Bulan Mei
peringatan:
Marsinah bukan dongeng.
kenangan manis yang
dijual dalam potongan sajak
dan bukan rembulan lembut
dari puisi Sapardi.
Marsinah adalah tulang retak
di lantai pabrik yang
senyap, yang digilas
waktu, yang dipadamkan
oleh lampu kekuasaan
dan sensor sejarah Indonesia.
nasi pagi itu dingin seperti tanah
pabrik arloji, dan berdetak
seperti jantung besi yang
kehabisan waktu.
harapan tak pernah dihafal
dalam notulen sidang kebijakan.
suara-suara disiram
tuduhan, diberi cap merah
di lengan dan ingatan.
dan lapar yang berbaris
bersama ribuan kaki ingin disapa
oleh meja panjang birokrasi
dan suara yang
menggema dari mikrofon usang.
jika kritik dikunci maka merdeka
hanyalah kata yang
dikelupas dari buku saku
aktivis, tinggal mimpi di reruntuhan
idealisme. hari depan itu milik siapa?
ia diseret oleh pasukan dalang
dan dalih, diarak bersama bendera
yang kehilangan
warna, dan spanduk yang robek
seperti pertanyaan tua:
rebut kekuasaan yang mana?
kekuasaan siapa?
kebebasan yang mana?
semuanya tertulis dalam huruf mati
di layar televisi yang pecah.
petani ditarik dari ladangnya
buruh dilipat oleh mesin
mahasiswa dirayu dengan ijazah
dan rakyat lainnya
adalah catatan kaki dalam epos
yang tak pernah selesai ditulis.
walau pengkhianatan
datang seperti pesan
singkat dini hari, dikirim
dari kantor-kantor yang sunyi
apa bendera tetap ditinggikan?
atau dibiarkan lapuk
di tiang sekolah
di mana anak-anak tak
lagi menyanyikan lagu pagi?
Wiji menyulut puisi
bukan untuk disanjung
tapi untuk dibakar, dibaca
dalam senyap gedung
yang menjadikan kemerdekaan
sebagai hiburan akhir pekan.
nasi dan puisi yang
dikunyah seperti sisa pesta
adalah kemerdekaan yang basi.
dan meski kematian itu pasti
dan penghinaan datang seperti
pajak tahunan
apa bulan mei akan berjalan
seperti prosesi tanpa doa?
peringatan!
Wiji, Marsinah, dan engkau
yang dilupakan buku sejarah:
jika lapar, makanlah batu, dan
jika ngantuk, bermimpilah yang
paling gaduh karena
hanya itu yang tersisa
dari negara yang
menyebut dirinya merdeka.
(2023)
–
satu hal
—hanya satu baut lepas
dari engsel pintu dapur
dan rumah menjadi bahasa
yang tak bisa dibaca
oleh siapa pun
kecuali debu.
di meja makan
sebuah sendok menganga
menunggu tangan yang tak pulang.
ponsel murah menyuarakan himne
dari tembang yang telah pensiun
dalam sunyi plastik dan parodi.
—di Tangerang Raya
angin berjalan dengan kaki mesin.
lelaki tua duduk di teras
dengan wajah seperti pelat nomor
yang tak terdaftar
di sistem manapun.
kipas angin mati
dan udara menempel
di kulit seperti ingatan
yang menolak dimandikan.
lampu tidur berkedip
seperti malaikat
yang kehabisan daya.
—satu baut, satu kabel, satu deru—
dan seluruh kota tak sadar
ia sedang terbakar pelan-pelan
oleh kulkas yang berdoa
agar tak dicabut.
neraka bukan api.
ia suara dengung statis
di kepala seorang anak
yang lupa nama ayahnya
di tengah laporan teknis
dan aroma bensin basi.
—segala cinta ada gearboxnya.
segala luka harus diservis berkala.
dan hanya satu percikan
dari dalam soket hati
yang bisa memadamkan
seluruh lantai pabrik.
waktu tak mengetuk
tapi mendesis
dari mesin pemotong roti
yang tak lagi dipercaya.
di rak logam, memo
-memo lembur
menjadi fosil pengakuan
yang tak pernah ditebus.
