DARI MATAMU
buat K
Yang tersisa dari matamu hanya sehimpun sajak
setelah itu kita saling lelah
oleh cinta yang destruktif
—mungkin tak ada pertemuan lagi
lalu dari udara yang dingin
aku kemudian mengkhayalkanmu
suaramu, kata-katamu, dan tatapanmu
yang menghukum segala kesunyianku…
apakah yang kita pertentangkan sebenarnya?
hujan atau kematian
semua menuju keyakinan
bahwa pada akhirnya kau pun pergi
tapi bagaimanapun
rindu terlanjur meniup-niup
dan kadang terasa seperti terpencil
di bawah bantal
di sekitar huruf
di antara teduh matamu.
(2024)
–
PADA SERAMBI KEDAI
Sepotong bintang
jatuh di sini
lagu buruh, melodi ritmis, dan petang yang suram
telah kita lewati
pada bibirmu dengan warna saga
kau bicara tentang hujan
mungkin bukan sekadar hujan
dan kau tahu
kota telah bergerak ke arah gelas yang pahit
menuju kursi putih di kedai ini…
sampai jauh malam,
cahaya-cahaya makin merenggang
juga percakapan kita
tentang apa saja
Stalin, Hitler, Guderian, Zhukov
dan tentara merah yang tahan sengsara itu
mengapa Smolensk, bukan Leningrad?
lalu matamu meraba mataku
kau pun tak pernah tahu
ada hati yang telah jatuh
di sini.
(2023)
–
TENTANG RASA ASING
Taman tak bergerak, seperti halnya
seutas hijau di halaman matamu
angin teruntai
satu persatu teruntai
di antara nafas lembut seorang perempuan
yang menganggap hujan sebagai kesedihan
kau bicara mengapa tak memilihku
dan rasa asing membuatku bertanya:
siapakah kita?
ada warna sesak, antara plasma dan dada
namun aku tetap mendengarkan alasanmu
sayup-sayup dahan, angsana menghitam
lima menit, tiga menit
kau pun pergi
meninggalkan seribu tanda bintang
yang tak kutemukan lagi
di langit-langit senyummu.
(2023)
–
DALAM GERIMIS
Kepada dunia yang tak percaya
kita telah membentuk gerimis
lalu aku, engkau bisa bercinta kapan saja
persis di bawah retak cuaca
rembulan telah tertikam mega
juga tubuhku, tubuhmu
dan sejarah,
menembus apa saja yang dilihatnya:
seorang laki-laki dan perempuan saling telanjang
satu persatu ciuman menyebabkan hujan makin gugur
Dik,
selalu ada kalimat mati di sepanjang jalan ini
kau pun tahu
lalu, apakah kita harus berhenti mencinta?
(2022)
–
KANVAS, SAJAK
di sebuah lukisan
aku melihatmu bersama sepotong ranjang
di mana kita saling tenggelam dalam cinta yang bengal
mustahil cuma ingatan
saat kau menciumku habis-habisan
lalu kau ingin mengeluh tentang sebuah kota yang dingin
kemudian
dosa menyebabkan kita terbujur kaku
Sayangku,
kita selalu terpesona
dengan garis-garis yang tak rapi
warna abstrak
sketsa Revolusi yang tak selalu mengandung slogan-slogan
Andre Breton
Georges Braque
Kazimir Malevich
dan Picasso yang Komunis itu masih bicara keindahan
—tanpa tanda fiktif
di sebuah lukisan
rembulan matamu telah membingkai manusia baru
Egalite! Liberte! Fraternite! Sexualite!
(2019)
–
JANGAN MENANGIS
Seketika namamu terlepas
sebuah pulau menatap matamu yang lesu
lalu aku di sini
memberimu udara yang asing, barangkali…
ada jejak bintang geometris yang merekam
malam-malam kita sebelumnya
berahi kita sebelumnya
sampai esok hari kita sama-sama melupakannya
kata-kata telah menuju lorong perpisahan
malaikat menunggu tak percaya
bahwa ada masa di mana dua manusia
pernah berjanji tak akan hancur oleh kiamat
kita saling menatap untuk terakhir kalinya
sebelum burung menjemput rumput yang dingin
membasahi pipi
jangan menangis lagi, sayangku.
(2013)
*****
Editor: Moch Aldy MA
