Senang membaca, beberapa kali menulis dari meneliti sederhana.

The Worst Person in the World: Usia 20-an dan Ketakutan yang Tersingkap

Titania Elsa

4 min read

Akhir tahun 2025 lalu, saya menonton sebuah film Norwegia berjudul The Worst Person in the World. Film ini tidak menawarkan jawaban, melainkan cermin tentang ketakutan yang kerap menyertai usia 20-an. Saya menemui Julie, tokoh utama yang hidup dalam kebimbangan: berpindah minat, mengubah arah hidup, mengambil keputusan yang sering kali lahir dari dorongan impulsif.

Di usia yang disebut-sebut sebagai masa paling produktif itu, Julie justru terjebak dalam kebingungan yang akrab: tidak tahu apa yang benar-benar diinginkan, tetapi terus merasa tertinggal. Melalui dirinya, film ini seperti mengisahkan kegamangan banyak orang di usia yang sama.

“I wasted so much time worrying about what could go wrong. But what did go wrong was never the things I worried about.” 

Penggalan dialog tersebut mengenai saya dengan tepat. Mengingatkan betapa sering saya dan teman-teman sebaya menghabiskan waktu untuk mencemaskan masa depan yang belum tentu terjadi. Dari film ini, saya membayangkan sebuah kemungkinan: bagaimana jika hidup dijalani dengan memberi sedikit ruang pada ketidaktahuan? Bagaimana jika kita berani berjalan tanpa harus memahami seluruh rencana di awal, tanpa membebani diri dengan ketakutan akan masa depan yang belum tentu nyata?

Baca juga:

Namun, pertanyaan itu segera berubah menjadi kegelisahan lain. Apakah saya dan teman-teman seusia saya memiliki kemewahan yang sama untuk menanggalkan rasa takut?

Waktu, Kesempatan, dan Pilihan

Dalam film tersebut, kita dapat melihat bagaimana Julie berpindah minat dari satu hal ke hal lain. Ia mampu memilih, meninggalkan, lalu menentukan arah baru dengan relatif cepat. Namun, pilihan-pilihan itu kerap bersifat temporal dan datang sebagai dorongan sesaat, lalu menguap. Karena itu pula, Julie tak luput dari pertanyaan tentang keseriusannya. Ada yang meragukan, ada pula yang justru mengagumi keberaniannya untuk memilih dan memutuskan, meski berkali-kali berubah arah.

Kehidupan sosial Julie digambarkan berada dalam lingkungan yang menuntutnya untuk segera serius “menjadi”. Dalam salah satu percakapan, ia ditanya tentang profesinya di bidang menulis, pertanyaan sederhana yang justru membuatnya gagap. Julie tak sepenuhnya mampu memberi jawaban, seolah menghindari penamaan atas dirinya sendiri. Seakan-akan, selama ia belum menetapkan satu identitas yang jelas, keberadaannya belum cukup sah.

Baca juga:

Kondisi semacam ini terasa akrab dalam kehidupan sosial kita hari ini. Di dunia yang serba cepat, kita didorong untuk segera memutuskan: kuliah apa, bekerja sebagai apa, dan akan menjadi siapa. Berpindah minat bukan lagi perkara keberanian, melainkan kemewahan. Usia menjadi penanda yang menekan, seolah dunia akan runtuh ketika kita tak lagi berada di angka dua puluhan.

Suatu hari, saya berbincang dengan seorang teman yang rupanya pernah berganti minat kuliah. Ia bercerita telah menempuh hampir empat tahun studi di salah satu universitas negeri sebelum akhirnya memutuskan pindah ke sebuah institut kesenian. Saya kagum pada keberaniannya bahkan berulang kali menanyakan bagaimana perasaannya saat mengambil keputusan itu, serta bagaimana respons lingkungan sekitarnya: keluarga, teman kampus, hingga lingkar sosial terdekat.

Ia menjelaskan bahwa di kampus barunya, kisah semacam itu bukanlah hal asing. Banyak mahasiswa datang dengan latar cerita yang serupa: pernah salah memilih, pernah bertahan terlalu lama, lalu akhirnya berani berpindah. Di ruang itu, ia menjelaskan bahwa perubahan arah tidak serta-merta dianggap kegagalan, melainkan bagian dari proses mencari diri.

Namun, ketika menengok realitas hari ini, saya justru melihat betapa sempitnya ruang untuk melakukan hal serupa. Bahkan melalui aturan studi S1, seseorang hanya diberi kesempatan mendaftar maksimal hingga tahun ketiga setelah lulus SMA atau sederajat. Setiap kampus memang memiliki kebijakan yang berbeda, tetapi kecenderungan aturan semacam ini memberi gambaran jelas: memilih di usia 20-an bukan hanya soal keberanian personal, melainkan juga soal batasan struktural.

