Anak Bawang

Betuah Lepus

11 min read

“Kalian mau ke mana?” ucap kau dengan nada antusias.

Kau selalu penasaran dengan apa yang akan mereka lakukan. Kau pula yang meminta untuk turut diajak. Dengan segenap tenaga kau kejar mereka, tetapi langkah kaki kau terlalu kecil. Alhasil kau tertinggal jauh. Mereka yang melihat kau terengah-engah mengambil napas, ada rasa candu untuk mengolok-olok kau. Mereka tertawa sambil menunjuk kau. Mereka berjejer, lalu serempak menunggingkan pantat yang diiringi tepakan ke muka pantat masing-masing. Badan kau bergetar menahan emosi. Seketika kemarahan kau meledak, kau pun mulai merengek. Kau hempaskan tubuh ke tanah dengan kaki menerjang angin. Kau meliuk-liuk bagai cacing terkena garam. Semakin lama tangisan itu menjadi raungan. Kau begitu pilu seperti anak beruk kehilangan ibunya.

Kau memang tolol. Berkali-kali ditipu tetapi masih saja tidak sadar. Salah satunya saja ketika bermain gim konsol. Setiap kali kau mau ikut main, kau hanya diberi konsol yang kabelnya tidak tercolok. Kau pun girang melihat gerombolan orang bergerak, berkeliaran seperti makhluk hidup seolah mereka tengah kau perintah dari balik tabung televisi itu.

Kalau dipikir, sebetulnya wajar saja kalau kau selalu dijahili oleh mereka. Pasalnya perbedaan usia kau dan mereka sangat jauh. Jika ditaksir, kau itu masih bocah ingusan yang baru dua tahun sekolah sedangkan mereka sudah bisa dikatakan bujang, yah meski baru beberapa dari mereka yang baru tumbuh bulu kemaluan.

Kau paling benci bergaul dengan anak-anak yang sepantar. Kau anggap mereka itu aneh, terlalu kekanak-kanakan. Mereka hanyalah bocah lemah yang tidak bisa mengurus diri sendiri. Bila mereka terasa terancam, merasa dunia tak adil, mereka akan mengadu kepada orang tua. Dasar, anak-anak tolol.

Pernah sekali waktu kau berteman dengan anak tukang galon. Pertemanan itu terjadi karena kalian berdua sama-sama menyukai kelereng. Namun tak berlangsung lama, hubungan itu pun berakhir.

Awal kau mengenalnya, kau mengajak ia bermain kelereng di dekat los pasar. Saat kau jemput di depan rumah, ia tampak seperti anak baik-baik, berpakaian rapi. Rambut klimis berbau pomade Tancho dengan sisiran belah tengah. Senyumnya manis bagai gula palu. Tak lupa bedak yang tak rata menyelimuti pipinya. Semua hal padanya tampak beres, kecuali satu: kuping.

Ini permasalahan yang sangat krusial. Kupingnya sangat aneh. Bentuk memang normal, tetapi ada cairan kekuningan mirip susu kental manis terus menetes membuatnya tampak tak lazim. Selagi giliran ia membidik kelereng, kau berjalan perlahan mundur ke belakang. Kau mengambil sebatang ranting pohon. Kemudian kau colek sedikit cairan itu tanpa ia sadari. Kau sangat penasaran tentang cairan ini terbuat dari apa. Hampir satu menit kau pandangi ranting pohon itu. Lalu kau putuskan untuk menjilat lendir itu meski masih tampak ragu-ragu. Kau buka mulut dengan lidah yang menjulur. Ternyata baunya lebih dulu masuk ke hidung. Tercium bau amis layaknya nanah. Kau mengenal bau busuk ini sama persis seperti bau kepala anak tetangga yang belatungan. Kepala penyok penuh nanah yang seolah ingin mengeluarkan isinya. Kau mual-mual sampai beberapa kali muntah. Kau kehilangan niat untuk mencicipinya. Juluran lidah tadi kurang dari setengah jengkal nyaris menyentuh batang itu. Kau geram. Dengan cepat kau lempar ranting itu. Anak kampang!

“Kuping kau busuk sekali! Aku yakin kau mengubur bangkai dalam lobang kuping itu! Atau jangan-jangan kau kena kutuk?!!” kata kau dengan nada kesal. Anak itu terdiam.

