Dari Mata Batu
mata batu, sedingin batu nisan
‘kau anak tak tahu diuntung!’
sungkahku hasil keringat sendiri:
biar telur lima ribu dapat tiga
kecil-kecil dan kadang busuk pula
telunjuknya menancap ke ubun-ubun:
‘kau egois!’ lupa pula mereka
empat nyawa kecil dari rahim miliknya
menggantung di leherku sejak diriku pun masih sama kecilnya
kuajak mereka menari di atas bara
di saat hatiku pun ingin sekali merasakan tawa
kusuapi mereka abjad dan angka
saat hidupku pun masih mengeja
mereka mengumpat
meludahiku dengan sebutan ‘pemalas!’
sementara tiap inci dari tubuhku lebih mengabdi pada aturan dunia
pasrahku dijadikan medan perang
di puluhan tempat aku ditempa
menjadi budak yang mencicipi ribuan cerita
di mana aku merangkak dan meraba
di mana tubuhku diinjak dan dijajah
oleh tangan-tangan milik mereka tak berkepala
mereka tak tahu
memang tak sudi tahu
bahkan di saat diri ini sudah patah-mematah
bahkan untuk pasang telinga yang hilang entah ke mana
bahkan untuk bangkit lagi dan mencoba
memberi bukti pada mereka yang buta
tak ada lagi sisa dari diriku
(Jambi, 2025)
–
Ayah dan Rokoknya
pagi dimulai dengan batuk ayah
suara serak dan asap rokok yang mengepul tak sudah-sudah
hitungan rupiah di tangannya begitu teliti
tapi sebungkus rokok tak pernah kenal kata berhenti
puntung-puntung rokok di asbak ia bariskan
‘sekian beras,’ lirihnya pada diri
‘sekian listrik belum lagi minyak’
kepalanya berasap, otaknya berputar
kami diam saja, lahir bisu tak punya suara
asap rokoknya mengasah skil hidup sengsara
menahan napas kami agar tetap ada
ayah memang giat menanam derita di ladang keluarga
meski tahu buah-buahnya adalah celaka
ayah jago berhemat kalau sama kami
tiap rupiah keluar serasa dicabut paksa dari urat nadi
tetapi pada rokoknya ia tak pernah kikir
mengalir terus, hingga air mata kami pun tak dapat kami ukir
mungkin di balik kepulan asapnya yang abu-abu
ia punya surga kecil yang tak pernah kami tahu
(Jambi, 2025)
–
Tak Diinginkan
anak itu
lahir dari daftar wishlist yang keliru
‘nggak sengaja keluar!’
‘ya gimana, aku cinta kamu, mas..’
anak itu
dibesarkan oleh dua sejoli yang belum siap
dicumbui sisa emosi dan segala sumpah serapah
kalau jatuh dan menangis dibilang manja
tetapi kalau diam dan bangkit dibilang gila
dikuat-kuatkan dirinya
untuk menanggung tiap kata dari orang tua
berharap semoga ia cepat lupa
anak itu
diajari senyum dengan hidup apa adanya
diajari diam dari meja dilempar jadi rata
karena katanya, anak baik itu
diam, tidak akan minta apa-apa
(Jambi, 2025)
–
Jangan Main-Main dengan Anak
jangan main-main dengan anak
sekali ucapan burukmu bibit di hatinya
dua kali ucapan burukmu bertunas dalam batinnya
tiga kali, akarnya menjalar, mencekik ruang di dadanya
dan suatu hari saat kau akan mencari buahnya
hanya kau temukan semak belukar
yang tumbuh dari apa yang kau tanam sendiri
pada dirinya
(Jambi, 2025)
–
Eksperimen Ayah
aku bukan kupu-kupu, ma
aku hasil eksperimen gagal di kamar tidurmu
ayah menembakkan spermanya ke lantai
lalu lupa, yang menetas bukan harapannya
tapi aku
dia bilang, ‘kenapa kau merayap bukannya terbang?’
padahal sejak kecil aku diajar mencium lantai
bukan langit
aku tumbuh dengan enam kaki,
bukan karena ingin,
tapi karena ayah suka melempar pisau
dan aku perlu lebih banyak kaki untuk selamat
ayah muak lihat cangkang cokelatku
katanya jijik, tak pantas pamer di ruang tamu
padahal itu cuma pelindung
dari suara teriakan dan doa yang berubah jadi sumpah
ma, aku
memang tak bersayap pelangi
tapi aku bisa menari di sisa reruntuhan
dan bertahan di tempat yang ayah tinggalkan
(Jambi, 2025)
*****
Editor: Moch Aldy MA

sakit hati bangt bacanya😭😭😭😭😭🥹🥹🥹🥹