Lebih sering menulis untuk bertanya daripada menjawab.

Matinya Bahasa Daerah di Rumah Sendiri

Salman Alade

3 min read

Seorang kakek di sebuah rumah di Gorontalo bercerita tanpa pernah merasa bahasanya sedang menuju akhir. Ia mengingat dengan rinci masa yang tidak pernah dialami oleh anak dan cucunya: tentang dentum jauh peristiwa Permesta tahun 1958, tentang bangunan-bangunan tua di pusat perdagangan kota yang dulu lebih hidup dari hari ini, tentang pamali yang tak boleh dilanggar, tentang kepercayaan-kepercayaan yang mengajarkan orang untuk hidup dengan hati-hati terhadap dunia.

Bahasanya tidak sekadar menyampaikan cerita. Ia membawa cara hidup, cara percaya, dan cara mengingat.

Di depannya, anak dan cucu-cucunya duduk tenang. Mendengarkan dengan sopan, mengangguk di waktu yang tepat, seolah seluruh cerita itu utuh mereka pahami. Namun ketika cerita itu selesai, sang anak berusaha menjawab. Bahasa Gorontalo yang ia ucapkan tidak lagi utuh, terselip oleh bahasa Indonesia yang lebih ia kuasai. Sementara cucu-cucunya tidak lagi mencoba. Mereka menjawab sepenuhnya dalam bahasa yang berbeda.

Tidak ada yang salah dalam percakapan itu. Tidak ada yang benar-benar terputus. Namun, sesuatu yang lebih sunyi dari kegagalan sedang terjadi. Bahasa tidak lagi berpindah tangan. Dan justru di situlah, sebuah bahasa mulai kehilangan hidupnya.

Baca juga:

Bahasa tidak selalu mati di ruang publik. Ia tidak selalu hilang karena larangan atau tekanan. Lebih sering, bahasa mati dengan cara yang jauh lebih halus: ia tidak lagi digunakan, tidak lagi dipilih, tidak lagi diwariskan. Dan tempat kematian paling sunyi itu adalah rumah.

Apa yang terjadi pada bahasa Gorontalo hari ini menunjukkan gejala itu dengan sangat jelas.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Fadli Suleman bersama Sahrain Bumulo dan Yowan Tamu pada tahun 2026 memberi gambaran yang cukup jujur tentang kondisi ini. Mereka menemukan bahwa keluarga yang selama ini dianggap sebagai benteng terakhir bahasa memang masih menjalankan perannya, tetapi tidak lagi efektif. Orang tua tetap berbicara dalam bahasa Gorontalo, tetapi anak-anak tidak merespons dalam bahasa yang sama. Mereka memahami, tetapi tidak menggunakan. Mereka mendengar, tetapi tidak benar-benar mewarisi.

Pewarisan bahasa yang seharusnya berlangsung secara timbal balik perlahan berubah menjadi satu arah.

Dalam temuan tersebut, peran keluarga terlihat berjalan secara alami tanpa strategi yang jelas. Bahasa diperkenalkan melalui percakapan sehari-hari, melalui nasihat, melalui cerita. Namun tanpa pembiasaan yang konsisten, anak-anak tidak pernah benar-benar didorong untuk menjadi penutur aktif. Mereka cukup menjadi pendengar yang paham, tanpa harus berbicara dalam bahasa yang sama.

Di titik ini, persoalannya menjadi lebih dalam. Bahasa tidak hidup dari pemahaman, tetapi dari penggunaan.

Ketika sebuah bahasa hanya dipahami tanpa digunakan, ia perlahan kehilangan tempatnya dalam kehidupan. Ia tidak hilang sekaligus, tetapi mengendap, melemah, lalu menghilang tanpa terasa.

Dalam kajian sosiolinguistik, kondisi ini dikenal sebagai pergeseran bahasa. Bahasa Gorontalo yang dahulu menjadi bahasa pertama dalam keluarga kini bergeser menjadi bahasa kedua, bahkan dalam banyak kasus hanya menjadi bahasa pasif. Anak-anak tidak lagi tumbuh dengan bahasa itu sebagai alat utama untuk berpikir dan merasakan, melainkan hanya sebagai sesuatu yang diketahui tanpa benar-benar digunakan.