Kau sangat yakin pasti ia memang anak yang terkutuk. Kau berani jamin karena sudah banyak melihat kejadian-kejadian ganjil di sinetron azab. Kau juga semakin yakin karena rutin melahap bacaan dari komik-komik karya Tatang S.

Seakan tak cukup puas, kau lemparkan lagi hinaan, “Aku yakin kau ini anak yang jadi tumbal untuk pesugihan! Keluarga kau bersekutu dengan setan! Bapak kau kafir!”

“Kata Ustad Sanusi, setan paling suka tinggal di tempat yang lembab, kotor, dan busuk. Nah, kuping kau itu sangat pas jadi sarang setan! Kau anak setan!” seru kau sambil menunjuk mukanya.

Ia sebetulnya sadar bahwa terlahir aneh. Namun mau bagaimana lagi. Siapa juga yang ingin hidup dengan memiliki kuping yang busuk. Hujatan demi hujatan itu meresap ke palung batin. Ia belum siap untuk menerima kenyataan itu. Ia menangis sangat kencang. Kau yang semula mencecarnya dengan ganas, kini mulai resah kalau sampai menarik perhatian orang banyak. Dengan cepat kau menyuruhnya diam, tetapi malah semakin keras raungannya. Kau panik. Kau menengok kiri-kanan, berharap ada sesuatu yang bisa menyumbat mulutnya. Dengan perasaan gusar, kau menyasap rumput di sekitar dengan tergesa-gesa. Kau tak sadar bahwa ada rumput yang terpoles tai kucing basah. Kau baru tahu ketika rerumputan di tangan kau itu bergumpal benyek dan lengket. Sial. Nasi sudah menjadi bubur, rumput itu kau kepal-kepal sampai berbentuk bola, lalu kau sempalkan ke mulutnya dalam-dalam.

Tak sampai di situ, kau tonjok pula hidung anak itu sebagai hukuman karena tidak mau berhenti menangis. Kau pun lari bergegas pulang, meninggalkan ia yang masih menangis. Darah dari hidung dan congek dari kupingnya keluar beriring-iringan.

Sorenya terjadi kegemparan di depan rumah kau. Si tukang galon sangat murka saat itu. Kali ini ia tidak membawa galon untuk diantar, tetapi membawa parang agar bisa menyembelih leher kau. Tak perlu diceritakan detailnya karena kau masih ingat betul bahwa ia mengamuk dengan brutal bagaikan kesurupan babi hutan. Tukang galon kalap, sekalap-kalapnya. Untung saja bapak kau itu jawara dusun yang menimbun berbagai macam ilmu hitam, kalau tidak, bapak kau harus rela kehilangan tangan kirinya gara-gara punya anak tolol.

Semenjak itu kau tobat untuk tidak lagi berteman dengan anak seumuran.  Kau ingin bergaul dengan orang-orang dewasa. Sejatinya mereka bisa merawat diri sendiri dan banyak hal-hal menyenangkan yang dapat dilakukan. Kau mulai mengakrabi siapa pun, asalkan dia tampak dewasa. Sampai akhirnya kau mengenal gerombolan pemuda putus sekolah. Mereka dikenal karena memiliki julukan di dusun itu. Para pemuda itu adalah Abut si Dewa Mabuk, Midun si Dewa Sabung, Kucai bin Keladi bin Genjer, Madi si Celurit Maut, dan Dego Siluman Beruk.

Mereka disegani dan diberi julukan bukan tanpa alasan. Abut sebenarnya memberi gelar Dewa Mabuk kepada dirinya sendiri. Ceritanya begini, ia pernah bingung harus pakai apa lagi untuk mabuk. Uangnya sudah habis. Di tengah kebingungannya itu, ia mendapat ide untuk mencuri botol air karbol di masjid. Percobaan itu berhasil membuatnya mabuk. Ia juga berhasil bertemu dengan malaikat meski sebentar. Seumur hidupnya, ia belum pernah meminum air putih. Kalaupun memang ia terpaksa meminum air putih, air itu harus ia campur alkohol. Gosip yang beredar mengatakan kalau Abut ini bahkan lebih dulu dicekoki alkohol dibanding susu ibunya.

Midun sesuai dengan sebutannya, Dewa Sabung. Midun memang terlahir untuk menjadi penyabung ayam profesional. Sejak kecil ia telah diberkahi kemampuan dapat berkomunikasi dengan ayam. Ia mampu memahami kehendak hewan-hewan itu. Ikut bersedih, saling menyemangati, dan saling memberi. Midun juga sering kali disebut si Jagonya Ayam. Dari kemampuan itulah ia menafkahi keluarganya.

