Tradisi workerism (operaismo) yang lahir di Italia pada awal 1960-an merupakan salah satu momen penting dalam sejarah hubungan antara ilmu pengetahuan dan praksis sosial. Ia tidak hanya muncul sebagai strategi politik kelas pekerja, tetapi juga sebagai eksperimen epistemologis yang berani — suatu upaya untuk menata ulang cara ilmu sosial memahami realitas. Dalam pandangan para workerist seperti Raniero Panzieri, Romano Alquati, dan Mario Tronti, pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial yang melahirkannya. Ilmu, jika ingin tetap bermakna, harus bersandar pada keterlibatan manusia dalam dunia yang sedang ia pahami.
Gagasan dasar ini lahir dari konteks konkret: Italia sedang mengalami industrialisasi cepat, sementara partai-partai kiri tradisional seperti Partai Komunis Italia (PCI) semakin tenggelam dalam birokrasi parlementer. Pekerja baru di pabrik-pabrik FIAT, Olivetti, dan Alfa Romeo menghadapi bentuk kerja yang sangat terorganisasi dan menekan. Di tengah situasi ini, kelompok intelektual muda di sekitar jurnal Quaderni Rossi berusaha menghidupkan kembali Marx dengan cara yang berbeda — bukan melalui teori ekonomi makro, melainkan dengan mendengarkan pengalaman pekerja secara langsung. Maka muncullah metode inchiesta operaia (penyelidikan buruh) dan conricerca (co-research), yang menjadi fondasi epistemologi sosial workerism.
Co-research adalah metode penelitian partisipatif di mana peneliti tidak berdiri di luar objeknya, tetapi bekerja bersama para buruh untuk memahami kondisi kerja mereka. Alquati, misalnya, tidak hanya mengumpulkan data atau wawancara, melainkan melibatkan buruh dalam setiap tahap riset: menyusun pertanyaan, menafsirkan hasil, dan merefleksikan maknanya terhadap kehidupan mereka sendiri. Tujuannya bukan semata menghasilkan pengetahuan objektif, tetapi memupuk kesadaran sosial dan politik. Dengan cara ini, pengetahuan menjadi proses sosial yang aktif — tidak sekadar mencatat realitas, tetapi turut membentuknya.
Baca juga:
Pendekatan ini menantang paradigma positivistik yang menganggap pengetahuan harus netral dan bebas nilai. Dalam tradisi positivisme, peneliti idealnya berdiri di luar subjek yang diteliti agar menghasilkan objektivitas. Namun workerism menilai bahwa justru jarak inilah yang membuat ilmu kehilangan makna sosialnya. Panzieri menulis bahwa “pengetahuan sejati tidak muncul dari pengamatan, tetapi dari partisipasi dalam kontradiksi sosial yang nyata.” Dengan kata lain, kebenaran ilmiah tidak terletak pada keterlepasan dari dunia, melainkan pada kesediaan untuk terlibat di dalamnya.
Dari sinilah muncul bentuk epistemologi yang khas — epistemologi sosial praksis. Ia menolak dualisme klasik antara subjek dan objek pengetahuan. Buruh bukan lagi “yang diteliti”, melainkan rekan berpikir, rekan memahami. Peneliti pun tidak lagi memegang posisi otoritatif sebagai pembawa kebenaran, melainkan menjadi bagian dari proses kolektif pencarian makna. Dalam kerangka ini, penelitian ilmiah dipahami sebagai aktivitas yang bersifat reflektif, kolaboratif, dan politis dalam arti luas.
Mario Tronti kemudian membawa prinsip ini ke tingkat teoretis yang lebih tajam melalui karyanya Operai e capitale (1966). Ia menyatakan bahwa selama ini teori Marxian cenderung membaca kapitalisme dari sisi kapital — dari hukum objektif ekonomi, dari logika akumulasi — sementara posisi pekerja ditempatkan sebagai akibat. Tronti membalik urutan itu secara radikal: kelas pekerja adalah titik awal untuk memahami kapital, bukan sebaliknya. Kapitalisme hanya dapat dipahami dari resistensi yang dihadapinya, bukan dari struktur internalnya sendiri.
Pernyataan ini menandai pergeseran epistemologis yang mendalam. Pengetahuan sosial, menurut Tronti, tidak mungkin netral karena dunia sosial itu sendiri dibangun dari hubungan kekuasaan. Maka yang dapat mengungkap struktur kapitalisme bukan pengamat eksternal, tetapi mereka yang berada di dalam kontradiksi itu — kelas pekerja yang setiap hari menegosiasikan hidupnya di dalam logika produksi. Dalam bahasa epistemologi sosial modern, Tronti menyusun apa yang kini kita kenal sebagai standpoint epistemology: posisi sosial tertentu memberi akses epistemik yang berbeda terhadap kebenaran.
Dengan demikian, workerism bukan sekadar teori tentang kerja, tetapi eksperimen tentang bagaimana pengetahuan diproduksi. Ia menunjukkan bahwa epistemologi tidak bisa dilepaskan dari lokasi sosialnya. Kebenaran, dalam arti ini, bukan sesuatu yang berdiri di luar sejarah, melainkan yang tumbuh di tengah perjuangan sosial. Karena itu, sains yang hidup bukanlah sains yang netral, melainkan sains yang sadar akan konteks dan posisinya—sains yang mampu berdialog dengan dunia yang ia kaji.
