Berita itu pertama kali muncul di TV, Breaking News yang menyela acara gosip sore. Menteri Pemberdayaan Rakyat Miskin jadi tersangka korupsi anggaran Program Satu Desa Satu Lumbung. Aku berhenti mengocok telur, lalu mengelap tangan di apron dan berjalan mendekat ke layar. Di sanalah lelaki itu; rambut klimis disisir ke belakang, dagu terangkat sedikit, masih sama sombongnya seperti dulu. Yang membedakannya, kali ini dia mengenakan rompi oranye dan borgol di tangan.
Aku tidak tahu apakah harus merasa puas, lega, atau sekadar bingung karena akhirnya dunia melihatnya seperti aku dulu melihatnya. Aku memanggil Ira, istriku, dan bilang bahwa ide itu adalah milikku, dan sejak awal sudah bermasalah. Dia tertawa, mengira aku bercanda, padahal tidak. Gagasan “Satu Desa Satu Lumbung” memang benar milikku dulu, di kelas tiga SMA. Akulah yang mengusulkannya dalam diskusi kelompok mata pelajaran Ekonomi di jam terakhir sekolah.
Nama menteri itu adalah Armin. Dia satu-satunya siswa di kelas yang dua puluh tahun lalu mengangkat tangan dan mencecarku tanpa ampun. Dia bertanya, “Kalau begitu siapa yang jamin anggaran lumbung gak bakalan diambil kepala desanya?” Aku jawab “sistemnya akan diawasi rakyat.” “Rakyat yang mana?” Tanyanya lagi. “Yang bahkan gak bisa baca laporan keuangan?” Aku mencoba menjawab, tapi Armin terus menimpali, kalimat demi kalimat, sampai aku kehilangan arah. “Berarti idemu cuma bikin maling baru di tingkat desa,” katanya lagi. Murid-murid sekelas tertawa. Naik pitam, aku bilangi dia bodoh, dan Armin membalas dengan menyebutku idealis kosong. Kami saling bersahutan seperti dua kucing yang siap gelut, sampai aku tak tahan lagi dan melemparinya penghapus papan tulis. Armin berdiri di atas meja menantangku menyelesaikannya dengan berkelahi di lapangan sekolah. Seisi sekolah harus turun tangan untuk melerai kami berdua.
Malamnya Ira menatapku dari seberang meja makan sambil menguleni adonan donat. “Kenapa kamu kelihatan senang sekali orang itu ditangkap? Cemburu, ya?” Aku tertawa kaku. “Yang benar saja. Cemburu sama koruptor?” Tapi mata istriku menuntut serius. “Bukan sama korupsinya,” katanya. “Sama hidupnya. Belum pernah aku dengar seseorang yang begitu bahagia melihat kawan masa kecilnya kesusahan.”
Malam itu aku menggeliat gelisah di ranjang, tidak bisa tidur memikirkan tuduhan Ira yang mungkin ada benarnya.
Dua puluh tahun lalu, aku dan Armin tak cuma bersaing untuk mendapatkan peringkat satu atau memenangkan debat kelas. Kami juga memperebutkan Lisa, gadis paling cerdas di sekolah; bermata bening, senyum lembut, dan punya kebiasaan mencatat setiap hal yang dikatakan guru. Kami bertiga selalu terpilih menjadi tim cerdas cermat mewakili sekolah dan memenangkan banyak kejuaraan tingkat provinsi. Meski begitu, untuk urusan hati, aku bisa merasakan antusiasme di mata gadis itu setiap kali aku bicara. Pada satu kesempatan, di atas bus yang membawa kami pulang dari lomba di kota, Lisa bersandar di bahuku karena mengantuk, dan Armin yang melihatnya dari spion dalam langsung membuang muka tidak senang.
Aku menganggap itu tanda kemenangan, sampai beberapa minggu kemudian Lisa mulai menjauh tanpa alasan. Ketika aku menanyakan, gadis itu hanya menunduk memandangi sepatunya, “Aku nggak mau dekat-dekat sama orang kayak kamu lagi,” lalu pergi.
