Jarum jam berdetak malas di dinding kusam, menandai tengah malam yang lengang. Di kamar rusun sempit lantai tiga belas, seorang penulis kurus duduk membungkuk di atas ranjang reyot, menggencet perutnya dengan sabuk kulit yang sudah bolong di mana-mana. Setiap tarik napas terdengar seperti keluhan. Dari balik dinding triplek, ranjang tetangga bergoyang ritmis, diselingi tawa cekikikan. Ia tak menggubris.
Tangannya gemetar saat meraba keran wastafel—kebiasaannya: tiga teguk air sebelum tidur untuk menipu perut. Tapi malam itu, hanya desis udara yang menyambut. Penulis Miskin menatap pancuran bisu itu beberapa detik, lalu kembali ke ranjang. Mata menatap langit-langit, perutnya berteriak lebih lantang dari suara ranjang tetangga. Tiga hari terakhir, ia lebih sering berdialog dengan rasa lapar daripada kata-kata.
Pintu kamar dibiarkan terkunci, bukan karena aman—tapi karena percuma. Lorong luar sunyi, hanya sesekali terdengar suara TV tetangga yang selalu menyetel volume tinggi. Dari balik lubang angin, aroma mie rebus mengendap pelan, menampar hidung yang terlalu jujur. Ia mengendus, menelan ludah, lalu tertawa kecil.
Tak ada gunanya mengetuk pintu tetangga. Terakhir kali ia coba, hanya diberi tatapan seperti maling yang salah kostum. Kota ini juga bukan tempat yang ramah bagi tangan kosong. Di ujung gang, polisi berdiri seperti figuran film distopia, siap membubarkan siapa pun yang terlalu lapar untuk patuh.
Penulis miskin duduk di lantai, menggambar sepiring nasi di dinding dengan sisa pensil 2B. “Kreativitas,” gumamnya, “adalah kunci.” Perutnya menggeram tak setuju. Tapi ia tersenyum, seperti seorang jenius yang baru menemukan rumus baru: makan tanpa makan.
***
Joko dan Siti pergi berlibur ke sebuah vila di puncak bukit. Maksudnya, melarikan diri. Mereka sudah muak dengan kehidupan kerja di kota dan segala hiruk pikuknya. Menurut mereka, vila di puncak bukit itu, adalah tempat pelarian terbaik. Setidaknya, begitu sampai sesuatu yang buruk menimpa mereka. Mereka kelaparan, belum memakan apapun sejak pagi, sejak tiba di vila itu. Lebih sial lagi, saat itu sudah tengah malam dan tidak ada orang menjual makanan di sekitar tempat itu.
***
Cahaya kehijauan dari monitor tabung tua memantul di wajah Penulis Miskin yang cekung. Di layar, kursor berkedip tak sabar, seolah ikut lapar. Jemarinya menari di atas papan ketik yang beberapa hurufnya sudah hilang entah ke mana. Tiap ketukan terdengar seperti mantra pengusir lapar.
Di sela kalimat, perutnya menggerutu. Ia tak menggubris. Pikiran harus terus berlari, sebelum hormon ghrelin—si dalang lapar—mulai menghasut otak. Menulis, baginya, bukan lagi sekadar kebiasaan. Itu strategi bertahan hidup. Selembar paragraf bisa menggantikan sepotong roti. Dua halaman, mungkin setara semangkuk nasi.
Di pojok meja, tumpukan kliping tulisannya—beberapa masih berbau minyak goreng—menguning perlahan. Satu dua di antaranya bahkan tak sempat dibaca sebelum dipotong jadi pembungkus tahu isi. Ia melihatnya sebentar, mengangkat bahu, lalu kembali menatap layar.
Di dunia nyata ia lapar, tapi di halaman Word, ia adalah dewa. Dan para dewa tak butuh makan, cukup inspirasi dan sedikit ilusi kenyang.
***
Joko merajuk kepada Siti karena pacarnya itu tidak teliti. Siti berkali-kali memohon maaf sambil mengatupkan kedua telapak tangannya. Meski sudah memasang wajah memelas, Joko tetap tidak peduli.
***
Kedua alisnya berseteru di tengah dahi. Kursor berkedip seperti sedang mengejek, sementara layar terus dipenuhi—dan kembali dikosongkan—oleh kalimat-kalimat yang gagal bertahan hidup. Huruf demi huruf muncul, lalu lenyap, seperti upaya melukis pelangi dengan kapur di bawah hujan.
Tangan kirinya sibuk mencabik-cabik akar pikirannya—secara harfiah. Rambut putih jatuh satu-satu di atas meja, jadi semacam salju keputusasaan. Tapi ia tak peduli. Otot di rahangnya menegang, matanya menatap layar seperti sedang merayu dewi inspirasi agar turun dari langit, atau minimal dari loteng.
Tiba-tiba, meledaklah suara tawa. Bukan tawa manusia biasa—tawa itu panjang, parau. Ranjang tetangga di balik dinding berhenti bergerak. Entah karena kaget, atau karena takut ada orang gila di balik tembok.
***
Joko meradang. Dia mengomel setiap kali melihat wajah pacarnya. Jarinya terus menunjuk-nunjuk wajah Siti. “Kamu memang bodoh sejak lahir,” sentak Joko.
Siti mendongak, menunjukkan wajahnya yang merah padam. Kedua tangannya mengepal, menahan diri untuk tidak meledak di depan bom yang sudah meledak lebih dulu.
