Mata Pelajaran
Ibu tiap hari mengajariku menjahit luka
bila kudapati ia dari luar pekarangan rumah
katanya kelak kau akan terbiasa menjahit
sesakmu saat kepala tiga
Ayah setia mengajariku untuk menghitung
beberapa artimatika, sebab kata bapak
itu akan kau butuhkan ketika menghitung bon belanja
padahal ayah lebih memilih menjadi pupuk segar bagi kamboja
Setelah ayah subur, ibu sibuk mendiktekanku keikhlasan
bercerita kisah-kisah heroik tentang ketulusan
sebab katanya
ketika aku menyusul bapak
kau tak lagi perlu
menampak sendu di rautmu
Padahal
kulihat tiap malam ibu selalu
menenun air matanya di ujung sunyi
(Mataram, 2025)
–
Menjemput Ayah
Tiap malam insomnia meradang
di sudut rumah kecil itu
masih tersangkut lirih tangismu
kala sakit bercokol di kakimu yang renta
Dalam dengkurmu yang lelap
membisu lelah
menggerogoti waktu
tak mampu berkompromi
dengan usiamu yang senja
Pada sisa udara yang tak lagi
mampu kau hirup
lingkar bibirmu begitu mesra
kala lantunan doa yang membingar
di daun telingamu yang melimau
(Mataram, 2025)
–
Menjenguk Dapur Ibu
Ibu kadang menanak sepi di dapur
mengulek lima biji bahagia dalam dadanya
menjadikannya hidangan utama
di meja makan tiap malam
Tapi ketika ditanya sudah makan
ia selalu menjawab kenyang
oleh doa-doa yang dimunajatkan
tiap malam.
(Mataram, 2025)
–
Balada
: kepada Husna
Alkisah seorang perempuan
berjalan pada terik mentari yang basah
bibirnya kelu
matanya berbinar
seolah-olah ada cermin duka
di antara rintik air matanya
Ia mencari-cari tenang
dalam kepalanya yang belukar
bertaruh di atas doa yang sesempatnya
ia langitkan pada teduh pohon flamboyan
di tengah kota
Ia tertatih
menyeret-seret kakinya yang lebam
terseok-seok dalam kesendirian
dengan penuh keyakinan
menemukan senyap
pada dua pilihan
nyeri dan sesak tak lagi mampu ia sisihkan
memblender semua isi kepalanya
lalu ia buang bersamaan
pada tempat yang tak mampu ia lihat
tak mampu ia tarik
tak mampu ia tadah
Kini
ia adalah mayat yang tak mampu
mengenali nisannya sendiri
(Mataram, 2025)
–
Ikat Pinggang
: untuk Guf
Pada malam-malam
kau mengisap beberapa linting tembakau
asap putih jadi candu semu
merembet ke paru-paru
ke lambung yang kau paksa berdiet seharian
Kau ikat pinggangmu
pacarmu sibuk menelepon Ambulans
pancaran matanya bernego dengan kematian
sering ia tulis pada lembar-lembar
kosong kepalanya
Di hari-hari berikutnya
tubuhmu menjelma kontraktor
menggali
membangun
dan menanam
hidup yang lembut
sebab katamu itu hadiah untuk pacarmu
yang rela mati, menggantikan sakitmu
Mataram, 2025
*****
Editor: Moch Aldy MA
