“Intinya, kawanku ini, dia anak teknik nuklir, dan dia tidak berani menonton Oppenheimer, Ta. Kamu harus menuliskan soal dia. Sekarang dia bekerja di BUMN dan lumayan terkenal. Menarik, loh! Bayangkan judulnya: seorang pejabat di BRIN yang terlalu pengecut untuk menonton salah satu genosida terkejam dalam sejarah. Hei, rokoknya jangan diambil semua! Sisakan beberapa! Merde, c’est toujours moi qui nettoie tout! Kenapa selalu aku yang bersih-bersih?”
Katarina hanya menghela napas, lagi-lagi si bule perempuan berkulit putih itu, yang sebal sekali dengan ikan dan semua hal kotor-kotor, menyumpah serapah dengan bahasa Prancisnya yang agung. Katarina tidak paham, yang jelas ada kata yang bisa ditangkapnya, seperti bersih dan sialan. “You know what, Elle? Aku selalu bilang berkali-kali kalau kamu hendak menggunakan bahasa Prancismu, tolong jangan di depanku. I might kiss your lips for real.”
Elle, si bule Prancis dengan rambut cokelat terangnya itu, membuat gestur muntah. Dia benar-benar tidak menyenangi Katarina. Bukan karena perempuan itu kotor, tapi dia perokok andal. Elle pernah membercandainya dengan menyita seluruh rokok temannya itu. Katarina tidak menolak ketika opsi satu-satunya hanyalah daun yang Elle petik sembarangan (dan dia juga tidak tahu itu daun apa). Ia gulung kemudian dibakar ujungnya. Bocah gila, dia akan mati muda.
Katarina sekarang berada di balkon. Sekarang baru pukul 7 pagi. Semua orang berusaha bergerak satu-satu, tapi apa daya, Dieng menjelang tahun baru tentunya bikin mati. Suhunya apalagi? Sedari awal mereka tiba di sini, para laki-laki (plus Elle) sudah mencaci maki Katarina yang mengekspos badannya dengan cuma-cuma. Hanya dijawab dengan jawaban sepele semacam hei, aku mantan warga sini. Dan itu tidak sepenuhnya salah. Keluarganya berasal dari sini. Setidaknya, ayahnya yang agung itu.
Dari kejauhan, tampak di bawah seorang pria yang juga sedang merokok. Terlepas dari cuaca yang dingin, laki-laki itu hanya menggunakan singlet putih dan celana training panjang yang ia tekuk ujung-ujungnya. Orang gila, dia sepertinya sudah gila betulan. Sejauh ini, Katarina hanya bisa memaklumi jika dia atau warga lokal yang akan tahan dengan suhu seperti ini. Tapi ternyata laki-laki itu lain. Oh, ternyata seorang perokok beginner. Dia terbatuk-batuk. Badannya yang besar tidak bisa mengelabui bahwa dia tidak pernah merokok.
“Dia pasti sedang patah hati.”
“Kau yang sedang patah hati. Selama tujuh tahun kau patah hati, Kata!” Elle kembali berteriak-teriak sembari membersihkan botol-botol alkohol. Katarina tidak membalas protes itu. Semalam dia memang sangat mabuk. Alkohol di perutnya tidak mau keluar, pedahal dia terbiasa memuntahkan apa pun yang ia makan. Memaksanya dengan merogoh ke dalam mulutnya. Dia benar-benar profesional jika berbicara tentang fobia pada kegiatan bernama makan. Setidaknya, selama setahun belakangan.
Tangannya gemetar. Efek alkohol dan juga rokok yang ia sesap bagai kesetanan. Dan tanpa sadar, rokok itu terlepas begitu saja. Katarina tidak sempat untuk berteriak kepada orang di bawahnya agar segera menyingkir. Ada suara mengaduh pelan dan tanpa pikir panjang, ia langsung berlari menjauh dari railing besi. Tidak ingin bertanggung jawab pada apa pun yang terjadi di bawah sana.
“Ne cours pas dans les escaliers, tu vas tomber, idiot!”
Yah, meski sudah bertahun-tahun berteman dengan Elle, yang Katarina mengerti dari kalimat itu hanyalah idiot.
***
Seberapa sering ia membanting seseorang di atas tatami judo? Kali ini, ia sepertinya akan merasa lebih baik jika tiba-tiba ada skenario perampokan yang terjadi di minimarket di depannya. Satu-satunya minimarket yang memuat segalanya dengan letak tepat di pertigaan. Di sana jarang ada kondom yang Sandi suka, setidaknya. Selain karena dia juga tahu wilayah ini termasuk wilayah yang banyak orang berbudi dan beragama. Jadi jika ke sini dengan seseorang, ia akan merekomendasikan untuk beli kondom sekalian jauh-jauh hari. Kalau bisa jangan yang murahan. Ia sering mengalami kondom sobek ketika bermain dengan si pramugari.
