Janji, Doa, dan Paracetamol
Senin habis ditabrak paracetamol.
Ada jejak kehilangan sepatu,
di hari Rabu,
tersesat di lorong rumah sakit.
Padahal Kamis sudah menagih.
Agar jendela tak tertukar pintu,
janji tak tersangkut di sepi,
detik menggigil di jam dinding.
Jumat memohon untuk taat.
Supaya kening ada dalam sujud,
doa membasuh langit yang mengelupas.
melepas angin yang lupa arah.
Sabtu dan Minggu dilipat malam.
Di kamar, paracetamol merayu.
Janji dan doa mengantri,
di pinggir rindu.
–
Menyelamatkan Malam
Aku menyelamatkan malam
dengan setetes sunyi di ujung sendok,
seperti angin yang ragu mengetuk
jendela rumah yang tak pernah dibuka.
Ada yang menyelamatkan malam
dari doa-doa yang terselip di lipit tangan,
jam dinding yang mencatat detik
tanpa menanyakan arah esok.
Malam menyelamatkan dirinya sendiri
dengan puisi yang tak hendak selesai,
sebaris kata yang menunggu terang,
atau sekadar nama yang hanyut di gelas kopi.
–
Film yang Mundur
Di antara warna yang senja lupa,
angin mengusap debu jendela di namamu.
Kita duduk di tepi waktu,
membaca ulang percakapan yang tak pernah selesai.
Di kejauhan,
sebuah kota berjalan ke belakang,
seperti film yang diputar mundur:
gedung-gedung tumbuh ke tanah,
kereta surut ke peron,
dan kita,
tak pernah bertemu.
–
Sepi Amat Panjang
Kau tahu,
puisi dibayar,
dengan sepi yang amat panjang.
Jendela terbuka,
tapi angin yang masuk
hanya membawa bunyi
yang tak ingin didengar.
Kursi-kursi di kafe menua sendiri,
menatap pintu yang tak jadi diketuk.
Malam bertanya,
tapi tak ada yang menjawab.
Barangkali kata-kata sudah lama
tak percaya pada suara.
–
Tentang Usai
Usai itu menyerah,
tapi masih bangun pagi.
Membuka tirai,
menyeduh yang tersisa dari kemarin:
kadang rindu, kadang roti,
kadang hanya tempat kosong di meja.
Menyapu cahaya dari lantai,
menggulung bayang di kaki sendiri.
Tak ada janji lagi,
tapi juga tak ada pintu yang terkunci.
Kita tak lagi saling menunggu,
tapi tetap bangkit lebih awal
untuk memastikan
tak ada yang benar-benar pergi.
*****
Editor: Moch Aldy MA
