Membaca menginspirasi saya

Tak Diinginkan dan Puisi Lainnya

Windy Sherin

2 min read

Dari Mata Batu

mata batu, sedingin batu nisan
‘kau anak tak tahu diuntung!’
sungkahku hasil keringat sendiri:
biar telur lima ribu dapat tiga
kecil-kecil dan kadang busuk pula 

telunjuknya menancap ke ubun-ubun:
‘kau egois!’ lupa pula mereka
empat nyawa kecil dari rahim miliknya
menggantung di leherku sejak diriku pun masih sama kecilnya
kuajak mereka menari di atas bara
di saat hatiku pun ingin sekali merasakan tawa
kusuapi mereka abjad dan angka
saat hidupku pun masih mengeja

mereka mengumpat
meludahiku dengan sebutan ‘pemalas!’
sementara tiap inci dari tubuhku lebih mengabdi pada aturan dunia
pasrahku dijadikan medan perang
di puluhan tempat aku ditempa
menjadi budak yang mencicipi ribuan cerita 
di mana aku merangkak dan meraba 
di mana tubuhku diinjak dan dijajah
oleh tangan-tangan milik mereka tak berkepala 

mereka tak tahu
memang tak sudi tahu
bahkan di saat diri ini sudah patah-mematah
bahkan untuk pasang telinga yang hilang entah ke mana
bahkan untuk bangkit lagi dan mencoba
memberi bukti pada mereka yang buta
tak ada lagi sisa dari diriku 

(Jambi, 2025)

Ayah dan Rokoknya

pagi dimulai dengan batuk ayah
suara serak dan asap rokok yang mengepul tak sudah-sudah 
hitungan rupiah di tangannya begitu teliti
tapi sebungkus rokok tak pernah kenal kata berhenti

puntung-puntung rokok di asbak ia bariskan
‘sekian beras,’ lirihnya pada diri
‘sekian listrik belum lagi minyak’
kepalanya berasap, otaknya berputar

kami diam saja, lahir bisu tak punya suara
asap rokoknya mengasah skil hidup sengsara
menahan napas kami agar tetap ada
ayah memang giat menanam derita di ladang keluarga
meski tahu buah-buahnya adalah celaka

ayah jago berhemat kalau sama kami
tiap rupiah keluar serasa dicabut paksa dari urat nadi
tetapi pada rokoknya ia tak pernah kikir
mengalir terus, hingga air mata kami pun tak dapat kami ukir
mungkin di balik kepulan asapnya yang abu-abu
ia punya surga kecil yang tak pernah kami tahu

(Jambi, 2025)

Tak Diinginkan 

anak itu
lahir dari daftar wishlist yang keliru  
‘nggak sengaja keluar!’
‘ya gimana, aku cinta kamu, mas..’

anak itu
dibesarkan oleh dua sejoli yang belum siap
dicumbui sisa emosi dan segala sumpah serapah  
kalau jatuh dan menangis dibilang manja
tetapi kalau diam dan bangkit dibilang gila  
dikuat-kuatkan dirinya
untuk menanggung tiap kata dari orang tua
berharap semoga ia cepat lupa  

anak itu
diajari senyum dengan hidup apa adanya  
diajari diam dari meja dilempar jadi rata  
karena katanya, anak baik itu  
diam, tidak akan minta apa-apa

(Jambi, 2025)

Jangan Main-Main dengan Anak

jangan main-main dengan anak

sekali ucapan burukmu bibit di hatinya
dua kali ucapan burukmu bertunas dalam batinnya
tiga kali, akarnya menjalar, mencekik ruang di dadanya

dan suatu hari saat kau akan mencari buahnya
hanya kau temukan semak belukar
yang tumbuh dari apa yang kau tanam sendiri
pada dirinya

(Jambi, 2025)

Eksperimen Ayah

aku bukan kupu-kupu, ma  
aku hasil eksperimen gagal di kamar tidurmu 
ayah menembakkan spermanya ke lantai  
lalu lupa, yang menetas bukan harapannya
tapi aku  

dia bilang, ‘kenapa kau merayap bukannya terbang?’
padahal sejak kecil aku diajar mencium lantai  
bukan langit  

aku tumbuh dengan enam kaki,  
bukan karena ingin,  
tapi karena ayah suka melempar pisau  
dan aku perlu lebih banyak kaki untuk selamat  

ayah muak lihat cangkang cokelatku  
katanya jijik, tak pantas pamer di ruang tamu  
padahal itu cuma pelindung  
dari suara teriakan dan doa yang berubah jadi sumpah  

ma, aku
memang tak bersayap pelangi  
tapi aku bisa menari di sisa reruntuhan  
dan bertahan di tempat yang ayah tinggalkan

(Jambi, 2025)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Windy Sherin
Windy Sherin Membaca menginspirasi saya

One Reply to “Tak Diinginkan dan Puisi Lainnya”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email