Menulis merawat akal sehat dan menyehatkan pikiran

Modernitas dan Kebahagiaan: Sebuah Renungan

Alridho Putranto

2 min read

Saat ini, kita hidup di zaman yang serba cepat. Segalanya bergerak tanpa jeda. Teknologi yang terus bertumbuh seiring dengan kemajuan sains, informasi yang menumpuk di berbagai linimasa media, dan kita, sebagai seorang manusia, seolah dipaksa atau bahkan terpaksa untuk selalu menerima segala hal tersebut. Namun di tengah semua itu, ada satu pertanyaan fundamental yang menggantung di benak orang-orang yang hidup di zaman ini yakni: Apakah manusia modern sudah benar-benar bahagia?

Pertanyaan itu seakan menjadi pekikan sunyi di balik hiruk-pikuk peradaban yang makin hari kian bising. Kita memiliki segalanya, kemudahan akses, konektivitas tanpa batas, dan berbagai bentuk hiburan yang bisa dinikmati kapan saja. Namun, di balik layar yang menyala dan notifikasi yang terus bergema, banyak dari kita justru merasa hampa.

Kehidupan yang serba cepat telah membuat manusia kehilangan ruang untuk berhenti sejenak, merenung, dan benar-benar merasakan makna dari keberadaan dirinya sendiri. Bahagia kemudian bukan lagi soal kedamaian batin, melainkan direduksi menjadi sekadar ilusi yang dibungkus dengan pencapaian secara materialistis simbolis semata.

Baca juga:

Bertrand Russell dalam bukunya The Conquest of Happiness, telah mengajukan renungan serupa hampir seabad yang lalu. Ia menulis bahwa banyak penderitaan manusia modern bukan berasal dari kemiskinan atau kelaparan, melainkan dari “kebingungan batin” dan “kekosongan makna” yang tumbuh di dalam hati mereka. Dunia telah maju secara teknis, kata Russell, tetapi belum tentu maju secara emosional. Manusia modern mungkin berhasil menaklukkan dunia, namun belum tentu berhasil menaklukkan dirinya sendiri.

Russell percaya bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang datang dari luar, bukan dari harta, status, atau pengakuan sosial, melainkan dari cara kita menata kehidupan batin. Ia menyebut sumber kebahagiaan sebagai “outward-looking interest”, yakni kemampuan untuk keluar dari jerat ego dan menaruh perhatian pada hal-hal di luar diri yakni mencintai, mencipta, berpikir, dan berkontribusi. Dengan kata lain, kebahagiaan bukan soal apa yang kita miliki, tapi bagaimana kita menaruh makna pada kehidupan.

Namun, pandangan Russell ini terasa kurang lengkap tanpa menyentuh sisi eksistensial manusia yang lebih dalam. Di sinilah Rollo May, psikolog eksistensial asal Amerika, memberikan warna yang berbeda. Dalam pandangan May, penderitaan manusia modern bukan hanya karena kehilangan makna, tetapi juga karena kehilangan keberanian untuk menjadi diri sendiri. Dunia modern, katanya, sering kali membuat manusia hidup di bawah tekanan konformitas, harus mengikuti tren, harus terlihat sukses, harus bahagia di mata orang lain. Akibatnya, manusia menjadi cemas bukan karena gagal, melainkan karena takut tidak memenuhi ekspektasi dunia.

May melihat kebahagiaan bukan sebagai ketiadaan penderitaan, melainkan sebagai keberanian untuk hidup otentik, apa adanya, meskipun penuh risiko dan ketidakpastian. “Kebahagiaan yang sejati muncul ketika seseorang mampu menghadapi kecemasan eksistensialnya dengan jujur” tulisnya. Dalam artian ini, kebahagiaan tidak lagi menjadi sesuatu yang dicari, tetapi sesuatu yang ditemukan di tengah perjalanan menjadi diri sendiri.

Jika Russell berbicara tentang akal sehat dan keseimbangan emosi, May berbicara tentang keberanian eksistensial dan makna hidup. Dan keduanya, dalam konteks modernitas, saling melengkapi. Di tengah gemuruh teknologi dan tuntutan sosial, manusia modern membutuhkan keduanya yaitu kebijaksanaan rasional untuk menjaga keseimbangan hidup, serta keberanian eksistensial untuk tetap menjadi diri sendiri di tengah tekanan dunia.

Menariknya, pandangan ini juga sejalan dengan gagasan Viktor Frankl, seorang psikiater yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi. Frankl menulis dalam karyanya, Man’s Search for Meaning bahwa penderitaan bisa menjadi sumber makna, selama manusia mampu menemukan mengapa di balik setiap apa. “Mereka yang memiliki alasan untuk hidup,” tulisnya, “dapat menanggung hampir segala bentuk bagaimana.” Dalam kacamata Frankl, kebahagiaan bukan tujuan akhir, melainkan efek samping dari hidup yang bermakna.

Jika kita gabungkan ketiganya, Russell, May, dan Frankl, maka tampaklah bahwa kebahagiaan di era modern bukanlah sesuatu yang bisa “dikejar” secara langsung. Ia tidak muncul dari kesenangan instan, pencapaian material, atau validasi digital yang kita cari dari media sosial. Kebahagiaan justru hadir ketika manusia berhenti berlari dari dirinya sendiri; ketika ia berdamai dengan kecemasannya, menemukan makna dalam perjuangannya, dan mampu keluar dari jebakan egosentris menuju kehidupan yang lebih luas dan penuh cinta.

Namun, di tengah refleksi ini, kita menyadari bahwa modernitas bukan hanya membawa ancaman, tetapi juga peluang. Dunia yang serba cepat membuka ruang bagi kreativitas, koneksi lintas budaya, dan pertukaran gagasan yang tak terbatas. Tantangannya adalah bagaimana kita tidak kehilangan kedalaman di tengah kecepatan, tidak kehilangan makna di tengah kemudahan, dan tidak kehilangan diri di tengah hiruk pikuk pencitraan.

Baca juga:

Mungkin, seperti yang diisyaratkan oleh Rollo May, kebahagiaan di zaman modern bukanlah tentang menghindari kecemasan, tetapi tentang mengolahnya menjadi kekuatan. Karena di balik setiap kecemasan, selalu ada potensi untuk bertumbuh. Dan seperti yang diingatkan Russell, kebahagiaan bukan sesuatu yang mistis atau metafisis, ia bisa diraih, asal kita mau belajar hidup sederhana, mencintai dengan tulus, dan berpikir dengan jernih.

Pada akhirnya, kebahagiaan modern bukanlah milik mereka yang paling kaya, paling sibuk, atau paling terkenal, tetapi milik mereka yang paling mampu menghayati hidupnya. Mereka yang berani berhenti sejenak, menatap langit sore, dan berkata dengan tenang: “Aku hidup. Dan itu sudah cukup.” (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Alridho Putranto
Alridho Putranto Menulis merawat akal sehat dan menyehatkan pikiran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email