Teolog partikelir yang menulis kadang-kadang, dan suka ngopi

Surat Cinta Seorang Ateis untuk Para Pengikut Agama

Heski Dewabrata

3 min read

Sigmund Freud mengidentifikasi bahwa manusia merupakan subjek dari tiga luka narsistik yang disebabkan oleh modernisasi. Luka pertama disebabkan revolusi Kopernikan yang menyebabkan manusia menyadari bahwa mereka bukanlah pusat alam semesta. Luka kedua disebabkan oleh teori evolusi Darwin yang menyebabkan mereka menyadari bahwa manusia tidak berbeda dengan spesies lain, dan tidak mempunyai “tempat unik” di bumi. Dan luka ketiga didemonstrasikan oleh Freud sendiri yang membuktikan bahwa manusia bukanlah tuan atas wilayahnya sendiri yang terbatas

Mari kita singkirkan poin pertama dan ketiga, lalu fokus pada poin kedua. Evolusi, bagaimanapun, justru menunjukkan bahwa manusia tetap unik dan berbeda dengan spesies lain. Hal ini dikarenakan evolusi yang dialami manusia bukan sekadar evolusi secara biologis, melainkan secara budaya yang mencakup bahasa, politik, kepercayaan, dan masih banyak lagi. Hal ini merupakan tema besar yang dibahas, menurut interpretasi saya, dalam Breaking The Spell: Religion As A Natural Phenomenon yang ditulis oleh Daniel C. Dennett.

Buku ini, sejatinya, merupakan sebuah surat cinta dari seorang ateis bagi para penganut agama yang ada di dunia. Yang ingin ditawarkan oleh buku ini ialah bagaimana seharusnya agama juga perlu ditaruh di atas “meja penelitian” agar dapat diteliti secara objektif dan bukan diteliti sesuai keyakinan pribadi. Dan tujuannya pun sebenarnya sangat menarik. Secara tidak langsung, tawaran dari buku ini bertujuan agar kredibilitas agama tetap dapat dibuktikan, dan di sisi lain agar generasi sekarang tidak mewarisi “racun” bagi generasi mendatang. Maka dari itu, Dennett melihat agama sebagai “fenomena alam”. Karena baginya, agama juga tidak dapat dilepaskan dari evolusi manusia itu sendiri. Dan karena manusia berevolusi, seharusnya agama juga berevolusi.

Baca juga:

Melalui buku ini, Dennett sendiri sebenarnya mencoba untuk mematahkan “mantra” yang selama ini mengikat para pengikut agama di dunia. Mantra tersebut adalah sikap eksklusivitas, pembelaan-pembelaan para penganut agama terhadap argumen rasional, dan penolakan para kaum beragama terhadap upaya menjadikan agama sebagai subjek penelitian ilmiah. Hal ini menjadi menarik karena Dennett sendiri merupakan salah satu pilar “four horsemen” dari gerakan new atheism di Amerika, di mana yang lain adalah Christopher Hitchens, Sam Harris, dan Richard Dawkins. Gerakan ini sendiri muncul pasca peristiwa 9/11 yang mengubah paradigma kebanyakan orang di Amerika. Di mana mereka melihat bahwa agama tidak dapat dihiraukan begitu saja, melainkan harus dikritisi dengan cara pandang berbasis sains.

Upaya-upaya yang dilakukan oleh Dennett dalam buku ini juga, menurut pembacaan saya, secara tidak langsung menawarkan penelitian yang bersifat interdisipliner. Ia melihat bahwa dalam setiap penelitian yang dilakukan terhadap objek tertentu, secara tidak langsung pasti akan beririsan dengan banyak disiplin ilmu. Maka dari itu, ia menawarkan bahwa penelitian terhadap agama juga harus dilakukan dengan banyak disiplin ilmu lain, termasuk sains.