Anehnya, setelah kejadian itu Lisa terlihat mendekat ke Armin, atau mungkin sebaliknya, aku tidak tahu. Armin mengajak Lisa jalan-jalan di atas Toyota Yaris berwarna silver, hadiah ulang tahun yang ke-17 dari ayahnya yang dipanggil Pak Letnan Kolonel. Hari-hariku pun berjalan di bawah bayang-bayang kemenangan Armin. Mobil baru itu tak pernah berhenti lalu lalang di ruas jalan desa kami dengan jendela depan terbuka. Aku tahu Armin sengaja ingin membuatku cemburu, tapi dia salah jika aku bakal membalas. Ibuku bekerja membuat kue-kue dan ayahku hanya seorang guru mengaji yang dibayar tiga bulan sekali, kadang hanya dengan sembako atau ucapan terima kasih bersama setandan pisang dan ubi. Lagi pula, keluargaku tak mengenal perayaan ulang tahun dan pemberian hadiah semacamnya. Jadi, menantangku bersaing dalam hal itu tak ada gunanya.
Selepas SMA aku menyusul pamanku untuk merantau ke ibu kota dan memulai hidup baru sampai bertemu dan menikahi Magfira. Hal itu membantuku melupakan kekesalan pada Armin, begitu pula gadis itu. Memang, sesekali namanya akan muncul kembali lewat informasi sambil lalu yang diselipkan ibuku ketika menelepon dari kampung. Selepas SMA si Letnan Kolonel membukakan jalan bagi perjalanan karier politik si bungsu. Karena memiliki fisik yang lemah sejak kecil, Armin tak bisa mengikuti jejak tiga kakaknya yang lain sebagai tentara. Dia mulai ikut-ikut rapat ayahnya yang juga merupakan pengurus wilayah sebuah partai besar. Sejak saat itu nasib baik seperti terus bersamanya.
Dalam lima tahun Armin berhasil duduk sebagai anggota dewan tingkat lokal. Ketika aku dan Ira akhirnya bisa mengontrak petak kecil di pasar untuk berjualan kue, Armin melesat sangat jauh dengan menjadi wakil bupati di usianya yang masih tiga puluh tahun. Ketika aku sedang harap-harap cemas menunggu kelahiran putri pertamaku di klinik, aku malah mendengar kabar jika dirinya sudah menikah lagi. Bertahun-tahun kemudian, aku melihatnya sedang membentak orang di lampu merah. Dari atas mobil Range Rover, Armin menjulurkan kepalanya keluar jendela, mengumpati para pengendara di depannya yang tak mau membuka jalan. Dia terlihat sedang buru-buru ke suatu tempat atau semacamnya. Di rumah aku bilang kepada istriku bahwa sepertinya aku melihat teman lamaku di jalanan Jakarta pagi ini. Ira hanya menaruh telunjuk di bibirnya, menyuruhku diam. Di televisi, presiden sedang membacakan susunan reshuffle kabinetnya dan Armin ternyata ada di sana. Seorang imam meletakkan Quran di atas kepalanya, dan Armin mengucapkan sumpah akan menjalankan amanah sebagai menteri Pemberdayaan Rakyat Miskin yang baru.
Aku ingin tertawa dan bilang betapa takdir sungguh tak ada yang tahu, tapi kemudian sadar bahwa pikiran semacam itu hanya ada di kepala orang miskin. Bagi Armin, masa depan bisa dibayangkan, dilihat dengan terang benderang, sejelas bebatuan di dasar sungai jernih.
Ira bilang kalau sebaiknya aku mengunjungi kawan lamaku itu di penjara. Itu ide yang buruk, kataku geleng-geleng kepala. Tapi entah mengapa, terlanjur mengatakan bahwa gagasan “Satu Desa Satu Lumbung” itu adalah milikku menimbulkan semacam perasaan bersalah dalam diriku juga. Dan semakin dipikirkan semakin aku mencari tahu apakah ada kemungkinan untuk menjenguknya. Aku menelepon ibuku dan dia bilang kalau pada awal bulan, rombongan keluarga Armin akan berkunjung ke Jakarta untuk menghadiri sidang perdana. Ibuku tidak menyarankanku untuk datang tapi berkata, “Tidak jauh dari tempatmu, kan?” sebelum menutup telepon.