Bila menceritakan tentang Kucai, sama halnya membicarakan sejarah kelam negara ini. Kucai berasal dari keluarga petani yang dibantai habis-habisan. Dulu, Genjer—kakeknya—merupakan warga binaan sebuah partai besar yang memiliki lambang perabotan bertani menyilang. Pada suatu malam, Genjer diciduk oleh sejumlah kelompok berseragam, besutan seseorang yang memiliki nama besar. Semenjak itu warga kampung mulai mengecap keluarga Kucai sebagai keluarga yang berbahaya. Tidak jarang orang tuanya sering diseret-seret kalau ada keributan di dusun itu. Kini nasib menyedihkan itu diwariskan ke Kucai setelah dua tahun lalu orangtuanya meninggal.

Setelah mendengar cerita ketiga orang tadi, kau cukup yakin bahwa dua anggota yang belum dibahas pasti memiliki latar belakang yang tidak kalah mengerikan. Namun sayang, kau dibuat kecewa berekspektasi tinggi karena sebetulnya kedua anggota itu: Madi dan Dego tidak semenyeramkan dari julukannya. Madi diberi julukan Celurit Maut bukan karena ia adalah seorang berdarah panas yang apa-apa diselesaikan dengan menebas leher orang-orang dengan celurit. Malahan itu adalah ejekan orang-orang untuknya. Di suatu malam, Madi bertandang ke rumah seorang gadis. Ketika tengah asyik bercerita, kayu yang menjadi pijakannya ternyata tidak berumur panjang. Madi terjatuh dari rumah panggung itu. Tangannya patah cukup parah sehingga cengkong permanen. Karena tangannya melengkung seperti celurit, orang-orang mengibaratkan ia ke mana-mana membawa senjata tajam, akhirnya ia dijuluki Madi Celurit Maut.

Untuk cerita Dego, kau tak perlu tahu detailnya. Nanti kau baca saja tentang keanehan keluarga Dego di cerita lain. Yang perlu kau tahu kenapa dia disebut Siluman Beruk karena tampangnya yang sama persis peranakan beruk. Lagi-lagi ini juga berupa ejekan.

***

Apa salahnya Mengajakku? Toh, kita saling butuh. Aku butuh kalian sebagai anak buah dan kalian butuh aku karena aku berduit. Kau pun mencoba mengingat kembali apa yang telah kau sokong untuk kelompok ini di setiap acara orgenan. Kau mengingat bahwa dengan ringan kau beri uang agar mereka bisa menghangatkan bibir dengan rokok. Mereka juga sering merengek layaknya anak anjing sebagai pertanda lapar. Mereka sangat suka mengisi perut-perut cekung itu dengan beberapa tusuk sate ataupun semangkuk soto ayam di kedai Mang Nawi, terletak tidak jauh dari pengeras suara orgen. Apa saja kau penuhi keinginan mereka asalkan tunduk dan menganggap kau sebagai pemimpin.

“Bos memang terbaik!” Seru Abut.

“Hidup bos kecil!” Balasan mereka bersamaan.

Semakin mereka memuji, dada kau semakin membusung, kau tarik lagi beberapa lembar uang kertas berwarna biru dan kau layangkan ke udara. Mereka dengan lincah mencatut lembaran itu masuk ke kantong masing-masing.

Ada kalanya kau tak berani memberi mereka uang sepeser pun. Kau tidak mengizinkan mereka membeli minuman yang kata si penjual bisa membuat kepala pusing. Awalnya kau berpikir lucu juga minuman itu dengan sengaja dibuat agar orang pusing. Ada yang menyebutnya air dari surga. Ada juga yang menyebutnya minuman keras. Ada pula yang bilang minuman kejujuran, ketika minum orang itu akan bercerita jujur tentang hal apa pun. Aneh betul dunia orang dewasa ini pikir kau.

Kau juga sempat melihat mereka yang mabuk, ada yang tidak nyambung kalau diajak bicara, ada yang mengambang di parit, ada juga yang tertidur di rumput berbantalkan tai sapi kering. Kau sempat menghafal nama-nama minuman itu. Kalau tidak salah ingat, nama minuman aneh itu disebut Tuak, Cap Kunci, Asoka, Bintang, dan Orang Tua. Kau ditertawakan oleh pemilik kedai minum itu ketika bertanya apakah Buyung Upik termasuk minuman memabukkan? Karena terakhir kali kau minum, kau jadi lebih rakus saat makan. Bukankah itu tanda-tanda orang mabuk, bukan?

