Hari ini, masyarakat kita hidup di dalam sebuah pertunjukan yang nyaris tak pernah berhenti. Tanpa harus naik panggung, setiap orang tampil melalui gestur, pilihan sikap, unggahan media sosial, hingga cara merespons peristiwa publik.
Kamera ponsel menjadi lampu sorot, linimasa menjadi tribun penonton, dan tubuh—baik tubuh individu maupun tubuh kolektif—dipaksa terus hadir dan bereaksi. Dalam situasi ini, masyarakat tidak lagi sekadar penonton dari berbagai pertunjukan sosial dan politik, melainkan telah menjelma sebagai sebuah performance art.
Dalam hal ini, performance art tidak lagi bisa dipahami semata sebagai disiplin seni kontemporer yang hidup di galeri atau ruang pertunjukan. Ia justru menawarkan cara membaca bagaimana tindakan sehari-hari, politik kekuasaan, hingga ekspresi solidaritas bekerja sebagai rangkaian aksi performatif.
Baca juga:
Bukan terutama soal keindahan atau keanehan artistik, melainkan soal bagaimana kehadiran, tubuh, dan emosi diproduksi, dipertontonkan, dan dikonsumsi dalam ruang publik yang semakin visual dan serba cepat. Ada relasi kuasa, strategi pencitraan, dan pilihan etis yang menentukan apakah sebuah aksi sungguh bermakna, atau sekadar menjadi bagian dari pertunjukan yang segera berlalu.
Performance art sendiri, sejak awal kemunculannya, memang menempatkan tubuh sebagai medium utama. Tubuh tidak sekadar objek yang ditampilkan, melainkan medan konflik: antara kontrol dan kebebasan, antara kehendak personal dan tekanan sosial.
Seperti misalnya Marina Abramović, seniman performance art asal Serbia, dalam karya The Artist Is Present (2010) duduk diam berjam-jam di MoMA New York, menatap mata pengunjung yang bergantian duduk di hadapannya tanpa kata dan tanpa gestur. Peristiwa ini menegaskan bahwa kehadiran tubuh, waktu, dan relasi tatap muka dapat menjadi karya seni itu sendiri, sekaligus kritik atas dunia modern yang serba cepat, penuh distraksi, dan kehilangan pengalaman hadir secara utuh.
Tatapan dan diam di sini menjadi bahasa, memaksa penonton berhenti dan berjumpa—dengan seniman, sekaligus dengan dirinya sendiri. Namun hari ini, logika serupa justru kita jumpai di luar museum—di ruang publik dan ruang digital.
Politik Teatrikal
Ambil contoh fenomena politik kontemporer yang kian teatrikal. Kampanye politik tidak lagi bertumpu pada gagasan atau program, melainkan pada gestur, simbol, dan aksi yang dirancang untuk viral. Blusukan, joget di panggung, menangis di depan kamera, atau mengenakan atribut tertentu menjadi bagian dari koreografi kekuasaan.
Di sini, politisi tidak hanya berbicara, tetapi tampil. Mereka memainkan peran, mengatur ekspresi, dan memanfaatkan tubuh sebagai pesan. Politik berubah menjadi pertunjukan berkelanjutan, di mana kehadiran lebih penting daripada makna.
Dalam kerangka performance art, ini menarik sekaligus problematis. Aksi politik semacam itu bekerja seperti performance tanpa jeda refleksi. Ia menuntut perhatian, bukan pemahaman. Yang dinilai bukan kedalaman gagasan, tetapi seberapa kuat dampaknya secara visual.
Maka kita mendapati masyarakat yang dilatih menjadi penonton reaktif, bukan partisipan kritis. Tepuk tangan, kemarahan, dan ejekan menjadi respons instan yang cepat berganti, tanpa pernah benar-benar mengendap.
Fenomena serupa juga terlihat dalam praktik aktivisme hari ini. Banyak aksi protes yang dirancang dengan kesadaran visual tinggi dengan poster yang estetik, busana simbolik, slogan singkat yang mudah difoto. Ini bukan hal yang keliru. Justru di sinilah performance art memberi pelajaran penting yaitu agar aksi harus terlihat agar eksis.
Namun masalah muncul ketika estetika aksi lebih dominan daripada keberlanjutan gerakan. Protes berubah menjadi momen, bukan proses. Ia kuat di awal, tetapi cepat menghilang begitu sorotan kamera bergeser.
Beberapa karya performance art kontemporer mencoba mengkritik situasi ini secara sadar. Misalnya, aksi-aksi seniman yang menggunakan durasi panjang, repetisi melelahkan, atau ketidaknyamanan ekstrem. Tubuh dipaksa hadir dalam waktu lama, menolak logika viral yang serba cepat.
Sebagai contoh, dalam satu dekade terakhir, seniman Arahmaiani konsisten menggunakan performance art sebagai praktik kesadaran yang bekerja lewat durasi, repetisi, dan kerja tubuh yang melelahkan. Dalam berbagai aksinya—terutama yang berangkat dari isu ekologi, spiritualitas, dan kekerasan simbolik—tubuh dihadirkan bukan sebagai tontonan, melainkan sebagai medan tanggung jawab.