Masih Ada, Tapi Tak Lagi Hidup.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa rendahnya minat anak muda menjadi salah satu kendala utama. Bahasa Gorontalo tidak lagi hadir dalam ruang pergaulan mereka. Ia tidak menjadi bahasa bermain, tidak menjadi bahasa bercanda, tidak menjadi bahasa yang memberi rasa akrab. Dalam beberapa situasi, bahasa daerah bahkan dianggap tidak cukup modern untuk digunakan.

Ketika sebuah bahasa kehilangan nilai sosialnya, ia tidak hanya ditinggalkan, tetapi juga dipinggirkan. Kondisi ini semakin diperkuat oleh lingkungan yang tidak lagi memberi ruang yang cukup. Di sekolah, pembelajaran bahasa daerah tidak berjalan secara optimal. Di lingkungan sosial, bahasa Indonesia dan ragam bahasa populer lebih dominan. Bahasa Gorontalo akhirnya hanya muncul dalam situasi tertentu seperti kegiatan adat atau percakapan dengan generasi tua. Ia hadir sebagai simbol, tetapi tidak sebagai kebiasaan.

Baca juga:

Jika dilihat dari perspektif sosial, bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah medium pewarisan nilai, identitas, dan cara hidup. Ketika bahasa tidak lagi digunakan secara bersama, maka yang terputus bukan hanya percakapan, tetapi juga kesinambungan makna antargenerasi.

Hilangnya Fungsi Bahasa sebagai Jembatan.

Dalam kerangka teori sosial, kondisi ini menunjukkan melemahnya fungsi integrasi dan pemeliharaan nilai budaya. Bahasa yang seharusnya menjadi pengikat antara generasi tua dan muda tidak lagi menjalankan perannya secara utuh. Hubungan tetap ada, tetapi tidak lagi dibangun melalui bahasa yang sama. Nilai-nilai yang terkandung dalam bahasa tidak lagi ditransmisikan secara penuh, sehingga yang tersisa hanyalah bentuk, tanpa kedalaman.

Namun yang paling mengkhawatirkan bukan sekadar perubahan itu sendiri, melainkan cara kita menerimanya. Pergeseran ini sering dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Sebagai konsekuensi dari perkembangan zaman. Kita memahami mengapa anak-anak memilih bahasa yang lebih praktis, tetapi jarang bertanya apa yang sedang hilang dari pilihan itu.

Padahal, dalam bahasa daerah, tersimpan cara khas sebuah komunitas memahami dunia. Ada cara menasihati yang lebih halus, cara bercanda yang lebih dekat, cara menyampaikan kasih sayang yang tidak selalu bisa digantikan oleh bahasa lain.

Ketika bahasa itu tidak lagi digunakan, yang hilang bukan hanya kata, tetapi juga cara merasa. Dan kehilangan itu tidak terjadi di ruang publik. Ia terjadi di rumah.

Rumah yang seharusnya menjadi ruang paling aman bagi bahasa justru perlahan berubah menjadi tempat bahasa itu ditinggalkan. Tidak ada larangan, tidak ada konflik. Hanya ada pilihan-pilihan kecil yang diulang setiap hari: memilih bahasa yang lebih mudah, lebih umum, lebih cepat dipahami. Sampai suatu hari, bahasa itu tidak lagi menjadi pilihan sama sekali.

Bahasa tidak diwariskan melalui teori, tidak pula melalui seremoni. Ia diwariskan melalui kebiasaan. Melalui percakapan sederhana yang diulang terus-menerus. Dari cara orang tua memanggil anaknya, dari cara mereka menasihati, dari cara mereka bercerita.

Ketika kebiasaan itu hilang, pewarisan pun terhenti. Dan ketika pewarisan terhenti, kepunahan bukan lagi sesuatu yang jauh di masa depan, melainkan sesuatu yang sedang berlangsung, perlahan, di hadapan kita.

Di titik inilah kita perlu jujur pada diri sendiri. Pertanyaannya bukan lagi “apakah bahasa Gorontalo akan punah?”, tetapi “di rumah siapa ia masih benar-benar hidup?

Jawabannya mungkin tidak nyaman. Selama bahasa daerah hanya digunakan oleh yang paling tua di meja makan dan beranda rumah, sementara yang muda memilih bahasa lain untuk merespons, maka kita sedang menyaksikan sebuah ironi: bahasa itu masih terdengar, tetapi tidak lagi diwariskan. Dan bahasa yang tidak diwariskan, sesungguhnya sudah mulai mati. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

 

Salman Alade
Salman Alade Lebih sering menulis untuk bertanya daripada menjawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email