Ketika umat Katolik masa kini mendengar nama Sodom dan Gomora, apa yang pertama kali melintas dalam benak mereka? Mungkin hanya sekelebat gambaran tentang dua kota jahat yang dihancurkan oleh murka Allah. Tapi seberapa dalam pemahaman mereka tentang kisah ini? Apakah sekadar cerita peringatan moral, ataukah kisah ini telah kehilangan konteks dan bobot spiritualnya di tengah arus tafsir modern yang terus berubah?
Seiring waktu, banyak istilah yang kehilangan makna asalnya. Dalam dunia yang dibanjiri label, analogi, dan hiperbola, “Sodom dan Gomora” kini nyaris sejajar dengan frasa kosong yang hanya berfungsi sebagai penggugah emosi tanpa substansi. Seperti halnya tuduhan “Nazi” atau “Hitler” yang dilemparkan sembarangan dalam perdebatan politik, menyebut seseorang atau suatu kelompok sebagai “Sodom” seringkali menjadi cara mudah untuk mengekspresikan ketidaksukaan, bukan untuk mengungkapkan kebenaran teologis atau moral.
Dalam tradisi Yahudi-Kristen, kisah kehancuran Sodom dan Gomora bukanlah sekadar mitos apokaliptik. Ia adalah kisah yang sarat dengan dimensi moral, spiritual, dan antropologis. Dalam Kitab Kejadian 18 dan 19, kita menemukan narasi yang rumit: tentang peringatan dari Allah, negosiasi Abraham, kegagalan manusia, kekerasan terhadap orang asing, dan kehancuran yang datang sebagai respons ilahi terhadap dosa kolektif. Dalam narasi itu, muncul tindakan yang kemudian menjadi dasar istilah “sodomi”: keinginan warga Sodom untuk “mengenal” dua tamu asing laki-laki, yang ternyata adalah malaikat utusan Allah.
Peristiwa tersebut diidentifikasi sebagai tindakan seksual yang menyimpang, yakni hubungan seksual sesama jenis. Istilah sodomi bahkan diambil dari nama kota tersebut, yang mengaitkan secara langsung peristiwa di Sodom dengan tindakan homoseksual. Gereja Katolik dalam berbagai dokumen magisterialnya, termasuk Katekismus, tetap menyebutkan bahwa tindakan homoseksual adalah “bertentangan dengan hukum alam”, meskipun tetap membedakan antara kecenderungan homoseksual dan tindakan homoseksual.
Baca juga:
Dalam beberapa dekade terakhir, muncul upaya dari sebagian kalangan, baik di dalam maupun di luar Gereja untuk menafsir ulang kisah Sodom dan Gomora. Argumen populer menyatakan bahwa dosa Sodom bukanlah seksualitas, melainkan ketidakadilan sosial, kekerasan terhadap tamu asing, dan kegagalan dalam menyambut orang lain. Mereka merujuk pada nubuat Nabi Yehezkiel (16:49): “Inilah kesalahan Sodom, saudaramu: kecongkakan, kekenyangan makanan, dan kemalasan, sementara orang miskin dan miskin dibiarkan menderita.”
Tafsir ini tentu bukan tanpa dasar. Dalam konteks budaya Timur Dekat kuno, pelanggaran terhadap hospitality atau keramahtamahan terhadap tamu asing adalah dosa besar. Maka tak mengherankan jika banyak teolog menyoroti aspek kekerasan kolektif terhadap orang asing dalam kisah itu. Akan tetapi, adakah itu berarti bahwa dimensi seksual dari kisah itu bisa diabaikan?
Surat Yudas 1:7 dalam Perjanjian Baru menyatakan: “Sama seperti Sodom dan Gomora dan kota-kota sekitarnya yang menyerahkan diri kepada percabulan dan mengejar nafsu yang menyimpang, menjadi peringatan dengan menerima hukuman api kekal.” Ayat ini memberi sinyal bahwa tindakan seksual tetap menjadi bagian dari permasalahan di Sodom. Maka, meskipun ada dimensi sosial dan etis lain yang turut menyumbang pada kehancuran kota itu, faktor seksual bukanlah hal yang bisa dihapus begitu saja dari tafsir tradisional.
Masalahnya adalah, dalam konteks kontemporer, pembicaraan tentang homoseksualitas sering kali terperangkap dalam dua ekstrem: antara demonisasi total dan penerimaan tanpa syarat. Gereja Katolik sebenarnya mengambil posisi yang unik dan kompleks: mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki martabat tak tergantikan, termasuk mereka yang memiliki kecenderungan homoseksual, tetapi tetap menolak tindakan homoseksual sebagai sesuatu yang bisa dibenarkan secara moral. Posisi ini menempatkan Gereja di bawah tekanan: dari satu sisi dituduh tidak progresif, dari sisi lain dicurigai mulai lunak terhadap moralitas.
