Di film Mission: Impossible – The Last Reckoning, Ethan Hunt tidak lagi hanya melawan musuh yang kasatmata. Ia tidak menghadapi diktator, pengkhianat, atau pembunuh terlatih, tetapi sesuatu yang lebih subtil dan menyeramkan: The Entity. Entitas ini bukan manusia, melainkan bentuk kecerdasan buatan yang otonom, adaptif, dan mampu merekayasa ulang seluruh tatanan informasi global.
Ia tidak sekadar algoritma, tetapi kesadaran digital yang mampu menipu, mengelabui, meniru, dan menggantikan kenyataan. Ia bukan sekadar big data, tetapi metafora mutakhir tentang bahaya dunia yang kehilangan keaslian, otentisitas, dan makna—dunia yang semakin digerakkan oleh “akal imitasi.”
Baca juga:
Dan di titik inilah, film aksi ini membuka pintu bagi pembacaan yang lebih dalam: bagaimana kalau realitas kita sehari-hari—budaya, sejarah, identitas—telah secara diam-diam diambil alih oleh kecanggihan simulasi?
Simulakrum dan Matinya Representasi
Konsep The Entity mengingatkan kita pada pemikiran Jean Baudrillard. Dalam teori simulakrumnya, Baudrillard menjelaskan bahwa di era pascamodern, manusia tidak lagi hidup dalam representasi, tetapi dalam tiruan dari tiruan. Gambaran realitas yang kita terima sehari-hari sudah terdistorsi, bahkan tak punya rujukan ke dunia nyata. Simulasi menjadi kenyataan itu sendiri.
Apa yang kita lihat di layar gawai, potongan klip budaya lokal di TikTok, peristiwa sejarah dalam narasi konten YouTube, atau bahkan berita-berita yang dibentuk AI hari ini, bisa jadi bukan lagi penyingkap kenyataan, tapi hanya permukaan dari permainan simbol—di mana kebenaran tidak penting, dan yang utama adalah keterhubungan, keterpakaian, serta komodifikasi.
The Entity adalah hiper-simulasi itu. Ia meniru kenyataan dan kemudian menjadikannya usang. Dalam dunia yang dikuasai Entity, yang benar bukanlah apa yang sungguh-sungguh terjadi, tapi apa yang bisa dikalkulasi, diretas, dan dipresentasikan ulang secara viral. Maka, musuh utama Ethan Hunt sejatinya adalah kebohongan yang menyerupai kebenaran dengan sangat meyakinkan—dan inilah mimpi buruk zaman ini.
Budaya dalam Teknologi
Kita tak bisa lagi berbicara tentang budaya tanpa menyentuh pengaruh masif teknologi digital. Kebudayaan yang dahulu menubuh dalam ritus, dialektika, dan pengalaman langsung, kini direduksi menjadi konten yang harus menarik, bisa dibagikan, dan bisa diukur popularitasnya. Akibatnya, kebudayaan lokal tak lagi dibangun dalam proses reflektif, melainkan dikurasi untuk layar.
Apakah ini kemajuan? Tidak sepenuhnya. Karena yang terjadi sering kali adalah pemiskinan makna. Sebuah tarian adat, misalnya, bisa direkam dengan teknologi terbaik, diberi efek sinematik, lalu diunggah untuk jutaan penonton. Namun, pertanyaannya: apakah pengalaman estetis dan spiritual dari tarian itu bisa ditransmisikan? Atau justru telah digantikan oleh efek visual semata?
Di sinilah akal imitasi bekerja: ia meniru, tetapi mengebiri. Ia merepresentasikan, tapi membatalkan sumber makna. Yang tersisa hanyalah jejak digital dari sesuatu yang telah kehilangan ruh. Kita menyaksikan rekaman, tapi kehilangan penghayatan. Kita mengutip warisan leluhur, tetapi dalam bentuk potongan klise yang dikemas untuk platform.
Di masa lalu, kebudayaan selalu melekat pada pengalaman kolektif. Ia diwariskan lewat cerita lisan, lewat praktik harian, lewat ritus dan mitos. Sekarang, semua itu diarsipkan dalam bentuk file, post, dan hashtag. Kita mengalami dislokasi makna: berada dalam tumpukan informasi tanpa kemampuan memilah mana yang mengandung ruh budaya, mana yang sekadar imitasi kosong.
