Aku tidak mau bertemu siapapun, kecuali dia. Seorang perempuan muda dengan rambut hitam sepinggang yang ujungnya bergelombang. Saat pertama kali bertemu denganku, dia berkata dengan sedikit berbisik.
“Saya punya rahasia, hanya di antara kita saja.” Dia melirik ke sekeliling ruangan, seolah-olah memastikan tidak ada orang lain yang mendengar kecuali kami.
Aku menajamkan pendengaran.
“Saya punya pil awet muda. Khusus untuk Bapak.”
Mataku terbelalak mendengarkan perkataannya. Ngawur. Umpatku dalam hati.
Namun, jemarinya yang lentik dihiasi cat kuku berwarna-warni begitu lihai mengeluarkan sejumlah pil dalam botol kaca. Rasa penasaranku menyeruak.
“Saya jamin Bapak akan terus awet muda jika rutin minum pil ini.” Dia menggulirkan beberapa pil pada telapak tangannya.
Aku memicingkan mata dan mengamati pil dengan warna aneh di depanku.
“Ah, ini sama seperti pil yang dibawakan perempuan tua itu!” Aku memalingkan wajahku dan menatap hamparan taman di luar kamar yang penuh dengan bunga bugenvil.
“Saya akan beri satu untuk Bapak. Hanya satu. Tiga hari lagi, saya akan datang kembali. Pikirkan baik-baik sebelum saya berubah pikiran.” Perempuan itu mengerlingkan matanya seolah menantangku. Aku tersenyum sinis, semua orang di sini pembual.
***
Seperti apa yang aku katakan, aku nanti bertemu orang. Bukan tanpa sebab, aku tidak mau membuang-buang waktuku bertemu banyak orang asing setiap hari. Aku orang tersibuk di kota ini.
Sebelum lampu kota padam digantikan cahaya matahari, aku sudah bergegas menuju kantor. Saat lampu kota mulai menyala dan jalanan dipenuhi kendaraan, aku bersiap pulang. Aku bekerja saat orang bahkan belum bersiap. Aku pulang ketika mereka terlelap.
Aku tidak gila kerja. Aku hanya mencoba bertahan hidup di kota yang gila. Persaingan di mana-mana. Semua orang butuh makan, semua orang rela antri berjam-jam demi melamar satu pekerjaan. Maka, ketika pekerjaan itu hadir sendirinya di depan mataku, pantang untuk berkata tidak.
Aku memulai karir sebagai salesman. Setiap hari pekerjaanku adalah menyebarkan flyer di pinggir jalan. Debu dan asap kendaraan adalah sahabatku. Sudah menjadi hal yang biasa melihat selebaran itu melayang begitu saja selepas aku memberikannya pada orang-orang yang lewat. Awalnya ada nyeri dalam dadaku, tapi aku memilih memutuskan tidak terlarut pada satu penolakan.
Rupanya, dunia ingin mengajakku bercanda. Tidak hanya satu tapi berpuluh-puluh penolakan menyapaku. Aku mencoba menghubungi kawan-kawan lamaku. Beberapa di antara mereka bersikap baik meski aku tahu mereka hanya tidak enak untuk menolak. Masih lebih baik dibandingkan mereka yang pura-pura sibuk dan sulit dihubungi.
Aku tidak menyerah begitu saja. Setiap malam aku datangi ruko, pasar, atau tempat apapun di mana orang banyak berkerumun. Aku bagikan flyer di pom bensin saat orang mengantri. Aku berikan senyum dan sikap terbaik. Hingga akhirnya, aku menemukan pelanggan pertamaku. Dia lah yang membuka garis takdirku menjadi seorang jutawan sekaligus orang tersibuk di kota ini.
***
Aku tidak masalah menjadi orang tersibuk. Sebab, kesibukanku membuat dompetku gemuk. Dari Salesman, Supervisor, Area Sales Manager, Regional Sales Manager, dan akhirnya aku di posisi sekarang. Menjadi seorang Head of Sales.
Semua orang memujiku. Orang-orang yang dulu enggan bertemu, kini tak henti-hentinya mencari waktu untuk bisa bertatap muka denganku walau hanya lima menit. Dunia berbalik, kini aku yang punya kuasa.
Kehidupanku semakin sempurna ketika aku menikah dengan seorang perempuan cantik yang lembut dan manis. Dialah istriku, Sukma. Kami bertemu saat aku masih seorang salesman.
Begini kira-kira pertemuan kami.
Suatu malam selepas hujan, kala sepatuku terendam banjir dan bajuku kuyup, aku memutuskan untuk berteduh di sebuah warung kopi. Warung itu tak begitu ramai, hanya ada dua orang pria yang sedang merokok dan tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Aku meletakkan flyer yang telah basah di tempat duduk paling ujung.
