameter besar, rapi terpotong, bekas-bekas industri yang tak sepantasnya berada di dalam tubuh sungai.

Baca juga:

Ada momen tertentu dalam sebuah bencana ketika sungai seolah berbicara. Tidak dengan kata-kata, tetapi dengan barang-barang yang dibawanya. Dan apa yang ia bawa kali ini bukan sekadar sampah atau lumpur. Ia membawa bukti.

Di Mana Takdir Berhenti dan Keputusan Manusia Berbicara

Di pemberitaan, kita mendengar berbagai nada: “cuaca ekstrem,” “intensitas hujan yang meningkat,” “fenomena iklim global.” Semua benar. Tidak ada gunanya menyangkal bahwa dunia sedang mengalami percepatan krisis iklim. Namun dalam tragedi kali ini, ada kenyataan lain yang membuat kita harus berhenti sejenak dan menyusun ulang kalimat yang selama ini begitu otomatis kita ucapkan: Mungkin ini sudah takdir Tuhan.

Kita menyebut badai sebagai takdir karena kita tidak mengendalikannya. Kita menyebut gempa sebagai takdir karena kita tidak bisa mencegahnya. Tetapi penebangan liar, pembukaan lahan tanpa kendali, perdagangan kayu gelap, dan pembangunan yang menutup mulut-mulut sungai-semua itu bukan takdir. Itu keputusan. Keputusan yang diambil oleh manusia, sering kali secara sadar, dan hampir selalu demi keuntungan jangka pendek.

Jika ada yang perlu kita pertanyakan ulang, mungkin bukan “mengapa Tuhan memberikan bencana?” melainkan “siapa saja yang selama ini merasa cukup nyaman bersembunyi di balik kata takdir?

Setiap wilayah yang terkena banjir memiliki ceritanya sendiri, tetapi pola besarnya serupa. Di hulu sungai, hutan-hutan yang dulu bekerja tanpa keluhan kini compang-camping. Di lereng-lereng yang seharusnya ditopang akar, tanah menjadi rapuh seperti lembaran kertas basah. Ketika hujan turun, ia tidak lagi meresap perlahan-ia berlari. Ia menuruni bukit, menggulung batu, kayu, dan apapun yang berada di jalurnya.

Hal yang menarik-dan memilukan adalah bahwa warga di hilir sebenarnya selalu tahu. Mereka tidak butuh istilah “degradasi ekosistem.” Mereka hanya tahu bahwa sungai tidak pernah membawa potongan kayu selebar itu kecuali ada yang berubah di atas sana. Mereka tahu suara hujan hari itu tidak wajar, karena mereka mendengar deru lain yang tidak pernah muncul kecuali hutan sedang disakiti.

Tetapi pengetahuan warga, seberapa pun jelas, selalu kalah cepat dari keheningan yang lebih besar: keheningan birokrasi, keheningan perusahaan, dan keheningan orang-orang yang mengambil untung dari pembabatan hutan.

Di beberapa desa, warga sempat bertanya-kepada siapa pun yang mau menjawab mengapa ada kayu yang seakan sudah menunggu di jalur air. Ada dugaan bahwa kayu-kayu itu “parkir” di dekat aliran sungai sebelum diangkut. Ketika banjir datang, semuanya hanyut, seperti arsip yang sengaja direndam agar bukti hilang bersama keruhnya air.

Baca juga:

Kita tahu pemerintah daerah dan pusat pasti sedang menyelidiki. Kita tahu laporan akan keluar. Tetapi kita juga tahu, dari pengalaman berbagai bencana sebelumnya, bahwa sungai sering kali lebih jujur daripada laporan resmi.

Ada bagian tertentu dari tubuh manusia yang disebut refleks moral. Ia muncul ketika sesuatu yang kita lihat tidak sesuai dengan apa yang seharusnya. Saat warga menemukan kayu-kayu itu, refleks itu muncul dalam bentuk sederhana: “Sepertinya ada yang salah.” Dan kadang, kalimat sesederhana itu adalah titik awal dari kebenaran yang lebih besar.

