Perayaan Malapetaka
Musik berdendang dengan latar belakang gambus
Ia terlahir dari rahim petikan-petikan senar
Siul-siul burung menyertai kebahagiaan
Lahirnya sebuah tawa dan tangis sekaligus
Pada malamnya, diadakan kenduri mewah
Beralaskan karpet tebal warna merah
Tarian-tarian zapin menghiasi dini hari
Syair dan nyanyian mengiringinya
Tuhan akan memberikan kebahagiaan
Pada tanah suci tempat kelahiran
Sang anak adam, anak raja
Setelah dewasa kau akan merubah tatanan
Sampai pada kedewasaan anak itu
Ia membawa malapetaka
(Mataram, 2025)
–
Dapur Ibu
Ada banyak anak kalimat berserakan di wastafel
Suara kocor beruap mendidihkan kesunyian
Di meja makan tertata rapi kebisuan ibu
Gelas, garpu, sendok dan luka berdenting
Membuyar keheningan
Serupa kalimat, dapur itu rumpang
Ditinggal pergi oleh ayah
Tak ada yang mengasah
Dan mengasuh hanya tersisa
Bingar di kepala
Percakapan hangat
Menyisakan doa-doa selamat
Dipintal dari kesedihan dan ketulusan
Perjamuan tak lagi ada
Dan denting piring
Tak lagi membising
(Mataram, 2025)
–
Majapahit
Di Jalan Majapahit
Klakson membingar
Suara kenalpot motor
Melengking
Kedai-kedai malam
Masih setia dengan pelanggannya
Kicau kelelawar berseru
Di mana rindu, di mana rindu
Kau samar-samar melihatnya
Menggantung di kawat listrik
Ia tak di sana
Barangkali ia menggantung
Di tiang rumahku
Malam semakin malam
Kau pulang
Ia tak menggantung
Di sana
(Mataram, 2025)
–
Memotret Senja
: untuk Indah
Wajahmu masam setelah kau tahu
Aku tak ingin menuliskanmu puisi
Aku sudah tak pandai lagi
Kau tak mau tahu
Ingin segera kutuliskan
Beberapa bait puisi
Katamu tulisanku hanya untukmu
Segeralah
Kataku nanti saja ketika kita melihat senja
Aku tak mampu menangkap diksi
Jika tak bersama kopi dan senja
Klise katamu
Padahal hanya alibiku
Ingin bersamamu menjelang jingga
Duduk di tepi laut yang gemuruh
Memotretmu dengan pipimu yang tak
Kalah merah dibanding senja sore
Di tepi pantai kala itu
(Mataram, 2025)
–
Laku Tanpa Kata
Malam itu
Dingin membungkus kota
Sepi, tak ada lalu lalang
Kendaraan
Angin bergelantung
Di antara tiang listrik kota
Kita di beranda
Terbungkus dalam selimut panjang
Hangat.
Apa yang lebih bahagia?
(Mataram, 2025)
*****
Editor: Moch Aldy MA
