Pejalan kreatif

Solong, Suatu Ingatan dan Puisi Lainnya

Pringadi Abdi Surya

1 min read

Solong, Suatu Ingatan

Kau hanya inginkan Arabica Gayo
barista tradisional
Seduhannya serupa ingatan
yang lambat mengalir,
merayapi dinding kepala.

Di bangku kayu,
seseorang lupa cara terburu,
kecuali waktu
yang tak pernah buru-buru.

Kopi ini,
hitamnya serupa dendam
yang kausimpan diam-diam
di bawah lidah,
setiap teguknya
menjelma percakapan
dengan bayanganmu sendiri.

Di luar, aspal basah
menyimpan jejak langkah
yang tak sempat kaulupa.

Jendela berkaca,
memantulkan gerimis,
dan wajahmu
yang masih tersisa
di uap tipis.

Bukankah kita selalu pulang
pada aroma yang sama,
pada sepasang mata
yang tak pernah lupa
cara menunggu?

(2025)

Kedai Kopi, Sebelum Petang

Setelah hujan siang tadi, Kau
melarikan diri ke kedai kopi

Ada yang tertinggal, jejak basah
di daun waru, dan kau, dengan senyum tipis, memesan kopi,
seperti memesan masa depan dari waktu.

Terlihat sepasang pengantin baru, tak jauh dari sini,
tawa mereka renyah, seperti kerupuk bawang
dan aku melihatmu,
di setiap jejak langkah yang kaupilih.

Pernikahan, katamu suatu kali,
adalah menanam pohon di padang ilalang,
merawatnya dari hama dan janji-janji,
sampai akarnya kuat, batangnya menjulang.
Seperti kopi ini, pahit di awal,
tapi meninggalkan jejak manis di tenggorokan,
mengendap, lalu menjadi ingatan.

Di antara denting sendok dan bisik-bisik,
kautafsirkan hidup, dan segala kerumitannya.

Pernikahan bukan hanya tentang cincin di jari,
tapi tentang dua jiwa yang berdamai dengan sepi.

Kau pernah bertanya, “Apa yang lebih abadi dari hujan?”
Aku tak punya jawab, selain senyummu yang samar.

Kini, di kedai kopi ini, aku menemukan jawaban,
pernikahan, mungkin, adalah keabadian yang tak pernah pudar.
Cangkirmu kosong, namun sisa kopi masih membekas,
seperti kenangan yang enggan pergi dari kepala.
Dan di luar sana, malam mulai beranjak luas,
membawa serta doa, untuk kita, untuk mereka, dan segala cinta.

(2025)

Tak Terminum

Sengaja ia biarkan gelasnya mengembun
Hanya setelah satu seruput pertama.
Ada gula yang tertimbun. Dan ia teringat pada
cerita yang tak ingin ia lanjutkan—
belum sempat utuh kalimat awal itu.

Meski kadang-kadang ia butuh yang klise.

(2025)

Kopi Dingin

Setelah angka-angka dan tumpukan kertas,
ia duduk sendiri, di kedai yang lengang.

Nyaris hanya ia seorang
hujan tak pernah sungkan
menjelma kenangan.
Ia aduk-aduk gulanya yang tak larut,
bukan manis yang dicari, tapi sebuah laut
di dalam diri, tempat jangkar bisa berlabuh.

Rumah, pikirnya, bukan sekadar alamat di peta usang,
tapi mungkin sepasang mata, atau kehangatan
yang telah lama hilang.

Jalanan basah, bayangan menari di kaca,
seperti hantu-hantu yang enggan pergi.
Ia menyesap sisa pahit, entah kopi atau hidup,
mencari jejak pulang di antara rintik yang jatuh.

(2025)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Pringadi Abdi Surya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email