Gerak yang berulang, ritme yang lambat, dan keterlibatan langsung dengan lanskap atau komunitas membuat karyanya menolak logika instan. Performance tidak ditujukan untuk viral, tetapi untuk mengendapkan makna, memaksa penonton bertahan dalam waktu, dan menyadari bahwa krisis—ekologis maupun kemanusiaan—tidak bisa diselesaikan secara cepat.
Juga Melati Suryodarmo, dalam karya Exergie – Butter Dance (2014), ketika tubuhnya terus menari di atas lantai licin berlapis mentega, berulang kali jatuh, bangkit, dan jatuh lagi. Repetisi yang melelahkan ini menjadikan kegagalan sebagai inti pertunjukan, bukan kesalahan yang harus disembunyikan. Tubuh dipaksa hadir dalam ketidaknyamanan yang berkepanjangan, menolak narasi keberhasilan cepat yang lazim dalam budaya performatif hari ini.
Dalam konteks global, karya seniman transgender Kanda-Amerika Serikat, Cassils—yang menggunakan latihan fisik ekstrem dan benturan tubuh sebagai arsip kekerasan terhadap tubuh non-normatif—memperkuat gagasan bahwa performance art bekerja melawan ekonomi perhatian. Tubuh diperlambat, dipertaruhkan, dan dibiarkan lelah, sebagai penolakan terhadap dunia yang ingin segalanya ringkas, mudah dibagikan, dan segera dilupakan.
Terkini, kita bisa membaca praktik diam para peserta Aksi Kamisan sebagai performance politik yang sangat kuat. Tanpa panggung resmi, tanpa teriakan, tanpa dramatisasi berlebihan, tubuh-tubuh itu hadir setiap minggu, menolak lupa. Diam menjadi bahasa. Ketekunan menjadi pesan. Ini performance yang tidak meminta tepuk tangan, tetapi menuntut ingatan.
Etika Kehadiran
Di sinilah performance art memberi kita pelajaran penting tentang etika kehadiran. Tidak semua aksi harus spektakuler. Tidak semua penderitaan perlu dipertontonkan secara emosional.
Kadang, justru pengulangan yang sunyi dan konsisten jauh lebih subversif daripada ledakan sesaat. Dalam masyarakat yang terobsesi pada kebaruan, tindakan yang setia pada waktu adalah bentuk perlawanan.
Namun kita juga perlu jujur melihat sisi gelap dari logika performatif ini. Media sosial telah mengubah hampir semua pengalaman menjadi potensi pertunjukan. Kesedihan, solidaritas, bahkan tragedi, kerap dikemas agar layak unggah.
Bencana alam, misalnya, sering kali direspons dengan konten empati yang cepat dan dangkal berupa foto bantuan, video tangisan, caption penuh simpati. Sekilas tampak peduli, tetapi sering berhenti di sana. Performance empati menggantikan kerja solidaritas yang nyata dan berjangka panjang.
Dalam bahasa performance art, ini adalah simulasi kepedulian. Tubuh tampil sebagai penanda moral, bukan sebagai alat perubahan. Kita “hadir” secara visual, tetapi absen secara struktural. Inilah paradoks masyarakat performatif – semua orang sibuk tampil sebagai subjek yang peduli, tetapi sedikit yang benar-benar mau terlibat dalam proses yang melelahkan dan tidak fotogenik.
Karena itu, membaca masyarakat hari ini melalui performance art juga berarti mengajukan pertanyaan etis seperti untuk siapa sebuah aksi dilakukan? Siapa penontonnya? Dan apa yang tersisa setelah pertunjukan selesai?
Performance art yang reflektif selalu menyadari relasi ini. Ia tidak hanya memproduksi efek, tetapi juga membuka ruang tafsir dan ketidaknyamanan. Ia tidak memberi jawaban cepat, tetapi memaksa kita tinggal lebih lama dengan pertanyaan untuk menggugah kesadaran.
Baca juga:
Dalam konteks sosial-politik mutakhir—di tengah polarisasi, krisis kepercayaan, dan banjir informasi—kita membutuhkan lebih banyak “performance” yang bekerja seperti itu. Tindakan yang tidak tergesa-gesa. Aksi yang tidak sepenuhnya bisa diringkas dalam satu foto. Kehadiran yang tidak selalu menyenangkan, tetapi jujur. Performance yang tidak memanjakan penonton, melainkan menggugah kesadaran.
Pada akhirnya, performance art membantu kita memahami bahwa masyarakat kita sedang terus beraksi, sadar atau tidak. Setiap unggahan, setiap gestur publik, setiap sikap politik adalah bagian dari panggung bersama.
Pertanyaannya bukan lagi apakah kita sedang tampil, tetapi bagaimana kita memilih peran. Apakah kita sekadar figuran dalam pertunjukan besar kekuasaan, atau aktor yang sadar, kritis, dan bertanggung jawab atas tindakan kita sendiri. Di situlah performance art berhenti menjadi seni semata, dan berubah menjadi alat baca zaman, yang tajam, tidak nyaman, tetapi perlu. (*)
Editor: Kukuh Basuki