Yang datang lebih tepat disebut satu garnisun ketimbang rombongan. Saking banyaknya penjenguk, aku pikir keluarga Armin membawa separuh dari warga kampung. Ada si Letnan Kolonel yang rambutnya sudah memutih seluruhnya duduk di atas kursi roda, ibu Armin, dan kakak-kakaknya yang lain beserta keluarga masing-masing. Selain itu mereka juga membawa beberapa tetangga yang wajahnya cukup familier, enam pengawal berbadan besar—mereka semua adalah preman kampung—yang entah untuk apa. Seluruh rombongan keluarga Armin menginap di satu hotel yang sama. Malamnya, aku mendatangi tempat itu dan memperkenalkan diri, berharap mereka masih mengingatku. Dari balik pintu kamar setengah terbuka, si Letnan Kolonel dan istrinya tersenyum, mengatakan bahwa mereka tak akan lupa pada bocah tetangga yang dulu meminjam gitar anaknya lalu pura-pura menangis dan beralasan dicuri orang, padahal dijual ke tukang loak. Mereka juga berjanji akan memberiku waktu untuk mengobrol dengan Armin esok hari.
Lima menit terakhir sebenarnya tidak cukup untuk membicarakan banyak hal berdua dengan kawan lamaku itu. Armin tampak lelah tapi tak kunjung juga kehilangan perangai sombongnya. Setelah dua menit basa-basi tentang kabar kehidupan terkini, aku melompat ke pertanyaan tentang Lisa. Aku heran dari dua istrinya aku tak melihat gadis masa SMA kami itu. Armin sedikit terkejut, lalu menunduk dan bilang semua tidak berjalan sesuai rencana. Aku tidak tahu apa maksudnya itu, tapi Armin tiba-tiba meminta maaf dan mengaku jujur bahwa dialah yang dulu menyebar desas-desus bahwa aku memprovokasi guru BP untuk mengeluarkan Lisa dari kelompok yang akan dikirim lomba tingkat nasional dan menggantikannya dengan Susi, siswi bahenol dari kelas IPA 2. Rupanya itulah alasan Lisa memusuhiku. Aku tercengang, tapi buru-buru bilang tak usah meminta maaf, aku sudah melupakannya.
Jadi aku bertanya tentang program itu. “Kau sendiri yang bilang di debat kita kalau kebijakan ini cacat dari awal. Kenapa malah dijalankan?” Tapi Armin sepertinya tak mau membicarakannya. Karena tak ingin membiarkan topik itu lepas begitu saja, aku lantas mengaku kalau sebenarnya dulu aku juga mencomot ide itu dari artikel yang pernah kubaca di majalah Prisma, sebuah eksperimen ekonomi ala IMF di negara miskin Afrika dan juga gagal karena rentan dikorupsi. Armin tertawa dan mengakui kalau memang aku sejak dulu selalu selangkah berada di depannya. Dia membayangkan bertanya apa yang akan aku lakukan untuk keluar dari situasi sulit ini jika aku yang berada di posisinya sekarang. Aku hanya tergelak pendek.
Tentu saja. Keunggulanku dulu adalah karena aku sering mencuranginya dengan mencuri start pelajaran. Di sekolah dasar, hampir sepanjang waktu aku memanfaatkan kepolosannya dengan memberinya tugas-tugas sulit dalam kerja kelompok, agar aku bisa muncul sebagai pahlawan dan membereskannya. Itu kulakukan supaya guru mendapat kesan jika Armin berada setingkat di bawahku. Itulah mengapa peringkat satuku lebih banyak dibanding dirinya. Tapi aku memilih tak mengatakan yang satu ini.
Petugas muncul untuk memberi tahu kami bahwa waktu besuk sudah habis. Armin bangkit dari duduknya, masih dengan tangan terborgol. Di kejauhan dia berbalik untuk menatapku sebentar lalu mengucapkan banyak terima kasih karena telah mengunjunginya. Aku berpamitan kepada Si Letnan Kolonel dan keluarga besarnya lalu keluar dari rumah tahanan KPK sembari menimbang-nimbang apakah harus hadir di persidangannya hari Kamis nanti. Matahari Jakarta bersinar sangat terik, keringat mengucur turun ke daguku. Sepanjang jalan pulang aku terus memikirkan Armin dan sampai kepada kesimpulan bahwa berakhir sebagai penjual donat dengan keluarga kecil yang biasa saja itu tidak buruk-buruk amat.
*****
Editor: Moch Aldy MA
