Negara yang Menguap Sebelum Terang
Negara ini seperti kabut pagi,
hilang sebelum sempat bisa dipahami.
Ia hadir sebentar sebagai kemungkinan,
lalu mundur pelan ke dalam lupa
yang kita rawat.
Orang-orang berjalan di dalamnya
seperti membaca halaman yang dihapus—
setengah ingat, setengah menyangkal
bahwa pernah ada kalimat
yang meminta mereka bertanggung jawab.
Padahal cahaya tidak menuduh,
ia hanya membuka.
Membuka retak,
yang sengaja tidak disatukan,
yang kita biarkan tercerai
agar tak perlu memilih sikap.
Dan ketika terang itu datang sepenuhnya,
yang hilang bukan lagi kabut,
melainkan kita—
yang mengira diam
adalah cara lain untuk tetap ada.
–
Meja Penguasa
Tidak ada yang bisa ditinggalkan.
Kita duduk di depannya.
Tidak ada yang salah.
Tidak ada yang hidup.
Yang seharusnya sudah rusak
tidak pernah diberi kesempatan.
–
Sebelum Jadi Biner
Aku tampil—
bukan karena ingin dilihat,
tapi karena kalian takut hilang.
Namaku berlari
dari layar ke layar.
Tulangku tertinggal
di gerah yang sama.
Aku hidup—
padahal hanya gema
yang tak sempat kembali.
Seribu mata menatapku.
Tak satu pun melihat.
Dan aku,
yang dulu ingin terbakar sekali,
kini menyala tiap detik—
lalu padam
sebelum jadi biner.
–
Kuku yang Menyisakan
Kuku kenangan
berlikat siang ini,
membawa serpihan—
kadang getah, kadang menguap
sebelum sempat diberi nama.
Siang memantulkan jejak:
yang pernah singgah,
lalu diam
tak beranjak.
Kita sedang diingat kembali
oleh sesuatu yang belum usai—
bukan sedang mengingat.
*****
Editor: Moch Aldy MA
