Cemas yang Menyala di Kepalaku
Pagi ini cemas menyala di kepalaku
seperti nyala kompor gas
suara klik-nya nyaring sekali
sampai burung di jendela kabur
dan kalender tiba-tiba melompat dua hari
Aku merebus air—tapi airnya malah bertanya
“Untuk kopi atau tangisan?”
aku bilang, “Belum tahu. Tergantung kabar hari ini.”
Telepon bergetar seperti jantung yang gugup
aku takut menjawab
jangan-jangan itu dari diriku sendiri
yang menelepon untuk menagih keberanian
Malam nanti, aku berencana menidurkan kecemasan
di atas bantal yang sudah hafal bentuk kepalaku
tapi biasanya dia menyelinap masuk ke dalam mimpi
bersama segelas air yang tak jadi kopi
dan tangisan yang tak jadi apa-apa
(Makassar, 2025)
–
Penyesalan
Aku menyesal
tapi penyesalanku itu lucu
ia sering nyasar ke warung kopi
memesan waktu yang tak bisa dihangatkan lagi.
Di teko, gula dan kopi bersitegang
siapa di antara mereka yang paling abadi
—yang manis belum tentu kembali
—yang pahit tak selalu pergi.
Kadang aku ingin menulis surat kepadamu
di dalamnya kutuang secangkir maaf yang beku
supaya awet sampai di hatimu
tapi alamatmu sudah pindah dari dalam ingatan
yang jarang kubersihkan dari debu.
Malam ini aku tertawa kecil
bahkan penyesalan pun ingin hidup tenang
tidak suka terus-menerus diseret
dari masa lalu yang sudah mengantuk.
(Makassar, 2025)
–
Lelaki dan Kota Rahasia dalam Dirinya
Kau pernah bercita-cita
menjadi langit yang luas
tapi memilih
menjadi atap rumah
: hujan tak lagi soal dirimu
melainkan istri yang menggigil
dan suara anak-anak yang takut petir
di bawah meja kerjamu
tertidur peta yang tak pernah kaubuka
kompas yang sengaja kau biarkan berkarat
dan sepasang sepatu yang lelah menunggu
diam-diam kau tahu,
setiap lelaki menyembunyikan
sebuah kota rahasia dalam dirinya
namun dengan rela
Kau robohkan bangunan itu
agar di tanah lapang bekas reruntuhannya
anak-anak bisa berlari tanpa tersandung
(Makassar, 2025)
*****
Editor: Moch Aldy MA
