Sedang belajar menjadi Manusia.

Rapsodi Bulan April dan Puisi Lainnya

Ilmawan Pramaestyo

4 min read

Aku Hanya Bisa Berceloteh

Begitu cepat aku tiba
pada jam yang gelisah
pukul sebelas malam
angin melantak. tak ada memori di kota.
pada mulanya adalah pintu
yang terbuka bagi lagu dan lamunan
onomatope yang berkeliaran.
ketika poni rambut mulai tidur di kening
kaca-kaca hening, sebuah delirium
memintal bagai benang di kepalaku di udara
debu-debu
meragikan cinta.

aduh, apalah arti cinta; jika halaman ini sepi
dan aku sendiri
menerawang kematian yang bersiap
di esok pagi
kematian yang lembut,
menyambut
laki-laki itu seakan Mingburnu yang diburu
kekalahan di kota di negara
di benua yang terpenjara.

di jalanan buta
sinar bulan hanya menyuruk ke rerumput
ke dinding-dinding berlumut.
semula teater dimainkan di kafe itu
orang-orang adalah kata-kata
dan tiba pada akhir yang cepat
lekas dan tak membekas.
aku hanya bisa memandang trotoar yang kejam ini
dan seorang perempuan duduk lemas di pinggirannya;
sebuah metafora, lebih dari sebuah metafora
tentang sejarah yang berulang
tentang kematian yang berulang.

nasi hanya sebuah mimpi
dalam musik punk atau novel-novel picaresque
tak apa, tak apa kalau kita sering makan udara
makan bulan makan sisa matahari makan
kematian-kematian hari-hari.

aku memilih berjalan sendiri sebab
kebersamaan adalah akar derita
sendiri juga derita, kata mereka
—benih-benih derita.

dan bahagia, hanya menyentuh mereka yang tidur.

jalan terang itu memintaku untuk pulang ke rumah
haruskah aku melewatinya?

(Jakarta, 2024)

Tragedi

Dari setiap peristiwa yang berulang
dari mimpi-mimpi terjeda. tergeletak
di antara meja kerja
matahari yang membuka cerminnya yang berdetak bagai jam. orang-orang tergesa untuk tidur
langit menjatuhi angin di beranda-beranda dingin
dan embun datang. dan embun datang.
dan aku hadir
dengan mataku yang bersalju, kupandangi dunia yang terbatas ini
yang penuh kepusingan dan humor
kaki yang terlempar ke udara, kepala yang tersaruk-saruk
seolah perahu di laut
lautan kehidupan. di mana aku masih belajar untuk diam

o suara melengking pada tiap tikungan
pohon trembesi dan palma dan jembatan yang dikerumuni mobil-mobil
mungkin sebuah sirine yang bercampur politik
membuat orang berduka atas dirinya lalu menyingkir
segerobak tas yang tak terpakai di pasar
hati yang tidak menanti surga atau hari penghakiman
tahun-tahun terkubur di kulkas penuh daging busuk
kesedihan. hanya kesedihan yang menemaniku
membangun kerajaannya di hatiku dengan pohon apel
dan aku ditinggalkan sendirian di sana
seperti mangkuk bekas pengemis yang dibuang
di persimpangan
hantu dingin malam, kemarilah
temani mayatku yang hidup
temani mayat-mayat mereka yang juga hidup.

(Jakarta, 2024)

Seperti Mereka

Suatu keterasingan yang tiba-tiba bangkit
ia menghunjam pepohonan kota, kamar para penyair, buku bisu
tatapan kosong laut, ubin-ubin penjara
kursi pada toko yang selalu sepi,
anak-anak cuaca waktu malam
besi karat yang adalah wajah manusia,
lenguh lampu-lampu jalan
yang selamanya harus bertarung melawan kegelapan
tapi tetap saja matahari cemburu

ada cahaya menjuntai dan merambat di udara
ada batu-batu di air
membenamkan diri,
dalam ketenangan sang waktu, langit
bercermin pada danau
muka langit menyempit dan sepi
makin sepi dan makin sepi
ke mana perginya awan-awan
yang sering mematahkan diri itu?
—melarung ke dermaga mungkin
atau ke punggung gedung-gedung di kota
yang mengekalkan kata ‘ingin’.

(Jakarta, 2024)

Kabut

Lanskap hijau. kabut kelabu. kabut
yang memeluk
burung-burung di bukit.
pagi pagi sekali
yang pertama hidup adalah kaki
kaki bernapas dan mencium bebatuan
dan tanah dan keasrian
tak ada amarah. tak ada amarah.
masih lugukah ini tempat
lugu yang serupa warna hijau
mungkin aku lupa
yang hijau bukan hanya para Nabi
mungkin aku lupa
anak-anak juga hijau
maka jangan biarkan mereka memerankan diri
jadi pejabat dan polisi
atau mereka akan mati… dor!
sebab para leluhur telah berpesan, nak
“kota adalah antagonis dalam cerita kita.”

sekarang giliran angin
dan kesunyian yang memandu kita
menuju metafora
tentang yang samar
tentang yang tercecar.