Suara musik dangdut pantura yang saling berlomba dengan deru hujan menjadi pengiring pertemuan kami. Aku tidak menyadari kehadirannya yang sejak tadi menunggu pesananku.
“Kopi pahit satu. Yang panas, ya,” ujarku cepat.
Ia hanya mengangguk dan menyiapkan pesananku. Beberapa menit berselang, kopiku telah siap. Namun, kopi itu tidak hadir sendirian. Ia menyodorkan handuk berwarna biru pudar namun bersih.
“Untuk mengeringkan badanmu,” katanya sembari berlalu.
Sejak saat itu, pikiranku tak bisa lepas darinya. Warung kopi di ujung gang itu menjadi tempat yang rutin aku kunjungi selepas lelah bekerja. Dan aku terus menyebut namanya pagi, siang, dan malam. Sukma. Nama yang senantiasa bergema syahdu dan membuat degup jantungku tidak beraturan.
***
Sukma adalah pembawa rezeki. Tanpa membuang waktu, aku beranikan diri untuk meminangnya. Rupanya, keputusan untuk menikahinya membawa perjalanan karirku melesat. Hidupku semakin sempurna ketika kami dikaruniai seorang putri mungil yang sama cantiknya seperti Sukma.
Namun, kesempurnaan hidup yang telah aku dapatkan ternyata tak cukup. Aku tidak ingin Sukma dan anakku, Amara, menderita sepertiku dulu. Aku ingin memberikan yang terbaik untuk mereka. Bara semangat dalam dadaku membuncah. Aku semakin rajin bekerja. Sukma mengurus Amara sedangkan aku mengurus kebutuhan mereka berdua.
Kadang terbesit rasa bersalah saat aku harus meninggalkan Amara ketika ia belum terbangun dan pulang saat tidurnya pulas. Namun, Sukma selalu menenangkanku dan berkata bahwa Amara mengerti. Amara paham ayahnya bekerja untuk keluarga kecil ini.
Jika akhir pekan, aku berusaha hadir untuk Amara. Namun, tuntutan pekerjaan yang semakin tinggi seiring dengan jabatan yang aku emban, membuatku tak bisa lama-lama menghabiskan waktu dengan anak dan istriku. Lagi-lagi, Sukma selalu bisa mengerti. Begitu pun Amara. Aku beruntung memiliki mereka.
***
Awalnya hanya sekedar ingin memenuhi kebutuhan, tapi lama-lama aku jadi haus jabatan. Rasanya tidak cukup hanya sampai di titik ini. Maka, aku berusaha mengejar sampai setinggi-tingginya. Tentunya dengan persetujuan Sukma dan Amara.
Kadang, aku sampai bermalam di kantor demi mengejar target. Lama-lama aku semakin tenggelam dalam pekerjaan dan melupakan keluarga kecilku. Tak terasa, Amara sudah tumbuh menjadi seorang remaja.
Kini ia pandai merajuk. Jika aku tidak memenuhi keinginannya, ia akan marah padaku. Ia pintar mencari perhatian. Aku berusaha untuk menurutinya, namun lagi-lagi aku adalah orang sibuk yang tidak bisa diganggu. Maka, ibunya akan hadir menjadi dewi penyelamat.
“Emang apa, sih, yang Ayah kejar?”
Suatu ketika Amara mengomel karena aku membatalkan janji untuk liburan bersama.
“Ayah tidak mau kalian hidup susah. Mara pasti paham, kan?” aku melembutkan suaraku dan mencoba sabar meskipun pekerjaan telah menungguku.
“Yang Ayah berikan selama ini sudah cukup. Kita tidak kesulitan. Apa susahnya senang-senang sebentar?” katanya dengan air mata yang hampir tumpah.
Aku mengusap rambutnya perlahan dan berkata,
“Ayah janji akan menemani Amara liburan. Sabar sebentar, ya.”
Setelah itu, hubunganku dengan Amara menjadi renggang. Pernah suatu ketika aku berkata pada istriku, bahwa aku tidak ingin apa-apa lagi. Sudah cukup semua ini. Tapi, aku hanya ingin satu permintaan.
“Aku ingin terus awet muda. Supaya bisa terus menjaga kamu dan Amara.”
Saat itu, Sukma hanya terkikik geli. Mana ada orang yang terus-terusan awet muda. Katanya aku tukang menghayal.
Sukma tidak tahu, beberapa tahun setelahnya, aku bertemu dengan seseorang yang bisa mengabulkan permintaanku.
***
“Bapak sudah minum pilnya?” Perempuan penjual pil itu hadir kembali. Kini ia menatapku tak sabar. Aku mengangguk pelan.
