Mahasiswa Ushuluddin, tertarik pada berbagai disiplin keilmuan, dan suka memikirkan hal-hal yang katanya tidak perlu dipikirkan.

Sommers dan Paradoks Cinta

Satria Nurfajri

3 min read

“Yang namanya cinta ialah saling menyakiti.” (Sommers, One Piece)

Kalimat tersebut diucapkan oleh Sommers—salah satu anggota Kesatria Dewa (God’s Knight) dalam serial anime One Piece pada episode 1172. Perkataan itu diucapkan Sommers ketika ia bersama beberapa Kesatria Dewa lainnya sedang menjalankan perintah Nerona Imu—sosok pemimpin tertinggi pemerintah dunia dalam semesta One Piece—untuk menyandera anak-anak raksasa di Pulau Elbaf. Di tengah situasi tersebut, salah satu Kesatria Dewa lain mempertanyakan apakah para raksasa dewasa Elbaf masih bisa merebut kembali anak-anak mereka. Alih-alih memberikan jawaban yang lugas, seperti “bisa” atau “tidak bisa”, Sommers justru menjawab dengan sebuah pernyataan yang terdengar ganjil, “Yang namanya cinta ialah saling menyakiti.”

Pernyataan yang ganjil itu tak mengherankan bagi saya. Sebab, yang mengucapkan adalah anggota Kesatria Dewa, pasukan elit tertinggi Pemerintah Dunia yang bermarkas di Tanah Suci Mary Geoise. Mereka berkeyakinan bahwa mereka adalah orang suci dan selain Mary Geoise adalah dunia bawah tempat orang-orang kotor. Cara pandang tersebut mencerminkan superioritas yang mereka yakini atas seluruh umat manusia.

Dalam semesta One Piece, Pemerintah Dunia sendiri sering digambarkan sebagai kekuatan antagonis yang kerap mempertahankan kekuasaannya melalui cara-cara yang tidak manusiawi, mulai dari melanggengkan perbudakan, menyembunyikan sejarah dunia, hingga menjalankan berbagai kepentingan tanpa memedulikan nyawa manusia. Sebagai bagian dari pasukan tersebut, Sommers tumbuh dan dibentuk dalam sistem yang menjunjung dominasi serta kekuasaan di atas nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu, tidak mengherankan apabila cara pandangnya terhadap cinta terdengar begitu dingin. Kendati demikian, pernyataan Sommers tentang cinta yang terdengar dingin ini memuat sisi filosofis yang menarik untuk dibicarakan.

Baca juga:

Sejak lama, kita kerap kali berkeyakinan bahwa cinta yang ideal adalah cinta yang tak pernah melahirkan rasa sakit. Apabila dua insan saling menyakiti, kita cepat-cepat menyimpulkan bahwa ada yang keliru dalam hubungan tersebut. Namun, jika kita berhenti sejenak dan berlaku jujur, benarkah ada cinta, dalam bentuk apa pun—kepada orang tua, anak, sahabat, maupun kekasih—yang benar-benar terbebas dari saling menyakiti?

Semakin dekat manusia dengan manusia lainnya secara emosional, semakin terbuka lebar pula potensi mereka untuk saling menyakiti. Inilah salah satu paradoks dalam hidup. Filsuf Arthur Schopenhauer menggambarkan paradoks ini melalui perumpamaan yang terkenal dengan nama The Hedgehog’s Dilemma (Dilema Landak). Ia membayangkan sekelompok landak di musim dingin yang berusaha saling mendekat demi memperoleh kehangatan agar tidak mati kedinginan. Namun, semakin dekat mereka, semakin dalam pula duri-duri di punggung mereka saling menusuk.

Konsep duri ini begitu cocok jika dikaitkan dengan sosok Sommers. Sebab, ia memiliki kekuatan Buah Iblis yang membuatnya mampu memanipulasi sulur-sulur berduri. Bagi saya, duri-duri Sommers bukan sekadar senjata fisik, melainkan metafora tentang relasi antarmanusia. Semakin intim manusia membangun ikatan dengan manusia lainnya, semakin besar pula kemungkinan duri-duri ego mereka akan saling menusuk satu sama lain.

Ini bukan gambaran tentang cinta yang gagal, melainkan tentang bagaimana sebenarnya cinta bekerja. Mendekat kepada seseorang selalu berarti membuka sebagian dari diri kita terhadap kemungkinan untuk disakiti. Filsuf Judith Butler menyebut kondisi dasar manusia ini sebagai precariousness—kerentanan yang lahir karena manusia hidup dalam keterikatan dan ketergantungan dengan orang lain. Jika gagasan tersebut dibawa ke dalam konteks cinta, kedekatan dapat dipahami sebagai keadaan ketika sebagian dari diri kita menjadi terbuka terhadap tindakan, keputusan, dan keberadaan orang lain. Semakin dalam kita menjalin sebuah ikatan, semakin besar pula bagian dari diri kita yang kita pertaruhkan kepada orang tersebut.