Dalam konteks ini, kisah Sodom dan Gomora menjadi ladang pertempuran tafsir yang sangat hidup. Satu pihak menganggap bahwa mempertahankan tafsir tradisional berarti menolak realitas psikologis dan eksistensial kaum homoseksual; pihak lain meyakini bahwa meninggalkan tafsir itu berarti mengabaikan ajaran yang telah terpelihara selama dua milenium. Keduanya memiliki kekhawatiran yang valid, tetapi apakah kita bisa keluar dari dikotomi ini?
Mungkin pertanyaan yang lebih relevan bukanlah “apa dosa Sodom?”, melainkan “mengapa kita merasa perlu menyesuaikan tafsir itu dengan kenyamanan moral masa kini?” Apakah karena kita merasa kisah itu terlalu keras untuk realitas kita yang kompleks? Ataukah karena kita ingin menunjukkan kasih yang radikal dengan menghapus ketegangan antara belas kasih dan kebenaran?
Padahal, dalam khazanah Katolik, belas kasih dan kebenaran tidak pernah saling meniadakan. Kita dipanggil untuk mengasihi setiap orang tanpa syarat, tetapi kita juga dipanggil untuk berbicara dalam kebenaran. Itulah yang membuat iman Katolik sering tampak tidak nyaman karena ia menolak relativisme moral sekaligus menolak kekejaman dalam penyampaian kebenaran.
Dalam praktik pastoral, Gereja menghadapi tantangan nyata: bagaimana mendampingi umat yang bergumul dengan orientasi seksual mereka, tanpa mengorbankan ajaran iman? Bagaimana menjadi komunitas yang inklusif tanpa mengaburkan makna dosa? Bagaimana tetap setia pada Injil di tengah tekanan budaya yang menuntut penyesuaian total?
Menariknya, jika kita kembali ke awal kisah Sodom dalam Kejadian 18, kita menemukan sosok Abraham yang berani menawar Allah. “Jika ada sepuluh orang benar di sana, akankah Engkau tetap menghancurkannya?” Pertanyaan itu tidak dijawab secara eksplisit, tetapi narasinya menunjukkan bahwa belas kasih Allah tidaklah sedikit. Yang kurang justru “manusia benar”, yakni mereka yang menjadi garam dan terang bagi kota yang rusak moral.
Baca juga:
Maka mungkin, pelajaran dari Sodom dan Gomora bukanlah tentang siapa yang kita hakimi hari ini, tetapi siapa yang bersedia menjadi pribadi benar di tengah masyarakat yang kehilangan arah. Apakah kita masih bersedia menjadi suara kenabian yang tidak hanya mengkritik, tetapi juga mengasihi? Apakah kita bersedia menjadi Abraham yang berdoa dan merayu belas kasih Allah bagi kota yang rusak? Ataukah kita justru menjadi Lot, yang tinggal di Sodom tetapi kehilangan pengaruh moral terhadap orang-orang di sekitarnya?
Kisah Sodom dan Gomora bukan sekadar soal homoseksualitas atau kekerasan sosial. Itu adalah kisah tentang peringatan ilahi, tentang kegagalan kolektif dalam mempertahankan kebaikan, dan tentang betapa pentingnya kehadiran pribadi-pribadi benar di tengah kerusakan moral. Tafsir kontemporer yang berusaha menghapus aspek tertentu dari kisah ini hanya akan membuat kita kehilangan daya peringatannya.
Dalam dunia yang berusaha menormalkan segalanya atas nama kebebasan, kita justru semakin butuh pada kisah-kisah yang mengingatkan bahwa tidak semua jalan membawa pada kehidupan. Dalam dunia yang ingin membuat iman menjadi senyaman mungkin, kita perlu kisah yang mengganggu kenyamanan palsu. Dan di sinilah letak kekuatan narasi Sodom dan Gomora: ia bukan hanya peringatan, tetapi juga panggilan untuk pertobatan.
Sebagaimana kota-kota itu ditinggalkan sebagai peringatan dalam sejarah iman, demikian pula hati nurani kita dipanggil untuk tetap waspada. Ketika label “Sodom” menjadi sekadar ejekan politik atau cemoohan moral, kita telah kehilangan makna sejatinya. Maka, tugas umat Katolik bukanlah menumpuk batu penghakiman, tetapi menyalakan pelita pemahaman dan belas kasih tanpa pernah merelatifkan kebenaran yang sudah dinyatakan sejak dahulu kala. (*)
Editor: Kukuh Basuki
