Lebih sering menulis untuk bertanya daripada menjawab.

Di Antara Dua Bukit dan Puisi Lainnya

Salman Alade

2 min read

Di Antara Dua Bukit

Kau tahu,
Siti Hajar tidak berlari karena putus asa,
tapi karena ia yakin—
air akan datang entah dari batu atau langit,
asal ia tak berhenti.

Tujuh kali ia melintasi bukit sunyi,
sambil menggendong keyakinan yang menangis.
Ia bukan sekadar ibu—
ia adalah awal dari sejarah air
yang tak pernah bisa ditampung hanya dengan tangan.

Hari ini,
perempuan-perempuan lain
berlari juga:
di lorong rumah sakit,
di pasar yang menipiskan upah,
di dapur yang tak pernah istirahat.

Bukit Safa dan Marwah kini bernama
harga sembako dan jadwal vaksin anak.
Tapi langkah mereka masih sah—
masih tawaf,
masih doa yang layak dicatat surga.

Arafah: Hari Ketika Langit Menunduk

Di padang Arafah,
tak ada bangunan tinggi,
tak ada layar notifikasi,
hanya jutaan wajah
yang menggantungkan hidup pada pengampunan.

Bumi sunyi,
langit mengamini dalam redupnya.
Malaikat pun menunggu
derasnya tangis
yang tidak lagi malu dilihat langit.

Tapi di kota ini,
Arafah mungkin terletak
di ruang kantor ber-AC,
di lobi rumah sakit,
atau di kursi paling belakang kelas online,
tempat seseorang akhirnya berkata:
“Aku lelah jadi kuat.”

Dan itu juga ibadah,
bila disampaikan pada Tuhan
dengan dada yang telanjang dari gengsi.

Pisau Itu Bernama Taat

Apa yang lebih sulit
daripada mempersiapkan pisau
untuk anakmu sendiri?

Ibrahim tahu jawabannya.

Bukan pada tajamnya logam,
tapi pada tajamnya perpisahan
yang ia pelajari diam-diam,
dari bintang-bintang yang dulu ia tanya tentang Tuhan.

Ismail hanya diam,
tapi di dalam diamnya ada kalimat:
“Jika ini perintah-Nya,
aku sudah pasrahkan.”

Dan hari ini,
kita juga diuji,
bukan dengan pisau,
tapi dengan perintah-perintah kecil
yang tak pernah diberi naskah:
mengalah dalam perdebatan,
menjemput pulang orang tua,
menahan jawaban sarkas di grup keluarga.

Kadang, pengorbanan tidak bersuara,
tapi tumpah darahnya dalam dada.


 
Iduladha: Hari Saat Kita Harus Menjadi Domba

Setiap Iduladha datang,
kita menyembelih kambing,
menyayat daging dengan doa.

Tapi siapa yang berani
menyembelih marah yang telah dipelihara
bertahun-tahun?

Siapa yang mau menumpahkan darah
dari ego yang kita beri nama
harga diri?

Menjadi domba
adalah bentuk tertinggi keberanian:
bersedia disembelih
demi yang lebih besar dari diri sendiri.

Lalu kita akan mengerti:
yang paling suci bukanlah darahnya,
tapi niat di balik pengorbanan,
dan siapa yang kau ikhlaskan hari itu.

Tiga Hari Tasyrik di Kota-Kota

Dulu, orang melempar jumrah
dengan batu kecil,
melempar setan dalam dirinya
dengan tangan yang bergetar.

Hari ini,
batu itu mungkin berupa tombol ‘kirim’
di komentar jahat yang ditahan,
atau niat membalas
yang ditunda demi tidur yang tenang.

Hari tasyrik bukan hanya tentang zikir
tapi tentang menahan
diri dari menjadi setan kecil
dalam kehidupan orang lain.

Dan kadang,
melempar batu itu
berarti berkata,
“Aku tak ingin membalas, meski aku bisa.”

Surat dari Ismail untuk Anak-Anak Masa Kini

Ayahku membawaku ke gunung,
dengan mata yang menyembunyikan gugur
dan tangan yang gemetar
dalam diam.

Aku tahu,
itu bukan pembunuhan,
itu bentuk paling pelik dari cinta
yang tak mampu berkata.

Hari ini,
banyak ayah tak bisa menyembelih anaknya
karena anak-anak telah lebih dulu
menyembelih kepercayaannya:
dengan abai, dengan lupa pulang,
dengan diam yang lebih tajam dari pisau Ibrahim.

Jika kalian ingin tahu,
taat bukan tunduk membabi buta.
Taat adalah membuka leher
karena percaya cinta
tak akan mengalirkan darah,
hanya keikhlasan.

Zulhijah: Bulan Ketika Langit Pernah Belajar Menangis

Bulan ini,
langit tak hanya turun hujan,
ia turun sujud—
melihat seorang ayah
yang bersedia menyerahkan anaknya,
seorang istri yang berlari tujuh kali demi air,
seorang anak yang berkata,
“Lakukan apa yang diperintahkan padamu.”

Dan kita,
masih menangis untuk cinta yang pergi,
gagal yang tak jadi emas,
rencana yang tak jadi indah.

Tapi Zulhijah mengajarkan:
cinta sejati
bukan yang terus menggenggam,
tapi yang tahu kapan
mengantar,
melepaskan,
dan percaya:
segala yang dikorbankan
tidak pernah benar-benar hilang,
hanya berpindah
ke tempat yang lebih tinggi.

(Maguwoharjo, Zulhijah 1446)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Salman Alade
Salman Alade Lebih sering menulis untuk bertanya daripada menjawab.

One Reply to “Di Antara Dua Bukit dan Puisi Lainnya”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email