“Mas, ini kan, cuma perkara makanan. Lagi pula kalau ndak bisa ditahan, kita bisa pulang besok pagi.” Siti angkat bicara.
“Ini bukan masalah makanan. Ini masalah kebodohanmu,” sergah Joko.
***
Penulis Miskin masih tertawa, tetapi dengan suara lebih keras sambil memegangi perutnya yang diikat sabuk. Ia seperti seseorang yang mengingat kebodohan masa lalunya sendiri.
***
“Kenapa kamu selalu memikirkan dirimu sendiri, Mas?”
“Kamu bilang apa?”
“Aku bilang kamu egois. Bukan cuma kamu yang kelaparan, Mas. Aku juga.”
“Itu karena kamu bodoh,” ujar Joko, sambil menjambak rambut panjang Siti.
Siti mengerang kesakitan. Tangannya berusaha melepaskan jambakan kasar Joko, tetapi dia terlalu lemah.
“Asal kamu tahu, Mas, aku selama ini sudah sabar menghadapi kamu yang sedikit-sedikit marah.”
“Kalau kamu pintar, aku ndak akan marah-marah.”
“Kenapa kamu selalu berkata aku bodoh setiap kali ada kesalahan? Kenapa kamu selalu merasa paling benar? Kenapa kamu selalu membesar-besarkan masalah kecil?”
***
Tawa masih meletup dari mulut si Penulis Miskin, serak dan tak beraturan, seperti mesin ketik tua yang dipaksa bekerja tanpa tinta. Tapi di sudut matanya, air bening mengalir perlahan, menumpas sisa tawa yang tersisa.
Kepalanya sedikit menunduk, bahunya terguncang, entah karena geli atau getir. Di sela-sela suara cekikikan yang makin melemah, ada gemetar halus yang hanya bisa dimiliki oleh orang yang sedang berdamai—atau mungkin bertengkar—dengan dirinya sendiri.
Tawanya terdengar seperti ejekan, tapi bukan untuk orang lain. Itu tawa yang dilempar ke cermin, ke bayangan masa lalu yang berdiri diam sambil membawa kantong-kantong kegagalan. Ia menertawakan hidup—dengan cara orang yang sudah terlalu lelah untuk marah.
***
Joko menampar, lalu menyeret Siti ke sudut ruangan. Ia membentur-benturkan kepala Siti ke dinding dengan keras. Siti berteriak minta tolong.
Tangan kanan Siti meraba-raba lantai. Dia menyentuh sesuatu yang mencuat, potongan keramik yang runcing. Dia berusaha meraih itu, sebelum kesadarannya hilang.
Jleb! Keramik runcing itu berhasil Siti cabut dan kini menancap di leher Joko. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Muncul dua lelaki berselempang sarung, tampaknya warga setempat yang sedang meronda. Dua lelaki itu berusaha menyelamatkan Joko.
***
Penulis Miskin masih tertawa.
***
Setelah kejadian itu, Siti divonis penjara sepuluh tahun untuk tuduhan percobaan pembunuhan, meski dia bersikeras membela diri dan mengatakan bahwa Joko-lah orang yang hendak membunuhnya. Namun pernyataan saksi memberatkannya.
Di sisi lain, Joko selamat dari kematian. Namun sejak itu, orang-orang menyebutnya “Penulis Gila” karena selalu menulis tentang pembunuhan brutal. Ia juga sedikit berubah. Ia tidak lagi marah saat kelaparan. Setiap kali kelaparan dan tidak ada makanan, Joko selalu menulis cerita tentang pengalaman gilanya saat kelaparan.
***
Penulis Miskin menangis, tangisannya tertahan, menggumpal di tenggorokan, keluar dalam jeda napas yang tak beraturan. Saat suara itu bergema di dalam dadanya, ketukan pelan di pintu menyusup masuk—cukup untuk membuat tubuhnya menegang, jantungnya memantul seperti bola pingpong di dada kosong.
Ia berdiri, menyeret langkah dengan sisa tenaga, membuka pintu sambil menahan napas. Di ambang, sosok berselimut mantel gelap berdiri kaku, kepalanya tertunduk, wajah tertutup bayang. Ia menelan ludah, suaranya tercekat saat bertanya, tapi tak ada jawaban—hanya keheningan yang terasa terlalu berat.
Penulis Miskin hendak menutup pintu, namun suara itu menyelinap masuk, pelan tapi tajam.
“Ini aku, Mas.”
Nada itu—suara itu—menembus waktu, membongkar ingatan yang seharusnya sudah dikubur. Kepalanya miring, mencoba mencuri wajah di balik kerah mantel. Lalu senyum itu muncul—miring, seolah mengejek batas antara mimpi dan kenyataan.
Matanya membelalak. Tubuhnya terlempar ke belakang, menggesek lantai sampai membentur dinding. Seluruh persendiannya bergetar. Di hadapannya berdiri bukan perempuan, bukan hantu—tapi sesuatu di antaranya.
Sosok itu mendekat, mencondongkan wajah seperti ingin memastikan dirinya dikenali.
“Siti, lho, Mas.”
Srrrt!
Pecahan keramik menembus leher Penulis Miskin. Ia bahkan belum sempat bersuara saat darah hangat membanjiri dadanya. Dalam hitungan detik, perempuan itu menancapkan serpihan yang sama ke lehernya sendiri. Tanpa drama. Tanpa musik latar. Hanya sunyi yang menggema, dan tumpahan darah yang perlahan menyatu di lantai kusam.
*****
Editor: Moch Aldy MA
