Dalam Mata 1998 dan Puisi Lainnya

Vito Prasetyo

1 min read

Dalam Mata (Air) 1998

mungkin puisi hanya menjadi catatan pahit di rak ingatan
1998, ada gema suara mengalir ke segenap negeri
di saat ingatan kita tersumbat
tertindih dalam rahim tirani
bumi dan langit pun seakan mengimpit
wajah kita buram, meniti hari-hari kosong tanpa nada
bagaikan menabuh angin
adakah yang lebih tabah dari impian
selain melukis ritual zaman
dengan sepenggal kata-kata yang memurkai musim

hari ini, kenangan cinta tak ada bedanya dengan sederet abjad terluka
hanya sebuah harapan yang kelak dibacakan oleh orang-orang kehilangan Tuhan
dan puisi tidak lagi menjadi frasa terindah di peradaban modern
sebab kita hanya sehimpun cemas
dalam peristiwa-peristiwa kehidupan

yang suka atau tidak suka; seperti mencecap benang kusut
menjahit luka tanah-tanah ini
dengan mata air dan air mata
entah dengan cara apa memisahkannya!
selain menghelat rindu pada cungkup pusara
nyatanya langit mulai terkelupas
senantiasa berziarah kata-kata dalam gelap

(2025)

Aku (Puisi) Tidak Akan Mati

tidak akan aku tinggalkan pencarian kata-kata
kecuali ingatanku mati
dan rasa cinta berubah dendam
meski masih ada sisa kata-kata
yang beranak-pinak menjelma puisi
Wiji Thukul, masih adakah sisa kata-katamu untuk menjahit luka di dada ini?

(2025)

Masa Kecil

mendaras rindu dari ingatan masa lalu
aku bahkan tak mampu lagi mengingat namamu
seperti mengelupas di uban rambutku
bukan karena aku mulai menua
sebab engkau telah membakar semua kecamuk hati, yang kutakwilkan serupa rindu
tatkala masa kecil seharusnya menjadi kenangan
dan kita satukan dalam puisi

(2025)

Hidup adalah Nyanyian Kekalahan

aku coba merenung
pada malam yang senantiasa hening
tentang kematianku
ringkihnya waktu tak akan mampu mengusiknya
setiap kali kubakar mimpi
selalu saja ingatanku bergolak

‘kubayangkan langit mengiris cahayanya
dan dari setiap garis cahaya memercikkan aksara duka
hingga syair-syair lagu terdengar lirih
seakan menyayat kenangan indah
yang telah kunyanyikan untuk tanah-tanah ini
mungkin esok, tanganku harus mengakhiri puisi
kata-kata di dalamnya menisbahkan diri
sebuah kemenangan bagi kekalahan tertunda

(2025)

Seperti Angan yang Teramat Silau

dari sebuah jendela sekolah aku mulai mengerti
ada impian yang mengais hari-hari kosong
mereka bagai menabuh gemuruh angin
tanpa suara dan tanpa nada
langkahnya kadang terseret di bawah teduh matahari yang menyengat
seakan menusuk pikiran untuk memaknai sebuah perjalanan
aku dan ingatanku merangkak dalam gelap
sinar pekat menghadang
secepat angin, langit berubah wajah
anak-anak kecil kian murung
di selintas tatapannya, Tuhan berkehendak lain
mungkin wajah polos itu harus belajar tentang ketabahan
seharusnya mereka menjaring matahari
berlari sejauh mungkin, dengan sebongkah angan
hari esok bukanlah mimpi yang tertunda
tetapi jangan-jangan sejarah berkata lain
kebenaran akan bersembunyi di kolong-kolong ketakutan

(Malang, 2025)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Vito Prasetyo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email