Bila saya diminta untuk mengumpulkan pelaku pelecehan seksual yang sudah saya temui sepanjang 21 tahun saya hidup, saya akan menyodorkan 5 orang, 5 nama. Tidak satu pun dari mereka pernah diadili. Tidak satu pun pernah mendapatkan hukuman yang layak. Dan tidak satu pun pernah memahami bahwa apa yang mereka lakukan akan menjadi sejarah paling buruk dalam hidup seorang perempuan.
Bila ada kata yang melampaui muak, saya akan menggunakannya. Saya sudah kehilangan setiap kosa kata paling buruk yang bisa digunakan untuk menjabarkan betapa melelahkannya semua ini. Saya lelah mengingatnya, dan saya lelah menuliskannya.
Meski saya seorang perempuan, saya tidak pernah benar-benar menulis tentang perempuan. Hidup sebagai perempuan sudah sebuah hal yang sulit, dan menulis tentangnya sering kali hanya membuat saya semakin gusar. Namun belakangan saya tahu bahwa saya tidak bisa diam. Saya harus melakukan sesuatu. Saya harus mengatakan sesuatu untuk memberitahu siapa pun bahwa kita tidak pernah benar-benar beranjak dari masalah kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan.
Baca juga:
Awal bulan Maret lalu, Komnas Perempuan meluncurkan catatan tahunan tentang kekerasan berbasis gender terhadap perempuan (KBGtP) yang menunjukkan situasi kekerasan terhadap perempuan sepanjang tahun 2025. Tercatat 376.529 kasus KBGtP. Angka tersebut meningkat sebesar 14,07 persen dibandingkan jumlah kasus pada tahun sebelumnya.
Bila dilihat dalam satu dekade, sepanjang periode 2016–2025 telah terjadi sebanyak 2.876.945 kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia. Tahun 2025 menjadi tahun dengan angka tertinggi. Tahun 2016 mencatat 163.116 kasus, lalu terus meningkat hingga pada 2019 mencapai 302.656 kasus. Penurunan hanya terjadi sekali, yaitu pada 2020 dengan 226.062 kasus. Selebihnya adalah tren kenaikan dan angka-angka yang hanya membuat perempuan mana pun terdiam—lebih diam dari keputusan siapa pun yang memutuskan untuk tidak pernah melaporkan pelaku.
Saya mencari data tersebut hanya ketika riset untuk tulisan ini, dan sama sekali tidak pernah membayangkan angka-angka yang sedemikian besar dan terus membesar dari tahun ke tahun. Saya hanya bisa berpikir bahwa angka-angka itu akan terus bertambah bila saja saya dan kawan saya, dan korban-korban lainnya, memutuskan untuk melaporkan 5 orang pelaku yang telah menjejakkan sejarah buruk itu pada tubuh-tubuh kami.
Saya tidak punya bukti apa pun untuk semua yang saya nyatakan hingga menulis ini. Tapi saya punya ingatan. Saya ingat seorang kawan yang harus putus sekolah karena kasus pelecehan seksual. Saya ingat bukti-bukti yang dipendam. Saya ingat kisah-kisah dan nama-nama yang hanya disebut dalam bisikan jijik dan ketakutan. Saya hidup bertahun-tahun dalam sangkalan dan pertanyaan yang sama: mengapa saya? Mengapa kawan saya? Mengapa kami?
Saya tidak pernah mendapatkan jawabannya. Bila saya mengatakan bahwa semua yang terjadi hanyalah karena ketidakberuntungan—karena berada di lingkungan dan orang-orang yang buruk—mengapa hal yang sama juga terjadi kepada perempuan lain? Terjadi di tempat lain? Terus menerus?
Dulu saya berpikir demikian. Dulu saya mengira lingkungan kami yang buruk. Namun kemudian saya pindah ke kota lain yang lebih modern dan lebih intelek, berkuliah di universitas yang bagus, dan mendapati kenyataan yang tidak jauh berbeda dengan apa yang saya tinggalkan dari kota dan lingkungan saya sebelumnya.
