Perut yang Berdoa
Perutku berdoa setiap subuh.
Bukan karena lapar,
tapi karena rindu akan sesuatu
yang tak bisa dikunyah dan ditelan.
Ia berzikir pelan,
kadang bersuara seperti air mendidih
di panci yang lupa dimatikan.
Perut ini hafal doa-doa pendek,
terutama doa
yang diam-diam dibisikkan Ibu
setiap kali nasi tinggal jadi debu.
Suatu malam,
ia bermimpi jadi mushaf kecil,
diselipkan di balik daster
dan dibacakan setiap kali utang datang mengetuk pintu.
Aku pernah tanya:
Kau berdoa untuk apa, wahai perut?
Ia menjawab,
Agar mulutmu berhenti membohongi Tuhan
dengan doa yang kau hafalkan di luar kepala
tapi tak pernah dicerna oleh lambung cahaya.
–
Anak yang Tak Pernah Lahir
Mereka jatuh cinta,
tapi tak sempat jatuh tempo.
Tak punya rumah,
tapi sudah sibuk pilih-pilih nama anak.
“Kalau lahir nanti,
mau kita sekolahkan ke mana?”
“Ke TK yang banyak mainannya, dong!”
“Tapi kita belum punya kasur, sayang.”
“Anak kita nggak butuh kasur,
ia tidur di pelukan kemungkinan.”
Tiap malam mereka bercerita
pada anak yang belum sempat dibikin.
Anak itu duduk manis di antara dua piring kosong
dan satu liter beras yang belum lunas.
Ia mendengarkan pertengkaran kecil
tentang cinta, tabung gas, dan cicilan sepeda.
Kadang mereka pura-pura memarahi si anak:
“Eh, jangan buang-buang waktu orang tuamu,
kami ini belum lunas bayar masa lalu!”
Kadang mereka membanggakan dia:
“Anak kita juara satu sabar,
meski belum dikandung,
sudah paham betapa rumitnya hidup orang tua.”
Di dompet mereka,
ada foto hitam putih cetakan khayalan.
Tertulis: Ini anak kita.
Lahir dari tawa,
dibesarkan oleh miskin,
dan akan mewarisi semua yang tak kita punya.
Cinta mereka tak melahirkan manusia,
tapi melahirkan makhluk mungil
yang berjalan dengan dua kaki ketakutan
dan dua tangan keinginan.
Ia tidur di lipatan doa,
minum dari gelas janji yang tak pernah penuh,
dan tumbuh tinggi
di bawah langit-langit kamar kontrakan.
Setiap pagi ia membangunkan mereka
dengan suara-suara yang tak bisa dijelaskan,
seperti bunyi sepeda rusak
yang masih ingin melaju.
Setiap malam ia menangis pelan
dari balik gantungan baju yang jarang dicuci,
seolah tahu:
ia adalah anak dari cinta yang tak punya akta,
tapi ingin tetap diakui negara.
Dan kalau diperhatikan baik-baik,
kadang ia menyeka air mata ibunya
dengan sapu tangan dari cahaya lampu,
lalu memeluk ayahnya
dengan selimut yang hanya bisa dijahit
oleh yang pernah kehilangan waktu.
–
Di Taman
Pagi itu, aku melihat seorang lelaki tua
duduk sendirian di kursi taman.
Topinya butut, sandalnya jujur.
Ia memberi makan ayam-ayam kecil
yang bahkan tak sempat belajar cara mematuk.
Ia bukan siapa-siapa.
Bukan wali, bukan penguasa.
Mungkin hanya
penjaga pagi
yang tak terdaftar di dinas kota.
Aku duduk di kursi sebelahnya.
Tak bicara.
Tapi napas kami saling tahu:
ada hal-hal yang tak bisa diberi nama,
tapi tahu jalan pulang ke mana.
Ia menatapku dan berkata,
“Tak apa kau bingung.
Asal jangan berhenti datang ke taman.”
Kami tak berbincang soal surga.
Hanya mengamati seekor semut
yang mengangkat remah roti
sebesar keraguan
dan tak pernah minta dipuji meski sempat ngobrol
dengan Sulaiman.
Sebelum pergi,
ia meninggalkan selembar daun kering di bangku,
di atasnya tertulis sesuatu
yang tak bisa kubaca,
tapi kurasa itulah satu-satunya doa
yang tak marah saat dilupakan.
–
Dompet
Ia tergeletak di meja,
dalam posisi pasrah seperti sapi menjelang Iduladha.
Dompet itu sudah lama tak mengandung uang,
tapi tetap kubawa
seperti jimat
atau utang yang belum selesai dilupakan.
“Aku tidak kosong,” katanya pelan.
“Aku hanya sedang menunggu mukjizat.”
Di dalamnya ada:
- satu foto usang: ibu tersenyum, masih muda
- satu struk belanja dari tahun yang sudah tak dicetak lagi
- satu tiket bioskop, kursi B-4, film yang membuatmu patah hati
- dan beberapa lembar doa,ditulis dengan huruf kecil di balik kuitansi,karena kertas doa tak perlu mahal,
yang penting lipatannya rapi dan penuh harapan.
Orang-orang bilang,
dompet kosong itu kutukan.
Tapi aku tahu,
ia cuma sedang menahan diri
agar tak sombong saat diisi
dan tak bunuh diri saat diabaikan.
“Uang memang tak tinggal lama,” katanya,
“tapi doa,
kalau kau simpan baik-baik,
bisa jadi satu-satunya mata uang
yang masih berlaku di dunia yang makin tak pasti.”
Aku memeluk dompetku malam itu,
seperti memeluk masa kecil yang belum sadar
bahwa jadi dewasa
berarti belajar lapar
tanpa kehilangan iman pada kenyang yang entah
dari mana ia datang.
–
Sarapan
Pagi ini aku duduk sendiri
di meja makan yang sudah terbiasa sunyi.
Tiba-tiba, ia datang lagi:
mantan kenangan,
membawa roti tawar dan senyum yang sudah hampir basi.
“Maaf, aku tidak bisa lama,” katanya.
“Sekarang aku tinggal di rak buku paling atas,
di antara puisi yang kau hindari
dan surat-surat yang kau pura-pura tak tulis.”
Kami sarapan diam-diam.
Ia menuang teh yang sudah tak hangat lagi,
lalu berkata,
“Masih ingat waktu kita rebutan sendok
lalu kamu menyerah karena takut aku ngambek?”
Aku tertawa.
Sendok di tanganku ikut bergetar.
Mungkin dia pun gugup,
mungkin dia juga punya mantan tangan lain.
Kami melumat roti dan sedikit rasa bersalah,
lalu ia pamit:
“Aku harus kembali ke tempatku.
Hari ini kamu harus belajar makan sendiri.”
Ia lenyap sebelum aku sempat bertanya
kenapa setiap pagi aku selalu duduk untuk dua piring,
padahal cuma satu perut
yang benar-benar ingin diisi.
*****
Editor: Moch Aldy MA