—surga, katamu?
hanya saklar
yang bekerja tanpa dendam.
hanya sebuah dinamo
yang bertahan dari pemadaman panjang
dan menyala
bukan karena daya,
tapi karena kasih.
—yang kita butuhkan
hanya satu titik patri
untuk menyambung
kabel paling sunyi
dalam kepala yang dibor
oleh suara invoice
dan janji-janji lainnya itu.
karena hidup
adalah sisa karbon
di karburator
yang tak tahu arah
tapi terus berdenyut
seperti drum mesin
yang menolak mati.
dan kita adalah puisi
yang dikerjakan mesin rusak
dengan ludah basi
di kertas HVS
yang telah dimakan usia.
(2025)
–
memetik lagu Slank
aku ingin bercinta…
lepaslah, lepas tegangan…
kekosongan merayap
di sela tubuh yang
kehilangan reruntuhan
dan mesin-mesinmu hanya berdengung
di nyanyian knalpot pecah
yang selalu terjebak, tertawa.
gitar menggigil di pencarian yang syahdu:
gerimis di tengah malam
membunuhku—aku terbunuh sepi.
setiap mabuk yang meremaja terperangkap dalam mesin waktu
mata sirkuit kosong
menjelma gitar dan lagu-lagu itu.
partitur berserakan
keluhan berbentuk kerikil menancap di kepala
di bawah lampu jalan, pudar.
kekosongan berkelamin remaja
mengigit arah
dan tak ada foto dalam
dompetmu yang
layak untuk disampaikan.
tetapi mungkin reaksi kimia
punya cadangan
dari album yang
membusuk di rumahnya.
aku dibawa terbang ke alam mereka…
aku bagai ikan tanpa air,
tanpa dirimu…
wajah Ciputat menggantung di pagar karatan.
di trotoar, punggung memanggul
suara kupu-kupu yang diselimuti debu
dan, mata mencari rumah
untuk mengakhiri yang terlalu manis.
kekosongan bercakap-cakap
di ujung kelamin rock n roll
tentang perempuan dan lorong hitam
dan menunggu di tepi Campuhan
yang getir
dari mulut api yang rapuh itu.
dan senyum hanya mengulang
ratapan yang terlalu muda:
di tempat sedingin ini… tak ada
bibir, dan aku terlepas—aku terbunuh
sepi.
belum ada lagi kekosongan
yang terperangkap dan diulang-ulang
menjadi tubuh remaja
dan menggantung di tali jahiliah
dan di aspal dan di keluhan
yang memeluk panggilan
yang terlalu lama absen.
aku ingin bercinta
lepaskan semua tegangan…
(2025)
–
mengaliri beberapa Jazz di urat kepala
diatonik itu mengalir pelan
melewati dada hijau yang retak oleh hujan
sebab ciuman purba telah melebur
dan jalan Ciputat terangkat
menjadi kasak-kusuk yang sekarat.
aku melihat
sepersekian suara tanpa wajah
menggoreskan jalur tiga ketukan
di atas mobil yang jumawa.
sepersepuluh nada terus berjalan
menyentuh ketiadaan
mendekap gugur daun
dan pelukan remaja
di antara lagu biru yang genting.
apakah ada kekuatan
yang mengenal jalannya sendiri
tanpa pernah tahu ke mana ia akan pergi?
apakah ada keluwesan
yang pucat, yang tak sempat bernyanyi
di kota yang telah melupakan musim?
jika nanti
aku membelah helai-helai nada
dan menyingkap jalanan itu
aku tahu:
aku akan menemukan
bekas putih yang patah
dan urat di punggung tua
dan jejak seekor anjing merah
di reruntuhan beton
yang terlalu lama diam.
aku tidak akan pernah membayangkan
bagaimana gairah perlahan
bisa menjadi jalan
bagaimana kesengajaan bisa lahir
dari tubuh yang diciptakan oleh keraguan.
dan seperti diatonik tua itu
aku terus mengalir
tanpa tujuan
tanpa jawaban
menghantarkan satu-satunya
yang kupunya:
waktu yang belum berniat pulang.
(2025)
*****
Editor: Moch Aldy MA
