Pendidikan Sibuk Mengajar, tapi Lupa Mendengar

Virgin Noor Vadillah

2 min read

Belakangan ini, dunia pendidikan terdengar seperti pasar yang terlalu ramai. Orang-orang sibuk menghitung untung dan rugi. Jurusan dipertanyakan seperti barang dagangan. Ilmu diukur dari angka gaji. Kampus didesak menghasilkan manusia-manusia yang cepat dipakai industri, cepat bekerja, cepat menghasilkan. Sementara itu, perlahan-lahan, hal paling mendasar dari pendidikan justru mulai menghilang: mendengar manusia.

Wacana penghapusan sejumlah program studi karena dianggap tidak relevan menjadi tanda yang cukup jelas. Pendidikan hari ini tampaknya semakin takut pada hal-hal yang tidak bisa diukur dengan angka. Yang tidak menghasilkan uang dianggap gagal. Yang tidak langsung terserap pasar dianggap beban.

Padahal, bukankah sejak awal pendidikan seharusnya lahir untuk membentuk manusia, bukan sekadar mencetak tenaga kerja?

Kita terlalu lama hidup di dalam sistem yang memuja hasil. Nilai menjadi doa baru. Rangking menjadi harga diri baru. Siswa diajarkan bagaimana menjawab soal dengan benar, tetapi jarang diberi ruang untuk bertanya mengapa dunia berjalan seperti ini. Mereka hafal definisi, tetapi asing terhadap dirinya sendiri.

Di banyak ruang kelas, suara guru menjadi suara yang paling penuh. Ia berbicara panjang, sementara siswa duduk diam seperti dinding yang dipaksa menyimpan gema. Pendidikan sibuk mengajar, tetapi lupa mendengar.

Paulo Freire pernah menyebut pendidikan semacam ini sebagai Banking Model of Education, sebuah sistem yang memperlakukan siswa seperti celengan kosong yang harus terus diisi. Pengetahuan disetor. Jawaban dihafal. Kepatuhan dipuji.

Baca juga:

Lalu kelas berubah menjadi ruang yang aneh: manusia hadir secara fisik, tetapi pikirannya tidak pernah benar-benar diundang.

Barangkali inilah akar dari banyak persoalan pendidikan hari ini. Kita tumbuh dalam lingkungan yang terlalu terbiasa memerintah dan terlalu takut pada dialog. Kita diajarkan mengejar jawaban, bukan memahami kehidupan. Kita diajarkan untuk patuh, bukan untuk menjadi manusia yang utuh.

Dan ketika seseorang terlalu lama hidup dalam lingkungan yang menuntut kepatuhan tanpa ruang refleksi, biasanya hanya ada dua kemungkinan: ia berusaha memutus lingkarannya, atau perlahan menjadi bagian dari lingkaran itu sendiri. Pendidikan pun demikian.

Jika siswa terus dibesarkan dalam ruang yang menuntut kepatuhan tanpa refleksi, mereka mungkin tumbuh menjadi manusia-manusia yang patuh, tetapi kehilangan keberanian untuk berpikir. Mereka tahu bagaimana bekerja, tetapi tidak tahu bagaimana memahami sesama. Mereka pandai mengejar target, tetapi asing terhadap makna. Di sinilah dialog menjadi penting.

Dialog bukan sekadar sesi tanya jawab formal yang kaku. Dialog adalah keberanian untuk mengakui bahwa setiap manusia membawa pengalaman dan suaranya sendiri. Bahwa belajar tidak seharusnya berjalan satu arah seperti pidato panjang yang dingin. Pendidikan semestinya menjadi pertemuan antarmanusia, tempat seseorang merasa dilihat, didengar, dan diakui keberadaannya.

Kelas seharusnya bukan ruang untuk mencetak keseragaman. Kelas adalah tempat manusia belajar memahami dunia bersama-sama.

Ketika siswa diberi ruang untuk berbicara tentang keresahan mereka, tentang ketidakadilan yang mereka lihat, tentang ketakutan mereka terhadap masa depan, pendidikan perlahan kembali menjadi hidup. Pengetahuan tidak lagi terasa seperti benda asing yang dipaksa masuk ke kepala, melainkan sesuatu yang tumbuh dari pengalaman dan percakapan.

Namun, membangun pendidikan yang manusiawi tentu tidak mudah. Kurikulum terlalu padat. Nilai terlalu diagungkan. Sekolah terlalu takut dianggap gagal. Akibatnya, banyak ruang belajar akhirnya lebih sibuk mengejar capaian dibanding membangun kesadaran.

Baca juga:

Kita hidup di masa ketika pendidikan begitu terobsesi menciptakan manusia produktif, tetapi lupa menciptakan manusia yang mampu mendengar dan memahami.

Ironisnya, di saat beberapa jurusan dianggap tidak relevan karena tidak cukup menghasilkan secara ekonomi, masyarakat justru semakin kehilangan ruang untuk berpikir secara reflektif. Kita mulai terbiasa melihat manusia berdasarkan fungsi dan produktivitasnya saja.

Barangkali masalah terbesar pendidikan hari ini bukanlah siswa yang malas belajar, akan tetapi hilangnya ruang untuk menjadi manusia.

Pada akhirnya, pendidikan tidak seharusnya hanya melahirkan orang-orang yang siap bekerja. Pendidikan seharusnya melahirkan manusia yang mampu berpikir, merasakan, mempertanyakan, dan mendengarkan. Sebab ketika pendidikan hanya sibuk mengajar, tetapi lupa mendengar, yang perlahan mati bukan hanya dialog di dalam kelas, melainkan juga kemanusiaan itu sendiri. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Virgin Noor Vadillah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email