(Bogor, 2024)

Nyanyian dari Pinggir Jalan

telapak tangan adalah tapal batas persahabatan
karena itu kau menantiku atau sebaliknya.

sayup beringin, cericit burung, sekepal roti,
secangkir kopi, lampu-lampu menahan kelam.
—cintaku tak lagi bersayap, sayang
ada denting jam yang memaku tubuhku
di pelataran ini, bayanganku
seakan merasa paling sepi di bumi.
kau dengarkah gemuruh dari atas sana?
bagai nyanyian penderitaan
angin mabuk dan merusuh di mana-mana
dan rintik air mulai menggeliat di jalanan
dan semuanya berjatuhan. berjatuhan.
di kediaman para pelancong ini
kapan akan berakhir guguran air
dari langit gelap sana
atau ia akan jadi deras hujan yang kasar
menampar wajahku juga
wajah banyak bangunan yang terlantar.

aduh, bulan yang hilang! senyum perempuan juga hilang!
begitu melankolis. inilah waktu terbaik
untuk menyendiri dan merenung
tapi sepi masih saja seperti penjara
dan jiwaku belum bisa bebas
aku pun bingung pada malam.

bagaimana jika kita tak lagi mencipta mimpi-mimpi?
apakah pagi akan bicara
seperti seorang pelamun yang gelisah
lalu bagaimana dengan anak-anak
yang belum mengerti malam
mereka terbangun untuk apa?

pada jam ketika hujan berhenti
langkahku mulai menyerbu genangan
dari situ cermin-cermin air retak.
tak usah terburu-buru, katamu;
pintu selalu terbuka bagi cinta
—apalagi kerinduan.

tapi penantian adalah hal lain
ia serupa ombak yang senantiasa menyusut menuju pantai.
kota! harapan! jalan pulang!
dunia seperti sebuah kabut
ah, langit yang hampir saja biru.
di sekitarku, orang-orang
menuakan nasibnya di jalan-jalan.

(Jakarta, 2024)

Rapsodi Bulan April

Mungkin jalan setapak, mungkin
anak-anak tangga, lift dalam mall
perpustakaan atau museum atau
gedung teater yang penuh, jembatan
di atas sungai yang berkelok, halte terakhir
tepi danau, atau mungkin juga?keramaian
yang sering kali menjadi kebisuan.

semuanya berlaluan dalam satu jalinan waktu
yang pasti. kita pernah ada, Aprilia. Di sana
melewati tiap erangan napas manusia
ruangan yang dipenuhi warna-warna monokrom
ratapan kata-kata bijak di dinding keporos itu
melebur dalam ingatan kita
panorama berantakan dari lanskap postmodern
lukisan-lukisan yang sejatinya adalah kucing
—kasihanilah ia;

apapun itu, siapapun itu, waktu telah dikenali
sekalipun tak pernah dewasa.
setelah itu pergi keluar
menjejak tiap inci lantai dan trotoar
cuaca terik
aspal yang mendidih dan asap knalpot
menetas bagai telur dan bergulingan di udara
dalam gelisah pohon-pohon rindang, kita duduk di bangku taman itu,
Blok M yang lesu…
setelah lelah masuki tempat yang masih menerima
segala racauan kalah: sekolah, kerja,
cinta dan kebebasan
dan pada akhirnya, hidup.

ke mana hendak pergi setelah ini?
kautanyai aku penuh ragu
angin mendesis di antara sekelebat lalu-lalang kendaraan.
setiap orang bercungulan dari sudut-sudut:
pintu kafe, bar yang baru saja dibuka
terminal tak terurus
lalu apa lagi yang kita cari? kebosanan apa lagi?
hari mulai mengganti jubah, lebih panjang dari kemauan
tapi sependek ingatan
—kecuali jika kuhirup lagi aroma kue Madeleine…
ketika malam melumat matahari yang pecah
serpihannya berjatuhan bagai tubuh kerontang
kekalahan cahaya, inilah kematian
di cakrawala hanya ada awan mondar-mandir tak tentu arah.

awan gelap! aku menatapmu seakan bocah yang dipenuhi keriangan
di depan rumah, di bawah pohon jambu yang tak pernah tumbuh itu
di bawah peringatan panggilan ibu, kala aku bosan ibu memanggilku untuk masuk…
tapi kini ibu tak lagi memintaku pulang
aku jadi liar, seliar debu-debu di kota!

ke mana hendak pergi setelah ini?
kautanya lagi dengan penuh ragu
pukul delapan malam
kaubilang ini jadwal terakhir, lalu mengajakku
ke bioskop. menonton horor atau komedi
yang berulang-ulang itu. sebuah
kemiskinan seni? haruskah aku berbicara di sana?
seperti Bernard Shaw? atau keberanianku bakal pupus karena kursi empuk
di baris belakang paling atas, saat lengan kita saling bergelung dan
kepalamu bersandar di pundakku.

ah, kebosanan ini!
mari pergi, Aprilia. sebelum keheningan
muncul mengiringi langkah kita
kembali ke jalan setapak, jembatan
di atas sungai yang berkelok
—bulan mengantuk lebih cepat.

lihat! kemejaku, gaunmu, lusuh diacak-acak angin
“pedulikah kita akan kerja hari esok?”

ke mana hendak pergi setelah ini?
kaubilang pantai lebih sejuk ketimbang rumah
di sana, kita bisa mendengar senandung ombak
persis ketika kau menyetel lagu masa kanak
apakah hanya akan ada kita berdua di sana?
membaca baris-baris puisi Eliot dan Neruda
beralas batu-batu koral, angin dari dermaga
membawa kabar tentang harapan dan kenyataan:
“jika bukan karena kematian,
aku begitu benci pada perpisahan.”

dan kita akan habiskan waktu ke puncak malam, berdua atau tak akan pernah.

(Sunter, 2024)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Ilmawan Pramaestyo
Ilmawan Pramaestyo Sedang belajar menjadi Manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email