Ia memberi contoh penelitian yang sudah ada, misalkan musik, yang telah diteliti banyak disiplin ilmu lain, dari psikologi klinis hingga neurosains. Ia pun memberi contoh kecil seperti riset tentang gula, maka penelitian harus beririsan dengan disiplin ilmu seperti sejarah, ekonomi, politik, dan sebagainya. Hal ini dikarenakan persepsi rasa juga bagian dari evolusi manusia sehingga bukan “rasa itu manis, maka kita suka”, melainkan “kita suka rasa itu, maka itu manis”. Dan bagi saya, analogi ini sangat tepat untuk menghubungkan agama sebagai fenomena alam yang menjadi bagian dari evolusi manusia.

Secara keseluruhan, buku ini merupakan buku yang sangat saya rekomendasikan untuk dibaca. Terutama bagi konteks negara religius seperti Indonesia. buku ini dapat memberi paradigma baru yang membebaskan dari sikap fanatisme dan eksklusivitas. Apalagi jika melihat pendidikan di negara ini yang tabu dengan sistem multidispliner. Menurut saya hal ini dapat memperkaya literatur bagi para mahasiswa dan akademisi dari berbagai disiplin ilmu agar tidak terkekang dengan paradigma “spesialisasi yang radikal”.

Namun, buku yang ditulis Dennett ini sendiri juga masih dapat di evaluasi. Dan evaluasi saya disini mengacu pada pendapat 2 tulisan Alister E. Mcgrath, yakni Loving Science, Discovering God (2019) dan Science & Religion: A New Introduction (2010). Dalam riwayatnya, McGrath sendiri merupakan seorang ahli biofisika molekuler yang seiring perkembangannya memutuskan untuk belajar teologi. Dan seiring perkembangannya, paradigmanya berubah, dan sekarang ia menjadi profesor Teologi di Oxford, dengan bidang minat penelitiannya ada pada relasi teologi dan sains.

Sejujurnya, permasalahan yang terjadi ketika mendialogkan sains dengan agama adalah ketimpangan. Di mana para peneliti atau akademisi belum menguasai kedua bidang tersebut ketika mendialogkan. Dan yang terjadi ialah hanya condong ke satu sisi, entah itu sains ataupun teologi (agama). Hal ini menyebabkan terjadinya reduksi terhadap salah satu disiplin ilmu. McGrath sendiri menganggap bahwa relasi antara sains dan agama seharusnya jangan menjadi seperti musuh, namun juga jangan bersifat acuh dan berjalan masing-masing. Relasi antar agama yang diharapkan oleh McGrath adalah relasi yang terintergrasi.

Mcgrath sendiri mencoba mengintergrasikan sains dengan agama dalam bentuk teologi natural. Dalam tulisannya, McGrath mengemukakan bahwa teologi natural klasik merupakan upaya membuktikan keberadaan Tuhan melalui tanda-tanda atau segala yang ada di alam semesta. Di era klasik juga menganalogikan dua buku untuk dipelajari, yakni “book of God” yang merupakan Alkitab dan “book of nature” yang merupakan segala hal yang ada di alam. McGrath sedikit mengadopsi pengertian ini dan menuliskan bahwa teologi natural merupakan upaya mempelajari Tuhan melalui pengamatan alam yang berlandaskan pada teologi Kristiani, wahyu Alkitab, dan kolaborasi dengan sains, sehingga upaya-upaya untuk “mencari” Allah bukan sekadar melalui rasio manusia belaka. Pendekatan ini akan melihat bahwa alam sebagai ciptaan, mempunyai keterhubungan dengan Kristus.

Baca juga:

Sebagai penutup, saya melihat bahwa buku Daniel Dennett ini tetap layak dan bagus untuk dibaca. Namun, yang diharapkan ialah agar pembaca tidak berhenti pada satu bacaan ini saja, tetapi juga mengambil perspektif lain melalui buku yang juga memiliki kaitan dengan agama dan sains. Karena jika hanya berhenti pada satu bacaan, hal tersebut akan bersifat kontradiktif dengan apa yang dituliskan oleh Dennett dalam Breaking The Spell itu sendiri. Dan tentunnya perspektif yang kaya juga akan membantu agar tidak terbelenggu oleh perspektif atau ideologi yang menuntun pada sikap fanatisme. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Heski Dewabrata
Heski Dewabrata Teolog partikelir yang menulis kadang-kadang, dan suka ngopi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email