Kematian Puisi
aku menghadiri pemakaman sebuah kalimat
kalimat itu tak sempat basah di lidah
tanah merekah, jeda terarsir
orang-orang datang membawa tafsir
pulang dengan kebingungan yang berat
di batu nisannya tertulis
“kata-kata pernah hidup di sini”
lalu dibungkam makna
yang terlalu lekas ingin dimengerti
Tuhan berdiri jauh, barangkali
menyaksikan huruf tercerai
menyaksikan makna tak sampai
serupa tubuh yang gagal dikenali
oleh pemilik namanya sendiri
aku ingin menangis
aku menangis
aku: isak tangis
air mata sepi arti
puisi mati
sebelum percaya pada suaranya, sendiri
malam menutup liang perlahan
dan sesuatu berdenyut pelan
bukan dari tanah
melainkan dari gagal kita menyebut kehidupan
–
Creatio Ex Nihilo
pada mula yang sukar diingat
Tuhan mencipta dari kosong
atau dari ragu yang belum bernama
seperti aku menulis
di halaman yang menolak diraba
kata pertama jatuh sebagai asing
tanpa ibu, tanpa sejarah
hanya getar yang memaksa ada
dan dari situ
semua menjadi mungkin dan rekah
aku curiga pada asal-usul
yang terlalu bersih dari luka
setiap penciptaan menyisakan serpih
diam-diam menuntut untuk dibuka
Tuhan meniup sesuatu
yang tak Ia ulangi
dan kita hidup di antara gema itu
mengingat
yang tak pernah kita alami
di setiap ketiadaan
suara kecil menyebut namaku
lalu menghapusnya lagi
sebelum sempat kupahami
–
Firdaus: Taman yang Dirawat Tuhan?
ada taman yang tak pernah layu
daunnya tak mengenal gugur
airnya tak letih mengalir
waktu bersila sopan di sudut-sudut indahnya
aku membayangkan Tuhan sebagai pemelihara
menyiram kering dengan cahaya
memangkas hening hingga menyala
menanam ulang harapan
menanam ulang keabadian
di sini
di taman keabadian ini
rumput tak menyimpan jejak
langkah tak meninggalkan tanya
hidup dihapus dari kemungkinan gagal
aku bertanya diam-diam
apakah sempurna menyimpan luka
atau hanya cara lain
melupakan retak
barangkali firdaus bukan tempat
melainkan ingatan yang terlalu indah
hingga kita percaya
yang rusak pernah utuh
–
Apakah Tuhan Sanggup Meninabobokanku?
malam datang tanpa pengantar
membawa gelap yang akrab
seperti nama yang sering kueja
di kepala yang tak pernah diam
aku mencoba tidur
aku menelan kantuk
dengan doa yang terpotong
kata tersangkut di langit-langit mulut
tak sampai ke mana pun
Tuhan, bisakah Kau membuat sunyi
yang tidak berisik
yang tak menyimpan gema
dari yang gagal kulupakan
di ranjang ini
aku menjadi anak kecil tanpa cerita
dongeng tak cukup
menenangkan takut yang tumbuh dewasa
mata terpejam
pikiran tenggelam
aku tak memahami
apa-apa
–
Tuhan yang Mahacahaya dan Lindap Mata Kita
cahaya turun tanpa suara
tak meminta izin pada mata
langsung menembus terang:
segala yang kita anggap benderang
kita berdiri di hadapannya
dengan kelopak gemetar
melihat terlalu jauh
hanya sekadar memelihara sauh
Tuhan mahacahaya
sedangkan kita sibuk mengukur terang
dengan batas ciptaan sendiri
lalu tersesat di dalamnya
aku melihat bayangku
lebih jelas saat lampu padam
terang bukan selalu cahaya
melainkan berani menatap gelap
mata kita lindap
bukan karena cahaya berlebihan
melainkan takut
pada yang akhirnya terlihat lengkap
dan di sana
Tuhan tak lagi jauh
ia hadir sebagai sesuatu
yang tak selesai kita mengerti
(Batang, 2026)
*****
Editor: Moch Aldy MA