Kau selalu ingat apa kata Ustad Sanusi dan Bung Rhoma tentang dosa-dosa yang tidak boleh dilakukan. Salah satunya dilarang meneguk minuman yang memabukkan karena haram. Setekun apapun salat, selama empat puluh hari, malaikat tidak akan mencatat amal dan kebaikan yang kau perbuat. Ini sama halnya kau memberi tanggal merah kepada malaikat. Kau tak ingin malaikat mendapat jatah liburan.

Tetapi kau mau-mau saja membelikan mereka beberapa butir pil. Mereka coba meyakinkan kau untuk membeli pil itu karena punya khasiat pereda sakit kepala dan badan yang pegal-pegal. Kau pun percaya saja karena kau sering melihat Ibu saat selesai menyuntik orang berobat di kliniknya, Ibu selalu memberi beberapa butir pil dalam plastik bening. Kumpulan idiot ini kegirangan saat menenggak pil itu seperti anak monyet mendapat setandan pisang. Tersemat raut bangga dari wajah kau. Sambil kau sapu hidung dengan jempol, kau berpikir sepertinya telah berjasa memberi mereka obat mujarab.

Tak beberapa lama mereka mulai bergoyang menikmati ritme musik cepat, kencang, dan tak beraturan. Seru juga pikir kau jika ikut bergabung. Meski badan kau tidak sakit sama sekali, kau ingin mencoba pil itu. Kau mengambil beberapa butir untuk menghilangkan rasa penasaran. Dua butir sudah di tangan, ada berwarna merah berbentuk bulat dan satunya lagi berwarna kuning berbentuk lupis. Kau dongakkan mulut ke atas, dua butir itu sebentar lagi mendarat di lidah. Plaak! Buku jari kau tiba-tiba ditepak oleh salah satu dari mereka.

Pilat! Aku ini bos kalian!” ucap kau bernada kesal.

“Kau punya masa depan! Jangan tiru kami yang rusak!” balas Midun.

Arrgghhh! Bos mana yang tidak kesal kalau diperlakukan anak buah semena-mena. Lucah rasanya.

“Ikat.. Ikat..” kata Madi.

Dego mengambil tali rafia. Ketika tangan-tangan itu mendekat, kau coba lakukan perlawanan dengan menghantam mata mereka dengan tangan mengepal. Pukulan kau tidak ada rasanya. Lagi-lagi usaha kau sia-sia. Kau berakhir dengan lebih hina, terikat di tiang rumah warga. Kau hanya bisa melengos ditatap orang-orang lewat, mereka yang mengikat kau tadi tertawa sambil melanjutkan perjogetan yang sempat terhenti.

***

Lagi-lagi kau ditipu. Kemarin sore, kau diberi tahu bahwa besok mereka akan ke dusun seberang. Midun mau menyabung ayam di suatu kebun milik warga. Mereka meminta uang kepada kau untuk ongkos dan jajan. Kau tarik dua empat lembar kertas biru, lalu kau bagikan satu per satu. Ketika kau bertanya tempatnya di mana, mereka tidak begitu jelas memberitahukan kepada kau. Sebetulnya mereka takut informasi bocor. Mereka mengakhiri pertemuan dengan mengucap, “Terima kasih, Bos. Siap-siap saja besok.”

Ketika temannya benar-benar sudah pulang, Dego menghampiri kau dan berbaik hati menjelaskan sampai kau benar-benar paham letak lokasi itu. Apa yang ia sampaikan sebetulnya cukup jelas, tetapi kau saja susah untuk fokus gara-gara mukanya terlalu dekat. Inilah kebiasaan yang paling kau benci dari Dego. Setiap kali bicara dengan serius ke orang, pasti ia tanpa sadar, moncongnya mendekat-dekat seolah ingin mencium lawan bicarannya. Sesekali kau menggocoh mukanya karena jarak bibir kalian hampir berdempet. Kau tak ingin disetubuhi oleh makhluk ini.

Mereka bilang akan mengajak kau kemarin, tetapi nyatanya tidak. Yang kau saksikan, mereka memakai mobil kijang butut pinjaman dari Mang Nawi. Seraya menyusuri jalanan, kepala mereka keluar dari kaca mobil serta mengejek kau dengan menjulur-julurkan lidah. Kau membalas dengan dua jari tengah mengacung.

