Aku juga tak mengerti apa yang terjadi. Mendapati diriku menjadi sebuah pagar sepanjang tiga puluh kilometer di suatu kawasan bukanlah mimpi orang kebanyakan. Apakah ini yang disebut reinkarnasi itu? Dulu memang ketika masih berwujud manusia, aku sempat membayangkan menjadi bunga matahari, pohon sengon, atau kucing. Tapi bukan malah kursi, tiang listrik, apalagi pagar. Terbesit pun rasanya ogah.
Tapi sekuat apapun manusia menolak, pada akhirnya harus mengalah juga pada permainan semesta yang terkadang senang bercanda. Cepat atau lambat aku harus mulai beradaptasi dengan bentuk dan perananku yang baru ini.
Malam terasa begitu asing, di bagian dalam diriku terlihat lampu-lampu yang begitu terang dan mewah mulai menghiasi jalanan, taman, rumah-rumah dan pusat hiburan. Sebuah kawasan yang dahulu belum pernah kulihat apalagi kunjungi.
Semua hal tampak begitu bersinar, barangkali pantulan cahaya dari lampu-lampu mewah itu membuat orang-orang jadi glowing; dari sepatu, baju, celana, tas, rambut, bahkan kumis sampai gigi pun ikutan glowing.
“Sialll!!! Jam Rolex i ketinggalan di Pajero papih,” kata seorang wanita yang sedang bergerombol sambil menyantap jajanan sup hati angsa. “Udahlah, lagian you masih pake jam tangan murahan itu aja. Ketinggalan zaman kali,” sahut temanya sambil tertawa irit.
Dari dalam sebuah gedung hotel yang bertingkat seratus sembilan puluh sembilan lantai, aku juga mendengar perbincangan yang cukup serius, dari lima atau mungkin sepuluh orang pria di salah satu ruangan.
“Bagaimanapun caranya, itu kutu-kutu kupret harus segera minggat,” kata pria dengan suara agak berat. Kalau boleh dibayangkan perawakan pria itu mungkin bertubuh sedikit gempal dengan kepala botak plontos. “Bilang ke mereka, ini semua atas dasar pembangunan negara.”
Mendengar kata ‘pembangunan’, aku jadi teringat cerita ayah ketika aku masih berwujud manusia. Ayah pernah mengatakan bahwa kampung tempat tinggal kami dahulu merupakan tanah yang dibangun dari mayat dan darah orang-orang masa lalu. Ketika mereka mati; tubuh, tulang, dan darah mereka menyatu dan menggumpal menciptakan tanah subur yang baru untuk generasi-generasi berikutnya.
Maka dari itu, di waktu-waktu tertentu saat senja tiba, sering keluar darah dari dalam tanah, bukan hanya itu tapi juga di dasar sungai, yang mengakibatkan semua air berwarna merah, tembok-tembok rumah, bahkan pepohonan ikut berwarna merah. Bukan merah yang biasa tapi merah yang semerah-merahnya-merah.
Apakah ini sama dengan pembangunan yang diceritakan ayah dulu? Belum sempat mendapatkan jawaban, perbincangan di dalam gedung hotel semakin riuh dan bergemuruh. Tak ubahnya suara petasan yang dinyalakan di acara hajatan.
“Kalo mereka masih bandel, suruh itu preman-preman lebih galak dan jangan segan-segan untuk dor.” Entah apa yang mereka bicarakan panjang lebar, toh sekarang aku hanya sebuah pagar sepanjang tiga puluh kilometer di suatu kawasan.
Sementara itu, di bagian luar diriku gelap jadi amat begitu pekat. Hening lama kelamaan jadi semakin akrab, hanya terdengar sayup-sayup suara “tutt… tutt… tutt…” dari masing-masing rumah, seperti alarm peringatan hitung mundur yang mengisyaratkan kesusahan atau mungkin kegelapan total.
Namun setelah beberapa waktu kudengarkan dengan teliti dan hati-hati, di salah satu rumah terselip perbincangan yang agak tertahan.
“Dasar setan laknat! Masa per meter cuma dihargai gocap,” kata seorang pria yang nampaknya kepala keluarga. “Nantinya kalau sudah dibangun, mereka akan jual dua ratus kali lipat kepada cukong-cukong itu?”
“Sudahlah pak, mau sekuat apapun kita bertahan, akhirnya mereka juga yang akan menang,” bujuk si istri. “Tetangga-tetangga kita sudah pada nyerah. Kalah dengan teror preman dan aparat bayaran. Belum lagi saluran-saluran irigasi diuruk, jadi sawah kita pada mati.”
Ketika aku sedang khidmat mencerna kalimat-kalimat yang mengalir deras bagai air kali dari rumah-rumah yang lampunya hampir redup, yang persis sebuah ketombe yang jatuh dan menempel di atas kaos berwarna hitam itu. Kalimat yang penuh geram dan cemas.
Tiba-tiba saja dua orang preman menghampiriku, yang satu agak urakan dengan tangannya memegang tali kekang anjing galak yang nampaknya sangat merindukan tulang. Satu lagi berperawakan necis dan klimis, tapi memancarkan aura kelicikan yang begitu sengit. Mereka berdua menancapkan spanduk besar di atas tubuhku, bertuliskan:
PSP (PROYEK STRATEGIS PENGUASA)
YANG TIDAK BERKEPENTINGAN DIHARAPKAN MINGGAT DENGAN GANCANG!
Seakan tidak cukup dengan itu, lantas mereka memberikan peringatan lewat pengeras suara yang besarnya melebihi bedug masjid. “Salam sejahtera… dengan ini kami peringatkan kepada siapa saja yang masih bertahan. Jika sampai esok pagi masih kelihatan, maka harus siap tahan badan lawan serudukan buldoser,” kata preman berperawakan necis dengan muka dan suara yang datar. “Ini semua atas perintah langsung dari atasan. Semata-mata agar bangsa kita terang menyongsong masa depan.”
Aku masih mencoba mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Hal ini terasa lebih rumit dimengerti ketimbang reinkarnasi menjadi sebuah pagar dengan panjang tiga puluh kilometer di suatu kawasan. Dengan menyisakan tanda tanya besar, tanpa sadar aku pun tertidur.
Ketika bangun, aku kontan bersorak kegirangan. Kini, aku sudah tidak lagi berwujud pagar dengan panjang tiga puluh kilometer di suatu kawasan. Aku menjelma jadi kitab undang-undang tentang pasal pembangunan.
Depok – Jakarta, 22 Januari 2024
*****
Editor: Moch Aldy MA