“Bagaimana rasanya?” Ia menuntut jawaban.
“Segar.”
Hanya itu yang aku rasakan. Entah mengapa, setelah sekian lama aku merasa begitu lelah, baru kali ini aku merasakan tubuhku sedikit segar.
“Bagus! Itu adalah efek pertama. Nanti, jika Bapak rutin konsumsi pil ini, tentu Bapak akan semakin awet muda.” Dia menepukkan kedua tangannya seolah-olah baru saja berhasil dalam sebuah eksperimen.
“Jadi, bagaimana? Bapak mau saya bawakan setiap hari?”
“Sstt… jangan bilang-bilang. Ini hanya kita saja yang tahu,” katanya sembari meletakkan jarinya di depan bibir.
Ia menengok sekeliling dan melanjutkan perkataannya,
“Aman.”
“Perempuan tua itu tidak ada di sini. Bapak bisa ambil pilnya.”
Perempuan itu tersenyum dan menyerahkan dua buah pil kepadaku.
“Ini untuk nanti siang dan malam. Jangan lupa diminum. Besok saya ke sini lagi. Saya sudah tidak sabar melihat Bapak yang makin awet muda.”
Dia tertawa renyah sembari melambaikan tangan kepadaku. Sebelum langkah kakinya keluar dari ruangan, aku teringat sesuatu.
“Siapa namamu?”
Dia menghentikan langkahnya dan menoleh kepadaku.
“Tidak penting. Yang penting Bapak ingat saya datang ke sini. Dan besok, besoknya lagi saya akan datang.”
Ia menutup pintu perlahan. Dari sekian banyak orang asing yang ada di sini, hanya dia satu-satunya yang aku ingat jelas wajahnya.
***
Sesuai janji perempuan itu, keesokan harinya ia datang kembali. Kali ini aku tidak sedang sibuk. Oh iya, ada dua perempuan yang kerap mendatangiku. Perempuan penjual pil awet muda dan perempuan tua yang begitu cerewet. Perempuan tua ini melarangku untuk sibuk. Katanya, aku tidak boleh terlalu capek. Lha, dia tidak tahu seberapa sibuknya aku dulu.
Perempuan muda itu datang membawa tiga pil.
“Setiap hari jatahnya hanya tiga,” katanya sembari menatapku.
“Memang kenapa kalau lebih dari tiga?”
“Jangan, nanti Bapak tiba-tiba jadi remaja. Bikin takut semua orang,” katanya sembari terkekeh.
Mendengar kata remaja, mengingatkanku pada seseorang.
“Saya punya anak remaja. Seorang perempuan. Namanya Amara.” Aku menatap kosong pada jam dinding yang jarumnya tidak bergerak. Sudah lama aku minta perempuan tua untuk membelikan baterai jam dinding itu tapi tak digubrisnya juga.
“Apakah kamu tahu di mana anak saya? Ah, saya juga punya istri. Di mana dia?”
Seketika sesak memenuhi dadaku. Ada ratusan jarum yang rasanya menusuk-nusuk sampai nafasku sesak. Perempuan muda itu mencoba menenangkanku.
“Bapak minum dulu pilnya, ya. Setelah itu kita cari anak dan istri Bapak bersama-sama,” katanya dengan tatapan prihatin.
Demi Amara. Demi istriku. Aku telan bulat-bulat pil yang ia berikan. Aku harus tetap muda agar bisa menjaga mereka. Aku harus tetap muda untuk menemukan mereka.
***
Perempuan muda itu secara rutin mendatangiku. Semula aku enggan bertemu karena aku sibuk. Namun, lama-lama aku memberikan waktuku untuk mendengarkan ia bercerita. Aku tidak sepenuhnya memahami, tapi kisahnya seolah membawaku pada lorong panjang. Dan aku merasa terusik untuk menitinya.
Suatu ketika ia pernah bercerita bahwa keluarganya begitu sempurna. Ayahnya pekerja keras sepertiku, ibunya begitu penyayang. Namun, suatu ketika ayahnya gagal menjaga mereka. Ibunya pergi lebih dulu sehingga menyebabkan hidupnya berubah.
Seperti mendongeng untuk anak kecil, ia selalu menyelipkan syarat agar aku mau melahap makanan dan minum obat pahit dari perempuan tua yang menyebalkan itu. Aku menurut saja, katanya itu bisa sedikit mengobati rasa sedihnya.
***
Setelah pertemuan terakhir kami, perempuan penjual pil awet muda itu menghilang. Ada banyak pertanyaan yang bercokol dalam pikiranku. Ke mana ia?