Di ruang publik, muncul kembali pertanyaan lama: “apakah bencana adalah bagian dari takdir Tuhan?

Ini pertanyaan yang selalu muncul karena ia menyentuh ketidakpastian paling dasar manusia. Namun masalahnya, kita kerap melompat terlalu cepat ke jawaban yang paling nyaman. Dengan mengatakan “takdir,” kita merasa sudah menuntaskan urusan. Kita tidak harus bertanya siapa yang menandatangani izin, siapa yang membiarkan pembalakan terjadi, siapa yang menutup mata, atau siapa yang mendapatkan keuntungan dari hutan yang mendadak gundul.

Padahal mungkin jika kita jujur pada diri sendiri, Tuhan tidak perlu mengirimkan bencana untuk menghukum manusia. Kita sudah cukup mampu menciptakannya sendiri.

Sungai Sebagai Saksi

Bencana memang mengandung unsur alam yang tidak dapat kita kendalikan. Tetapi dampaknya seberapa parah ia memukul sering kali ditentukan oleh kebijakan yang kita buat, pilihan yang kita biarkan, dan pembiaran yang kita tutup-tutupi.

Hujan adalah ekosistem alamiah. Kayu gelondongan di tengah sungai adalah cerita lain. Dan kita seharusnya bisa membedakan keduanya.

Dalam gaya jurnalisme modern, ada satu prinsip sederhana: ikuti alurnya, dan lihat siapa yang berdiri di tempat yang kering. Pada kasus banjir Sumbar-Sumut-Aceh, jika kita mengikuti alurnya secara harfiah maupun metaforis kita akan menemukan bahwa air bukan hanya membawa lumpur, tetapi juga tanda petik besar: “Ada yang tidak beres”.

Namun, seperti banyak peristiwa lingkungan di Indonesia, ada bahaya lain yang selalu datang setelah bencana: bahaya lupa.

Kita cenderung bergerak cepat. Begitu air surut, begitu berita baru datang, begitu perhatian publik pindah, semua kembali seperti semula. Orang-orang yang seharusnya bertanggung jawab kembali berjalan ringan di koridor-koridor kekuasaan. Izin-izin kembali diteken. Hutan kembali dibuka. Dan sungai kembali menyimpan rahasia yang hanya menunggu hujan berikutnya untuk membongkarnya lagi.

Ini, tentu saja, bukan skenario yang Tuhan tulis. Ini skenario manusia yang terlalu terbiasa hidup dalam sirkuit bencana.

Saat menulis ini, ada satu gambaran yang tidak bisa saya lepaskan: batang-batang kayu yang menumpuk di tikungan sungai, seperti barisan mayat dari hutan yang sudah kehilangan rumahnya. Mereka bukan hanya korban; mereka adalah saksi.

Dan seperti semua saksi, mereka membawa pesan: Jika kita tidak mengubah sesuatu, sungai akan berbicara lagi. Dan suaranya tidak akan lebih lembut dari ini.

Bencana memang mengingatkan kita pada kebesaran alam. Tetapi ia juga mengingatkan kita pada hal yang jauh lebih dekat: bahwa pilihan manusia, jika dilakukan tanpa moral, dapat mengalahkan peringatan apa pun dari langit.

Di akhir hari, pertanyaannya bukan lagi “apakah banjir ini takdir Tuhan?” Melainkan : “berapa banyak dari bencana ini sebenarnya adalah hasil dari tangan kita sendiri dan mengapa kita begitu cepat menyebutnya sebagai takdir agar tidak perlu menatap cermin terlalu lama?“. (*)

 

Editor; Kukuh Basuki

Thaifur Rasyid
Thaifur Rasyid Jadilah baik tanpa harus merasa lebih baik dari siapapun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email