Peristiwa semacam ini sesungguhnya begitu akrab dalam kehidupan sehari-hari. Kita sering kali lebih mudah menoleransi kesalahan kecil dari orang yang tidak memiliki kedekatan dengan kita. Namun, ketika kesalahan yang sama dilakukan oleh orang tua, sahabat, pasangan, atau orang yang paling kita cintai, luka yang ditimbulkannya terasa jauh lebih dalam. Bukan karena kesalahannya lebih besar, melainkan karena kepada merekalah kita telah menitipkan kepercayaan, harapan, dan sebagian dari diri kita. Kedekatan membuat setiap ucapan, sikap, dan tindakan memiliki bobot emosional yang sangat besar.

Filsuf Jean-Paul Sartre menganggap cinta selalu mengandung paradoks. Kita menginginkan orang lain mencintai kita dengan kebebasannya, bukan atas paksaan. Namun, pada saat yang sama, kita juga berharap kebebasan itu selalu tertuju pada kita. Di sinilah ketegangan itu muncul. Sebab, kebebasan orang lain tidak pernah benar-benar dapat kita miliki ataupun kendalikan. Cinta tidak hanya mempertemukan dua perasaan, tetapi juga dua kebebasan. Masing-masing ingin tetap bebas menjadi dirinya sendiri, sekaligus mendambakan kehadiran orang lain. Dari perjumpaan dua kebebasan itulah lahir harapan, kecemasan, kekecewaan, hingga konflik. Bukan karena cinta identik dengan penderitaan, melainkan karena tidak ada seorang pun yang dapat sepenuhnya memiliki kehendak orang yang dicintainya.

Baca juga:

Meskipun sadar bahwa kebebasan orang lain tidak bisa dikendalikan, bagi saya, berharap kepada orang terdekat—terutama kekasih—ialah hal yang tak terhindarkan. Setidaknya, salah satu harapan yang paling umum dalam hubungan adalah keinginan agar sang kekasih terus menjatuhkan pilihan bebasnya untuk mencintai kita, hari demi hari. Namun, berharap ialah sesuatu yang sangat dekat dengan risiko tersakiti. Hal ini mengingatkan saya pada sebuah ungkapan yang kerap dinisbatkan kepada sahabat Nabi Muhammad SAW, Ali bin Abi Thalib: “Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.”

Meski berharap kepada manusia mendatangkan kepahitan yang nyata, hal itu tidak lantas membuat kita berhenti mencintai. Dari sinilah kita bisa melihat sisi lain dari pernyataan Sommers. Kalimat tersebut dapat dibaca sebagai ajakan untuk menerima satu kenyataan: cinta yang sesungguhnya bukanlah cinta yang selalu hangat dan sepenuhnya terbebas dari saling menyakiti. Justru karena cinta menghadirkan kedekatan, keterikatan, harapan, dan kerentanan, kemungkinan untuk saling menyakiti akan selalu menyertainya. Kendati demikian, saling menyakiti bukanlah akhir dari cinta. Ada kalanya luka menciptakan sedikit jarak, dan jarak tak selalu bermuara pada perpisahan. Dalam banyak keadaan, jarak justru melahirkan kerinduan, dan kerinduan membuat kehadiran seseorang kembali terasa berharga.

Barangkali, jika manusia terus-menerus berada dalam keintiman tanpa jeda, keintiman itu sendiri perlahan akan memudar nilainya. Sebab, sering kali kita baru benar-benar menyadari betapa berharganya sebuah keintiman ketika pernah merasakan jaraknya. Mencintai berarti menerima kemungkinan untuk terluka. Jika kita tidak siap berdarah oleh goresan harapan, perbedaan, dan kekecewaan yang mungkin hadir dalam sebuah hubungan, mungkin kita juga belum siap untuk mencintai karena mencintai berarti siap menyakiti sekaligus siap disakiti.

Tentu saling menyakiti di sini bukanlah pembenaran atas tindakan toxic, manipulasi, ataupun kekerasan yang disengaja. Yang dimaksud adalah pengakuan yang jujur bahwa setiap kali kita membuka diri pada seseorang, kita juga membuka kemungkinan untuk disakiti olehnya. Di balik setiap pelukan yang erat selalu ada risiko dada yang sesak. Dan kesediaan untuk menanggung risiko itulah yang membuat cinta menjadi sesuatu yang bernilai, bukan sekadar hubungan yang aman, melainkan keberanian untuk tetap memilih seseorang meski kita tahu bahwa suatu hari nanti ia dapat menyakiti kita. Sebab, tersakiti adalah kepastian dalam cinta. Barangkali menjadi pemaaf ialah salah satu syarat menjadi pecinta. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Satria Nurfajri
Satria Nurfajri Mahasiswa Ushuluddin, tertarik pada berbagai disiplin keilmuan, dan suka memikirkan hal-hal yang katanya tidak perlu dipikirkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email