Kau melakukan pengejaran. Kau menggenjot sepeda sejauh sepuluh kilo. Urat-urat dari kening hingga betis menyembul bagaikan bisul. Meski sering kali kurang ajar, kau selalu memaklumi mereka. Kau sebetulnya sadar bahwa mereka tidak dengan tulus menganggap kau bos. Mereka memanggil kau bos ketika mereka butuh duit saja. Kau tahu betul itu. Namun, mau bagaimana lagi?

Kau tak sabar ingin melihat kesaktian Midun. Tiap kali Midun membawa ayamnya berlaga, di situ para bandar pesta uang. Kau mendengar bahwa Midun pernah menang meski ayamnya kala itu sudah terkapar. Orang-orang yang memasang taruhan ke Midun telah pasrah. Namun, dengan cerdik ayam Midun yang terguling menancapkan beberapa kali tajinya sampai ayam musuh meregang nyawa.

Kau juga ingin memasang taruhan. Kali ini kau tidak lagi percaya perkataan Ustad Sanusi tentang dosa. Ketika di mimbar Jumat, ia tampak lemah lembut berkata tidak boleh berbohong, mabuk, ataupun berjudi. Akan tetapi, kau sering memergokinya di tempat-tempat judi. Kau melihat sosok orang suci itu dengan mata yang menyala-nyala melempar taruhan di lapak judi bola gelinding. Kau terkejut melihatnya tampak begitu hidup. Tak lama dari itu, matanya berbinar meraup banyak uang. Ia pulang dengan kocek yang terisi penuh. Kau seolah tersadarkan bahwa berbuat dosa tidak sepenuhnya mengerikan. Selagi hal itu membuat orang senang, berbuat dosa masih bisa dirundingkan.

Kau akhirnya sampai di dusun itu. Kau harus mengenjot lagi sepeda menuju kebun yang menjadi arena sabung. Di tengah perjalanan, kau diberhentikan seorang lelaki cungkring berkaos oblong hitam kebesaran dengan bawahan celana jin buluk. Ia terlihat linglung di percabangan jalan. Ternyata ia tersesat. Awalnya dia menanyakan apakah kau juga tersesat. Kau jawablah dengan lantang bahwa ingin ke tempat sabung ayam. Ternyata tujuan kalian sama. Kau belagak seperti orang dewasa, kau menuntunnya dengan senang hati. Sepeda kau dan motornya melewati sebuah hutan secara beriringan.

Setelah sampai di depan kebun, ada beberapa orang yang berjaga. Mereka menanya-nanyai kau dan teman baru kau itu. Kau pun menyodorkan uang berwarna merah dua lembar sambil berkata, “Midun”. Mereka paham, lalu menerima uang itu. Setelah mencatat nama kalian, mereka mengizinkan masuk. Tak lama Kau dan teman baru itu berpisah.

“Kau duluanlah, aku mau kencing.” kata pria bermata sayu itu.

Kau pun meninggalkannya. Kau mencari geng keparat yang meninggalkan kau tadi pagi. Kau mendekati gelanggang yang dilindapi terpal biru. Di setiap sudut orang-orang riuh bersorak. Kau tak melihat Midun di dalam gelanggang itu. Berarti ia belum bertanding. Midun tengah mengelus Jeki, ayam keberuntungannya sebelum bertanding.

Kau menengok Abut dan Kucai sedang terbahak-bahak sambil berjongkok di depan tai sapi berjamur. Kau sempat mual melihat kelakuan mereka yang memakan jamur itu.

Kini giliran Midun masuk ke gelanggang. Suasana berubah seketika. Para penonton yang sedari duduk-duduk, kini merapati sekitaran arena. Hampir keseluruhan orang berseru, “Midun Jeki! Midun Jeki! Midun Jeki! Meki!!!”

Kedua kepala ayam bertatap-tatapan, membangun atmosfer permusuhan. Midun membuka kain di kaki Jeki. Tampak besi tipis itu menyilaukan pandangan. Jeki dilempar. Persabungan dimulai!