Pernyataan-pernyataan sikap atas kasus-kasus yang mencuat di lingkungan universitas, warta dari lembaga pers mahasiswa yang acap kali membawa headline kasus pelecehan seksual di lingkungan akademik pada tahun pertama dan kedua saya berkuliah, benar-benar membuat saya jengah sebelum akhirnya hanya bisa mengamati semuanya dengan pikiran kosong. Semuanya terasa sama saja di mana pun saya berada.
Ada keengganan dan rasa letih untuk mengambil bagian dari itu semua, entah hanya sekadar mengunggah poster pernyataan sikap, atau sekadar mencari rinciannya. Masa-masa ketika saya menjadi orang yang begitu vokal dalam membicarakan isu kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan rasanya sudah berlalu lama sekali—jauh setelah saya berulang kali menghadapi kegagalan dalam memperjuangkan kesadaran dan keadilan pada kasus-kasus yang pernah berkelindan dalam hidup saya.
Kasus kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan adalah masalah besar yang terus bergulir, dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengecil, apalagi berhenti. Saya percaya bahwa setiap masalah pasti memiliki jalan keluar. Namun sekarang masalah itu menjelma sebagai angka-angka statistik yang tidak banyak berubah, bahkan terus membesar dalam satu dekade. Sebagai masalah ia tak kunjung terselesaikan, sebagai kenyataan ia adalah realitas yang tak terelakkan. Dan di dalam kenyataan itulah kita hidup hari ini.
Sekarang, pilihan yang dimiliki perempuan dan korban bukan lagi diam atau melawan. Pilihan yang tersedia saat ini hanyalah melawan atau menambah angka statistik. Itu bukan sesuatu yang bisa disebut sekadar masalah, melainkan realitas yang harus ditelan bulat-bulat oleh kita semua. Pahit, dan getir bukan main-main.
Baca juga:
Dalam realitas seperti ini, sulit bagi saya untuk mengimajinasikan sebuah perjuangan. Bagaimana imajinasi itu bisa dibangun dengan ingatan-ingatan dan data-data statistik yang menampar itu? Bagaimana bisa terus memperjuangkan keadilan dengan semua yang sudah kami alami?
Bila ada yang bertanya, atau menyuruh kami berjuang, kami telah melakukannya—dan kami kalah. Berjuang, belakangan saya memaknainya sebagai sebuah respons, sebagai sikap, dan sebagai pembuktian bahwa kami adalah eksistensi yang hidup dan berkehendak, dan akan melakukan sesuatu untuk mempertahankan martabat sebagai seorang perempuan.
Saya akan terus berjuang, namun barangkali hanya tidak lebih optimis dari yang lain. Menulis dan mengadvokasi, hanya itu saja yang bisa saya kerjakan selama ini. Saya sudah lama tahu, bahkan sebelum benar-benar memahami kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap perempuan, bahwa melapor tidak selalu berguna ketika yang dihadapi adalah ketimpangan relasi kuasa. Saya sudah membuktikannya berkali-kali.
Saya tidak lebih baik dari siapa pun yang memilih untuk diam. Bahkan kadang kala diam memang lebih baik untuk ketenangan jiwa seseorang, terutama dengan pengetahuan bahwa perjuangan tidak selalu menang. Namun berjuang—menulis dan mengadvokasi—adalah martabat yang bahkan tidak akan pernah bisa disentuh oleh pelaku mana pun. Pekerjaan yang tidak mudah, dan jelas membutuhkan daya yang besar.
Melalui tulisan ini, saya sedang menunjukan bahwa perjuangan untuk melawan kekerasan terhadap perempuan masih sangat terjal, jauh, dan panjang. Namun, melalui tulisan ini pula, saya ingin menunjukan bahwa perjuangan memang tidak akan selalu menang, tetapi ia akan terus hidup walau pahit, sekarat, dan hampir mati sekalipun. (*)
Editor: Kukuh Basuki