Saat seseorang membuka pintu, aku segera membetulkan posisi dudukku dan pura-pura sibuk. Aku tidak mau terlihat menantikan kehadirannya. Meskipun setiap kali ada suara langkah kaki mendekat, aku berharap itu sosoknya.
Termakan oleh rasa penasaran, akhirnya aku menyerah. Aku bertanya ke mana perginya perempuan muda itu kepada perempuan tua yang selalu menekuk wajahnya, seketika ekspresinya berubah. Wajah perempuan tua itu tiba-tiba sumringah.
“Bapak ingat dia? Perempuan yang rambutnya segini?” Perempuan tua itu meletakkan tangannya di pinggang yang tak lagi ramping. Ia menyunggingkan senyum dan memamerkan barisan gigi yang tidak rata. Jujur, melihat ekspresi sumringahnya jauh lebih menyeramkan. Aku mengangguk perlahan dan membuat senyum wanita tua itu semakin lebar.
Sudah lama aku lupa bagaimana rasanya mengharapkan sesuatu. Namun, sejak bertemu dengan perempuan yang membawa pil ajaib itu, aku ingin menyambut hari esok. Dan aku menantikan perasaan itu kembali hadir.
***
Hidupku kembali sunyi. Di kota yang sesak dengan ribuan manusia, aku merasa sendiri. Ada ruang hampa yang seharusnya diisi. Tapi setiap kali aku mencari, seketika aku terlupa. Ada lubang yang menganga lebar dalam hatiku, sepertinya isinya rindu. Tapi, entah kepada siapa.
Perempuan tua itu mengetuk perlahan pintu kamarku. Aku melengos malas. Kutatap bulan yang timbul malu-malu di balik awan hitam dari jendela. Beberapa bintang juga turut berkelip. Seolah memberikan penghiburan kepadaku.
“Pak, sudah minum obatnya?”
Dia selalu memaksaku minum obat yang begitu pahit. Aku tak suka. Aku suka pil awet muda yang diberikan perempuan muda itu.
“Aku ingin bekerja. Berikan tas kerjaku. Aku bosan dikurung di kamar ini setiap hari,” kataku dengan tetap memunggunginya.
“Besok kita jalan-jalan ya, Pak. Kita bertemu Amara, bertemu anak Bapak.”
Aku membalikkan badan tak percaya. Perempuan tua itu mengangguk dengan penuh semangat.
“Tapi Bapak harus minum obat ini, ya. Supaya besok kuat dan sehat.”
Aku menyambar gelas dan menelan obat dengan cepat. Tak sabar menantikan hari esok. Hari pertemuan dengan anakku.
***
Esok harinya, perempuan tua itu menjemputku. Ia akan membawaku ke taman untuk bertemu Amara.
Sebelum menuju taman, aku mematut diri di cermin. Sudah lama tak kulakukan kebiasaan yang sering aku lakukan sebelum berangkat bekerja. Berlama-lama di depan cermin. Menyisir rambut perlahan, menyemprotkan parfum, dan merapikan kemeja.
Semua sudah kulakukan. Namun, aku tampak berbeda. Wajahku penuh kerutan, rambut hitam legamku menghilang. Kepalaku dipenuhi uban. Saat aku melangkah, kakiku terasa sakit.
Perempuan tua itu memapahku perlahan. Membawaku keluar kamar setelah berminggu-minggu aku hanya terduduk di ranjang keras dan berkutat dengan pemandangan halaman taman yang terhalang oleh kaca.
Katanya, sebentar lagi ada seseorang yang ingin bertemu denganku. Anakku. Ya, anakku.
Pagi ini, matahari mengintip perlahan dari balik awan. Namun, aku masih bisa merasakan kehangatannya menyusup pada pori-pori kulitku. Aku menatap gumpalan awan yang berarak perlahan. Suara gemericik dari air mancur buatan yang selalu dibanggakan perempuan tua membuat suasana semakin sempurna.
“Ayah…”
Samar-samar aku mendengar seseorang menyapa. Suara itu mengalun lembut di telingaku. Seseorang memanggilku. Aku membalikkan tubuhku dan melihat sosoknya.
“Ayah…” mata bulatnya berkaca-kaca.
Sesaat setelah ia menarik nafas dalam, seulas senyum nampak pada wajah teduhnya.
“Ayah… Ini Amara,” katanya melanjutkan dengan suara tercekat.
Aku tidak mengenalnya. Dia bukan anakku. Amara masih remaja. Bukan seorang perempuan muda. Dia bukan Amara.
Butuh beberapa saat untuk memproses semua ini. Aku memutar otak. Kukerahkan semua ingatan yang pernah tersimpan dalam memori. Seketika aku mengenali satu sosok.
“Apakah kamu membawa pil awet muda?”
*****
Editor: Moch Aldy MA
