Usia Pak Hardjo sudah melewati separuh abad, rambutnya memutih seperti abu yang ditiup angin senja. Tiga puluh lima tahun hidupnya ia persembahkan di depan papan tulis, mengajari anak-anak mengeja huruf, menghitung angka, dan yang paling penting yakni belajar menjadi manusia. Murid-muridnya kini bertebaran: ada yang menjadi dokter, pedagang, polisi dan bahkan politisi. Namun dirinya tetap di sini, di sekolah desa yang berdinding bambu dan beratap seng, dengan gaji bulanan yang tak pernah cukup untuk membeli sepasang sepatu baru.
Pagi itu, seperti biasa, Pak Hardjo mengayuh sepeda tuanya melewati jalan berbatu. Ban sepedanya kerap selip di antara kerikil dan lumpur, namun ia terus mengayuh. Angin dingin dari lereng bukit menerpa wajahnya yang berkeriput, seolah mengingatkannya bahwa tubuh renta ini sudah terlalu lama menanggung lelah. Tapi lebih dari itu, ada duka yang bersarang di dadanya sebab hari ini adalah hari terakhirnya mengajar.
Bukan karena ia tak lagi mampu berdiri di depan kelas, melainkan karena hidup menuntut biaya yang tak pernah seimbang dengan gaji kecil seorang guru desa. Ia harus berhenti, mencari jalan lain agar dapur rumahnya tetap berasap.
Sesampainya di sekolah, anak-anak sudah menunggu di gerbang bambu. Senyum mereka seperti cahaya matahari yang menembus kabut pagi. Seorang murid berlari kecil, mengambil tas kulit usang milik Pak Hardjo. Anak-anak lain mengiringinya menuju aula sederhana yang hari ini dihias dengan pita warna warni.
Di depan aula, kepala sekolah, Bu Ratna, menyalaminya dengan mata berkaca-kaca. Seorang lelaki muda berkemeja batik rapi berdiri di sampingnya, memperkenalkan diri sebagai Bima, guru baru yang akan menggantikan Pak Hardjo mengajar bahasa Indonesia.
Ketika pintu aula dibuka, sorak sorai memenuhi ruangan. “Selamat datang, Pak Hardjo!” teriak anak-anak serempak. Di belakang panggung terbentang spanduk putih dengan huruf besar-besar: TERIMA KASIH ATAS PENGABDIANMU, PAK HARDJO.
Air mata yang ditahan akhirnya jatuh di pipi Pak Hardjo. Baginya, penghargaan itu lebih berharga daripada angka rupiah yang tak pernah cukup.
***
Suasana aula penuh kehangatan. Murid-murid membacakan puisi, menyanyikan lagu sederhana, dan menyuguhkan tarian kecil. Lalu, giilran Pak Hardjo diminta maju. Dengan tangan bergetar, ia mengeluarkan secarik kertas dari saku. Suaranya bergetar namun jernih ketika ia membaca:
Jika kulihat di jiwaku pesta yang tengah berjalan
Aku melihat masa depan murid-muridku seperti bintang-bintang malam kita
Nyalanya terang berwarna keemasan
Tahun demi tahun yang menyenangkan kujalani di sini
Semua cinta dan ilmu telah kuberi bagi murid-muridku
Kembali aku akan memberinya jika mereka memerlukan
Namun ada juga cemas yang menekan dalam dada …
Suara Pak Hardjo pecah di bait terakhir. Ia tidak sempat menyelesaikan puisinya. Aula hening, sebelum akhirnya pecah oleh tepuk tangan dan tangis para murid.
Di pojok ruangan, Bima, guru muda itu, memerhatikan dengan saksama. Sesuai acara, ia menghampiri Pak Hardjo.
“Pak, puisi Bapak indah sekali. Tapi… ada luka di balik kata-kata itu.”
Pak Hardjo tersenyum getir. “Luka itu bernama kenyataan, Pak Bima. Gaji seorang guru di desa kecil ini hanya cukup untuk bertahan, bukan untuk hidup. Padahal, kami dituntut untuk terus menyalakan cahaya.”
Bima terdiam. Ia menetap sosok tua di depannya dengan hormat. “Tapi cahaya itu, Pak, justru tak akan pernah padam. Karena Bapak telah menyalakan begitu banyak pelita kecil. Dan setiap pelita itu akan membesar menjadi obor.”
Mata Pak Hardjo berkaca-kaca lagi, kali ini bukan karena pilu, melainkan karena secercah harapan.
***
Senja mulai turun ketika acara perpisahan usai. Murid-murid dipulangkan lebih dahulu. Pak Hardjo menuntut sepedanya menuju gerbang. Ia menatap sekali lagi sekolah yang sederhana tapi penuh kenangan.
Bima menghampirinya, menyodorkan sebuah buku sebagai hadiah. “Pak Hardjo, ini buku favorit saya. Semoga menemani hari-hari pensiun Bapak.”
Pak Hardjo menerima buku itu sambil tersenyum. “Terima kasih, Pak. Semoga engkau bisa melanjutkan apa yang selalu saya perjuangkan.”
Dengan kayuhan pelan, Pak Hardjo meninggalkan sekolah. Jalan menurun dilaluinya dengan ringan, seolah bebannya ikut luruh bersama air mata. Sesekali ia bersiul kecil. Ia tahu, meski gajinya kecil dan hidupnya sederhana, cinta murid-muridnya akan selalu menjadi harta yang tak ternilai.
Dan di ujung jalan, di rumah yang hangat, istrinya telah menunggu. Bagi Pak Hardjo, itulah kebahagiaan yang sejati.
*****