Serempak Jeki dan musuhnya melompat. Jeki langsung mengeluarkan jurus pamungkasnya. Ia mengepakkan sayap, seketika mengaiskan taji ke punggung kanan lawan. Namun, dengan gesit lawan membalikkan badan sehingga taji itu hanya melukai dada. Serangan demi serangan dikerahkan Jeki, tetapi lagi-lagi musuh mampu menahan serangannya. Kini musuh yang tampak beringas. Dengan sekejap mata, musuh berhasil melontarkan taji ke perut Jeki. Jeki melakukan serangan balik. Kali ini tajinya tertancap keras di punggung bawah bagian kanan musuh. Berkali-kali Jeki tusuk pada lubang yang sama. Musuh yang beberapa bulunya rontok itu terhuyung-huyung bermandikan darah, lalu roboh. Musuh tak mampu lagi meneruskan pertandingan. Jeki win!

Orang-orang bersorak-sorai. Seorang lelaki cungkring tadi tiba-tiba berjalan membelah kerumunan. Dari balik kaos oblong kebesaran itu ia tampak merogoh sesuatu. Ternyata ia coba mengeluarkan sebatang besi, entah, kau tak jelas melihatnya karena cukup jauh. Besi mengkilat itu ia todongkannya ke langit. Dorrr!

Ledakan barusan membuat acara sabung ayam itu seketika ricuh. Orang-orang berlarian pontang-panting sibuk menyelamatkan diri. Midun langsung memeluk Jeki. Mereka lari menjauhi kerumunan. Langkah Midun terhenti ketika kakinya dilumpuhkan dengan timah panas oleh orang berseragam coklat seperti pakaian pramuka.

Mendengar suara itu Abut dan Kucai terpicu untuk menyelamatkan Midun yang terkapar. Mereka coba untuk melawan. Entah kenapa mereka hari itu sangat berani. Mungkin saja jamur tadi punya khasiat khusus, entahlah. Abut mengacungkan parangnya kepada orang itu berharap orang itu takut dan melepaskan Midun. Ternyata Kucai lebih dulu berlari lintang pukang mendekati pria berseragam itu. Dikibaskanya celurit itu berkali-kali dengan beringas oleh Kucai.

Kau terkejut sampai tidak bisa bergerak. Kau belum pernah melihat acara yang ricuh selama ini. Kau tak tahu harus bagaimana. Sial, Dego tidak menjelaskan kalau akan ada kejadian seperti ini. Tanpa kau sadari air hangat mengalir dari sela celana dan membasahi dubur. Kau tak mampu bergerak, kaki kau mengeras seakan tertancap begitu dalam pada kubangan coran. Pandangan kau tetap tak bisa berpaling dari Abut dan Kucai. Mereka meraung kesakitan. Mereka harus merelakan kakinya menjadi sarang timah panas. Mereka diseret naik ke mobil yang memiliki dua kursi panjang dengan arah saling berlawanan. Kau tidak bisa berbuat apa-apa. Kau hanya bisa bersembunyi di semak-semak sambil menahan tangis. Kali ini kau harus mengakui bahwa kau hanyalah anak kecil.

***

Mereka tak pernah benar-benar mengajakmu, Nak. Tapi kau terus mengejar, bukan karena ingin ikut, tapi karena takut dilupakan.

Di belakang mereka yang tertawa keras dan memanggilmu “Bos”, ada tangan-tangan yang hanya meraihmu saat kau membawa uang. Dan di depan mereka, kau selalu memamerkan dada, membusungkan harapan bahwa suatu hari… mereka akan benar-benar melihatmu.

Kau masih terlalu kecil untuk paham bahwa dunia ini tak selalu memberi tempat pada yang tulus.

Aku ingat hari itu. Kau pulang dalam diam, sepedamu lecet, lutut berdarah. Tapi lebih sakit dari itu adalah ketika kau menyadari: mereka berpesta tanpamu.

Kau menatap ayam sabung dari jauh. Kau ingin melihat Midun menang. Kau ingin bersorak seperti mereka. Tapi suara itu tak pernah keluar. Yang keluar adalah tangis. Sunyi.

Ketika semua berakhir dengan darah, teriakan, dan peluru, kau hanya bisa bersembunyi. Tak ada yang mencarimu. Tak ada yang menyadari air pipis yang mengalir hangat di kakimu.

Malam itu kau pulang dengan sepi. Dan besoknya, saat kau melihat seorang anak kecil bertanya, “Kalian mau ke mana?” kau menoleh—dan untuk pertama kalinya, tidak menjawab.

Kau tahu rasanya. Menjadi anak bawang.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Betuah Lepus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email