Persoalan ini tak berhenti pada umur. Dalam konteks kita hari ini, berpindah minat sukar dan mustahil karena ekonomi yang rapuh. Kita tak sepenuhnya bebas memilih apa yang diinginkan, melainkan dipaksa memilih apa yang memungkinkan kita bertahan. Gaji yang tak seberapa, kebutuhan hidup yang terus meninggi, dan waktu yang habis untuk bekerja membuat ruang untuk mengenal diri sendiri kian menyempit. Menjalani hidup di negara dunia ketiga memberi kita ilusi kebebasan memilih, tetapi pada saat yang sama memaksa kita mengambil keputusan dengan cepat, bahkan sering kali tanpa benar-benar siap.

Berbeda dengan Julie, kita bukan hanya diminta menentukan arah hidup, melainkan juga diminta memastikan bahwa pilihan itu cukup untuk menyambung hidup esok hari. Sebab, alih-alih diberi kesempatan untuk menjelajah minat, kita justru dipaksa memastikan pilihan sejak dini. Dan di situlah krisis usia 20-an menemui kita: bukan semata kebingungan, tetapi ketakutan karena tahu bahwa waktu dan sistem tidak selalu berpihak pada kita.

Ruang Gagal Begitu Sempit dan Kita Sulit Bernafas

Julie tidak pernah digambarkan sebagai sosok yang sempurna. Ia kerap salah memilih, ragu, bahkan terjebak dalam keputusan yang ia buat sendiri. Namun film ini tidak memposisikan kesalahan sebagai akhir cerita. Kesalahan justru hadir sebagai bagian yang tak terpisahkan dari proses pencarian jati diri. Di dalam The Worst Person in the World, menjadi dewasa bukanlah soal menemukan jawaban yang tepat secepat mungkin, melainkan berani bertahan di tengah kebingungan dan menerima bahwa arah hidup dapat berubah sewaktu-waktu.

Yang menarik, pencarian jati diri Julie tidak berhenti ketika usianya melewati 30 tahun. Ia tidak tiba-tiba menjadi sosok yang mapan, selesai, dan utuh. Kegagalan-kegagalan yang ia alami tidak diberi penanda waktu yang kaku. Film ini seolah menolak gagasan bahwa hidup memiliki tenggat tertentu untuk “berhasil”. Sebaliknya, pencarian itu terus berlangsung, berlapis, dan kerap kembali mengulang pertanyaan yang sama: siapa diri kita, dan apa yang sebenarnya kita inginkan.

Berbeda dengan gambaran tersebut, pencarian jati diri dalam kehidupan sosial kita hari ini hampir selalu dibayang-bayangi oleh tuntutan stabilitas. Di usia yang sama, kita dituntut segera memiliki pekerjaan tetap, penghasilan yang cukup, dan masa depan yang tampak aman. Pencarian diri seolah harus diselesaikan sedini mungkin, sebab ekonomi tidak memberi banyak ruang untuk ragu. Kita tidak benar-benar diberi waktu untuk salah, apalagi berlama-lama dalam kebingungan.

Dalam konteks ini, kegagalan menjadi sesuatu yang menakutkan. Bukan karena gagal itu sendiri, melainkan karena konsekuensinya yang terlalu mahal. Kegagalan seringkali dimaknai sebagai kemunduran total. Sebuah titik akhir, bukan proses. Istilah “memulai dari nol”, atau bahkan dari minus, menjadi simbol betapa setiap kesalahan selalu dikaitkan dengan persoalan ekonomi terlebih dahulu: kehilangan waktu, kehilangan penghasilan, dan kehilangan peluang untuk bertahan.

Padahal, pencarian jati diri dan kegagalan kerap datang sebagai satu paket. Ia adalah cara kita mengenali batas, keinginan, dan kemampuan diri. Namun di realitas sosial kita, kegagalan justru menutup pintu, bukan membuka jalan. Ia tidak diberi ruang untuk dipelajari, melainkan segera dihakimi.

Di titik inilah The Worst Person in the World terasa begitu dekat sekaligus jauh. Kita mungkin sama-sama cemas seperti Julie, sama-sama takut salah memilih, tetapi tidak semua dari kita memiliki kesempatan untuk terus mencari. Film ini tidak menawarkan solusi, tetapi menyisakan pertanyaan yang pahit: “apakah kegagalan masih boleh menjadi bagian dari hidup, ketika bertahan saja sudah terasa begitu sulit?” Dan mungkin, krisis usia 20-an hari ini bukan sekadar soal kebingungan, melainkan tentang bagaimana sistem tidak pernah benar-benar memberi ruang bagi kita untuk gagal dan tetap melanjutkan hidup setelahnya. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Titania Elsa
Titania Elsa Senang membaca, beberapa kali menulis dari meneliti sederhana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email