Empirical? Nah, vibes only.

Ketika Negara Gagal, Selalu Ada yang Selingkuh

Adrian Janitra Putra

3 min read

Ada satu pola yang terus berulang—terlalu sering untuk disebut kebetulan, tapi selalu terlalu “remeh” untuk dianggap serius. Setiap kali negara berada dalam sorotan karena kegagalannya sendiri—entah itu bencana yang tak tertangani, kebijakan yang menyakiti publik, skandal korupsi besar, atau keputusan politik yang telanjang—tiba-tiba ruang publik kita dibanjiri oleh isu lain yang sama sekali tidak berhubungan: pejabat selingkuh, eks pejabat cerai, artis ketahuan affair, atau drama rumah tangga figur publik.

Fenomenanya nyaris ritualistik. Seolah ada jam tak tertulis: ketika kritik terhadap negara mulai mencapai titik berbahaya—berbahaya bagi legitimasi—maka sesuatu yang bersifat personal, intim, dan sensasional harus segera dilempar ke tengah kerumunan. Dan anehnya, kita semua seperti sudah tahu, tapi tetap saja ikut menoleh.

Baca juga:

Sebagai penonton media, kita mungkin menganggap ini sekadar “kebetulan algoritma”. Tapi sebagai objek kajian Medienwissenschaften, pola ini justru membuka pertanyaan yang jauh lebih gelisah: bagaimana perhatian publik dikelola, dialihkan, dan dilunakkan—bukan melalui sensor, melainkan melalui hiburan?

Dari Sensor ke Distraksi: Evolusi Kekuasaan Media

Di masa lalu, negara yang takut kritik memilih cara kasar: sensor, pelarangan, pembungkaman. Tapi di era media digital, cara itu terlalu mencolok dan berisiko. Yang dibutuhkan kini bukan membungkam suara, melainkan menenggelamkannya.

Alih-alih menutup mulut publik, sistem media modern bekerja dengan menjejali ruang publik dengan suara lain—lebih emosional, lebih personal, lebih memicu rasa ingin tahu. Gosip, skandal seksual, perceraian, dan drama moral punya keunggulan yang tidak dimiliki isu struktural: ia mudah dicerna, tidak menuntut konteks, dan tidak mengharuskan kita berpikir terlalu lama.

Kegagalan negara membutuhkan analisis. Gosip hanya membutuhkan reaksi.

Dalam logika media, keduanya bersaing di ruang yang sama: timeline, trending topics, kolom komentar, grup WhatsApp keluarga. Dan dalam kompetisi itu, isu yang menuntut refleksi panjang hampir selalu kalah dari isu yang menawarkan kepuasan instan.

Ekonomi Atensi dan Politik Ketidaksabaran

Media tidak lagi terutama beroperasi sebagai ruang deliberasi publik, melainkan sebagai mesin ekonomi atensi. Yang paling lama ditatap, paling banyak diklik, dan paling sering dibagikan—itulah yang dianggap “penting”.

Masalahnya, kegagalan negara tidak selalu “menjual”. Ia kompleks, sering kali membosankan, dan menuntut empati yang melelahkan. Sebaliknya, cerita perselingkuhan pejabat atau artis menyediakan narasi yang jelas: ada pelaku, ada korban, ada pengkhianatan, ada moral.

Dalam istilah Medienwissenschaften, ini bukan sekadar soal konten, tapi soal arsitektur perhatian. Media tidak hanya menyajikan informasi, tetapi membentuk kebiasaan melihat—apa yang pantas dipikirkan lama, dan apa yang cukup disesali sambil lalu.

Akibatnya, kritik terhadap negara sering tidak mati—tapi kehilangan momentum. Ia tidak dibantah, tidak disangkal, hanya digeser.

Personalisasi sebagai Strategi Depolitisasi

Ada aspek lain yang menarik: hampir semua isu pengalih perhatian itu bersifat personal. Tubuh, relasi, seksualitas, rumah tangga. Hal-hal yang sangat manusiawi—dan justru karena itu, sangat efektif untuk menjauhkan kita dari struktur.

Ketika perhatian publik difokuskan pada “siapa selingkuh dengan siapa”, kita berhenti bertanya tentang sistem dan mulai menghakimi individu. Politik berubah menjadi drama moral, bukan lagi arena tanggung jawab kolektif.

Ini adalah bentuk depolitisasi yang halus. Negara tidak perlu menyangkal kegagalannya; cukup biarkan publik sibuk mengutuk karakter seseorang. Kritik struktural melemah karena energi emosional sudah habis di tempat lain.

Ironisnya, kita sering merasa “kritis” saat membicarakan gosip itu—padahal yang sedang kita lakukan justru menjauh dari politik itu sendiri.

Publik yang Lelah dan Hasrat untuk Melarikan Diri

Namun menyalahkan media atau negara saja tidak cukup. Ada faktor lain yang lebih tidak nyaman untuk diakui: kita lelah.

Publik hidup dalam krisis yang bertumpuk—ekonomi, iklim, kesehatan, pekerjaan, identitas. Dalam kondisi seperti itu, gosip bukan sekadar distraksi; ia menjadi bentuk pelarian. Ia menawarkan ilusi kendali: kita mungkin tidak bisa mengubah kebijakan negara, tapi kita bisa punya opini tentang kehidupan pribadi orang lain.

Dalam perspektif ini, gosip berfungsi sebagai coping mechanism. Tapi seperti banyak mekanisme pelarian lain, ia bekerja dengan harga mahal: hilangnya fokus kolektif terhadap hal-hal yang seharusnya dipertanggungjawabkan bersama.

Normalisasi Pola, Bahaya yang Sebenarnya

Yang paling mengkhawatirkan bukanlah satu atau dua kasus. Bahayanya justru terletak pada “normalisasi pola”. Kita menjadi terbiasa melihat skandal personal muncul tepat ketika isu struktural memanas. Terbiasa hingga berhenti heran. Hingga tidak lagi bertanya: “kenapa sekarang?”

Dalam Medienwissenschaften, kebiasaan semacam ini disebut sebagai pembentukan horizon ekspektasi. Kita mulai mengantisipasi distraksi, dan karena itu, kehilangan kejutan. Ketika perhatian kita bisa diprediksi, ia juga bisa dikelola.

Baca juga:

Dan mungkin di situlah inti masalahnya: bukan bahwa publik dibodohi, tapi bahwa publik dibiasakan.

Pertanyaan yang Tidak Nyaman

Tulisan ini tidak ingin menawarkan kesimpulan final. Justru sebaliknya—ia ingin berhenti di pertanyaan yang mengganggu:

  • Mengapa kita selalu tahu pola ini, tapi tetap terjebak di dalamnya?
  • Apakah gosip benar-benar muncul “kebetulan”, atau kita hanya terlalu malas untuk menelusuri relasinya dengan kekuasaan?
  • Dan yang paling sulit: apakah perhatian kita masih milik kita sendiri?

Mungkin kegagalan negara tidak selalu ditutupi dengan kebohongan besar. Kadang ia hanya dikubur pelan-pelan di bawah reruntuhan gosip yang kita konsumsi bersama—sambil mengeluh, sambil tertawa, sambil lupa.

Dan mungkin, yang perlu kita latih ulang bukan sekadar sikap kritis terhadap negara, tetapi disiplin atas perhatian kita sendiri. Karena di era media hari ini, kekuasaan tidak selalu bekerja dengan larangan. Ia bekerja dengan pengalihan.

Dan sejauh ini, strategi itu terlalu sering berhasil. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Adrian Janitra Putra
Adrian Janitra Putra Empirical? Nah, vibes only.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email