Namun perjalanan workerism tidak berhenti pada fase penelitian partisipatif. Ketika gelombang gerakan sosial tahun 1968 mereda dan represi negara meningkat, arah pemikiran ini mulai bergeser. Mario Tronti dan Massimo Cacciari memperkenalkan gagasan autonomia del politico—otonomi politik dari ekonomi dan masyarakat. Mereka berpendapat bahwa ranah politik memiliki rasionalitasnya sendiri yang tidak bisa direduksi pada dinamika kelas atau produksi. Dalam situasi pasca-gerakan, ketika spontanitas sosial mulai melemah, politik harus memperoleh bentuk yang lebih reflektif dan terstruktur.
Pergeseran ini membawa konsekuensi epistemologis. Pengetahuan yang sebelumnya bersifat kolektif dan partisipatif mulai terinstitusionalisasi dalam bentuk pengetahuan politik yang lebih teknokratis. Rasionalitas praktis digantikan oleh rasionalitas administratif. Tronti menekankan pentingnya il pensiero strategico—berpikir strategis sebagai bentuk baru praksis—namun di sisi lain, model ini menggeser sumber pengetahuan dari pengalaman sosial ke perencanaan politik. Murphy (2010) menyebutnya sebagai peralihan dari “epistemologi praksis” ke “epistemologi pemerintahan.”
Meski demikian, pergeseran ini tidak bisa dibaca semata sebagai pengkhianatan terhadap semangat awal workerism. Ia juga mencerminkan ketegangan permanen dalam epistemologi sosial: antara partisipasi dan refleksi, antara spontanitas dan institusionalisasi. Pengetahuan yang terlalu terikat pada pengalaman berisiko kehilangan stabilitas teoretis, sementara pengetahuan yang terlalu terlembaga bisa kehilangan daya emansipatifnya. Tronti dan Cacciari mencoba menyeimbangkan keduanya, meski hasilnya sering menimbulkan paradoks.
Cacciari memperdalam dimensi reflektif ini melalui karya filosofisnya Pensiero Negativo e Razionalizzazione (1977). Ia menunjukkan bahwa setiap bentuk rasionalitas modern, termasuk rasionalitas ilmiah, memiliki struktur kekuasaan dalam bahasa yang digunakannya. Bahasa, bagi Cacciari, tidak pernah netral; ia selalu mengatur apa yang mungkin dikatakan dan dipikirkan. Dalam hal ini, epistemologi sosial harus disertai kesadaran linguistik: pembebasan pengetahuan berarti juga pembebasan bahasa dari kekuasaan yang mengendalikannya.
Apa yang ditawarkan oleh workerism—baik dalam bentuk awalnya yang praksis maupun dalam bentuk reflektifnya—tetap relevan untuk menelaah penelitian ilmiah hari ini. Dalam era kapitalisme digital, ketika data dan informasi menjadi komoditas utama, posisi peneliti sering kali kembali menyerupai posisi pengamat eksternal terhadap masyarakat. Namun warisan workerism mengingatkan bahwa pengetahuan hanya bermakna sejauh ia menumbuhkan keterlibatan sosial.
Baca juga:
Banyak praktik riset kontemporer, seperti citizen science atau community-based research, secara tidak langsung mewarisi semangat co-research Alquati. Pengetahuan dibangun bersama masyarakat, bukan diberikan kepada mereka. Demikian pula, gagasan tentang “posisi sosial pengetahuan” (Tronti) menjadi penting dalam kritik terhadap bias algoritmik dan kapitalisme data: siapa yang memproduksi informasi, siapa yang diuntungkan, dan siapa yang tidak terdengar? Semua pertanyaan ini merupakan bentuk baru dari epistemologi sosial yang dulu dirintis oleh workerism.
Dengan demikian, workerism tidak hanya penting secara historis, tetapi juga metodologis. Ia mengajarkan bahwa penelitian ilmiah yang baik tidak berhenti pada akurasi empiris, melainkan berusaha memahami kehidupan sosial sebagai ruang dialog. Kebenaran tidak lagi berdiri di atas masyarakat, tetapi hidup di dalamnya. Epistemologi sosial workerism mengembalikan ilmu pada sifat dasarnya: sebagai usaha manusia untuk memahami dunia bersama orang lain.
Maka, refleksi terakhir yang dapat diambil dari tradisi ini adalah bahwa sains dan masyarakat bukan dua wilayah yang terpisah, melainkan dua wajah dari satu proses yang sama: pencarian bersama akan makna dan kebebasan. Pengetahuan ilmiah hanya benar-benar kuat ketika ia mampu berakar pada solidaritas sosial; sebaliknya, solidaritas sosial hanya bertahan ketika ia disertai refleksi rasional dan kritis. Dalam hubungan inilah, workerism memperlihatkan bahwa epistemologi sosial bukan sekadar teori tentang bagaimana manusia mengetahui, tetapi juga tentang bagaimana mereka hidup, bekerja, dan saling belajar dalam dunia yang terus berubah. (*)
Editor: Kukuh Basuki