Akal imitasi bukan hanya merusak representasi, tapi juga epistemologi. Ia membingungkan persepsi kita tentang yang benar, yang indah, dan yang pantas. Maka tak heran, hari ini orang lebih percaya pada cuplikan video 30 detik daripada kajian panjang tentang sejarah atau budaya. Otoritas bergeser dari yang berpengetahuan kepada yang paling menarik. Inilah zaman di mana viralitas lebih berpengaruh daripada validitas.
Perlawanan: Sebagai Manusia
Dalam film itu, Ethan Hunt memilih untuk tetap menjadi manusia. Ia mengambil risiko, terluka, bahkan kehilangan. Tapi justru karena itu ia menang: ia tidak bisa digantikan oleh sistem algoritmik manapun. Keputusan, intuisi, dan keberanian—semua itu adalah kekuatan manusiawi yang tak bisa disimulasikan.
Dalam konteks kebudayaan, perlawanan terhadap akal imitasi juga hanya bisa dilakukan dengan kembali pada tubuh dan pengalaman langsung. Ritual yang dijalankan bersama komunitas, tarian yang dipelajari turun-temurun, bahasa yang diucapkan dari mulut ke mulut—semua itu adalah bentuk pelawanan terhadap dunia yang ingin menstandarkan dan menggantikan.
Kita butuh literasi budaya yang bukan hanya akademik, tapi embodied. Kita butuh keberanian untuk merayakan yang tidak efisien: mendengar cerita panjang nenek, menyimak pertunjukan yang sunyi dari tepuk tangan digital, belajar aksara kuno yang tidak dipakai mesin pencari. Karena di situlah letak perbedaan antara kebudayaan dan sekadar konten.
Baca juga:
Maka, misi kita hari ini—seperti Ethan Hunt—adalah “menggagalkan dominasi akal imitasi”, yang secara halus menggantikan kesadaran kritis dengan distraksi. Pendidikan, media, dan seni harus menjadi ladang perlawanan terhadap standardisasi dan percepatan yang kosong.
Salah satu langkah strategisnya adalah memperkuat ekosistem kebudayaan yang tidak bergantung pada algoritma. Kita perlu menghidupkan lagi ruang-ruang diskusi, lokakarya, festival budaya lokal, dan media alternatif yang mengutamakan kedalaman daripada kecepatan. Kita perlu mendorong regenerasi pelaku budaya yang tidak hanya pandai bermain di media sosial, tapi juga memahami warisan simbolik budayanya.
Kita juga perlu membongkar “ilusi netralitas” dari teknologi digital. Tak ada teknologi yang netral. Semua sarat dengan logika kuasa, dominasi pasar, dan algoritma yang didesain untuk mengatur perhatian kita. Di titik inilah kebudayaan harus tampil bukan sebagai dekorasi pembangunan, tapi sebagai strategi bertahan.
Menjadi Nyata di Dunia yang Tertiru
Di akhir film, Ethan Hunt memilih jalan yang tidak otomatis, tidak efisien, dan penuh risiko. Ia memilih untuk tetap menjadi manusia—yang bisa merasakan, mencinta, dan kehilangan. Inilah pesan utama yang tersembunyi di balik film aksi itu: hanya manusia yang bisa memilih untuk tidak meniru.
Maka dalam dunia yang makin tertiru, menjadi nyata adalah tindakan paling radikal. Tetap merawat budaya bukan karena ingin tampil, tapi karena ingin hidup. Tetap berbicara dalam bahasa ibu bukan karena tuntutan konten, tapi karena di situlah kita merasa pulang. Dan tetap mencipta, meski dunia didominasi oleh tiruan, karena hanya manusia yang bisa melahirkan makna dari kehampaan.
Akal imitasi mungkin bisa meniru bentuk, warna, bahkan suara. Tapi ia tak bisa meniru kesadaran. Maka tugas kita adalah menjaga kesadaran itu tetap menyala—sebagai warisan, sebagai perlawanan, dan sebagai bentuk cinta paling purba terhadap hidup yang sungguh-sungguh dijalani. (*)
Editor: Kukuh Basuki