Tapi, tentu saja tidak akan ada yang perlu ia pasangi kondom. Ia tidak akan bercinta dengan siapa pun lagi. Kali ini, Sandi hanya menghela napas. Pelatihnya akan mengomel jika ia mengetahui bahwa rokok tiga bungkus hanya bertahan dua hari. Technically? Satu hari dua puluh jam. Ia bukan perokok, garisbawahi itu. Dari sudut ini, ia sepertinya bisa bercinta dengan rokok saja. Perempuan hanya menyakiti hatinya. Apalagi perempuan yang pernah membersamai selama empat tahun.
“Sudahlah, dia mungkin sekarang sudah ngeseks dengan pilot itu. Mau apa jika ditangisi lagi? Bilang itu pada paru-parumu. Mau mati di kawah saja? Aku dengan senang hati akan melemparmu ke dalamnya.”
“Thanks, I’ll pass,” jawabnya ketus. Teman-temannya benar-benar tidak membantu proses purgatorio yang sedang ia jalani. Proses pembersihan diri.
Dan cerita-cerita macam itu kembali terbayang di otaknya, terutama ketika gadis yang pernah membersamainya itu sekarang tidak mengirimkan pesan apa pun. Sepertinya Sandi memang sudah seharusnya membuang ponsel itu, sudah tidak ada gunanya. Ia mengecek tangannya yang sedikit nyeri, ada bekas seperti terbakar yang sebenarnya tidak terlalu parah, tapi menggesek judoginya. Ia harus sesegera mungkin menempelkan obat luka, ointment, atau semacamnya. Tapi, entah kenapa, itu urung dilakukan.
“Tadi siapa yang menjatuhkan rokok ke tanganmu?”
“Seorang cewek. Entah siapa. Sepertinya aku akan bertemu dengannya, toh kita satu rumah, technically. Aku akan minta tanggung jawabnya.”
Dan itu hanyalah percakapan yang ia lakukan seharian ini, setidaknya sampai malam. Tidak ada orang yang berani mengganggunya lebih jauh, bahkan teman-teman atlet judonya. Sepertinya tidak salah lagi, reputasinya yang menang berturut-turut selama setahun ini justru akan makin menggila. Kau akan membunuh seseorang di tahap ini, lamunannya tidak terhenti ketika suara Panji terdengar lagi di telinganya. Berdengung, menang dari suara penghangat dari sudut kamar. Ia tidak akan mengalah, setidaknya untuk saat ini.
Namun, akhir-akhir ini ada hobi yang agak digelutinya. Ketika ia masih bersama pramugari itu, mereka jarang melakukan hal-hal yang menyenangkan (kecuali seks). Yang mereka lakukan hanyalah pergi ke tempat-tempat mahal, mengabadikan momen, dan ngobrol secukupnya. Cewek itu sibuk dan Sandi juga tidak bisa dibilang seorang pengangguran. Kompetisi judo tidak selalu ada, tapi sering dan ia harus berlatih terus-menerus. Mereka juga jarang menonton film, pedahal biasanya orang pacaran melakukan itu. Sekarang, Sandi justru bertanya-tanya, selama empat tahun ini apa yang sudah mereka lakukan?
Fakta bahwa mereka tinggal bersama bahkan lebih menyedihkan lagi. Pramugari itu sudah menghubunginya sejak bulan lalu agar Sandi memaketkan barang-barang miliknya yang masih ada di sana. Sandi berusaha membujuk, untuk bertemu sekali lagi dan dikemasi bersama, tapi ditolak mentah-mentah. Tidak lama setelah itu, si pramugari mem-posting foto bahwa dia sekarang mengencani seorang pilot. Seorang pilot! Yang super seksi! Sandi merasa kalah telak.
Tentu saja, pilot dan atlet bukankah lebih baik pilot? Meski keduanya sama-sama rawan mati. Tapi kecelakaan pesawat sepertinya rasionya jauh lebih sedikit dibanding kecelakaan atlet olahraga.
Kepalanya hendak meledak, ia kemudian mengusap luka bakar di tangannya lagi. Siapa pula cewek yang melemparkan rokok padanya tadi? Yang ia ingat hanyalah rambut panjang hitamnya yang lebat, di saat dia berusaha lari dari tempat kejadian perkara.
***
Tawanya terbahak-bahak. Perempuan di depannya, si rambut panjang dengan poni yang menutupi bulu-bulu mata itu, ternyata bisa tertawa terbahak-bahak. Dia mengusap ujung matanya perlahan, kemudian bergidik sebentar karena kedinginan. Sandi memandangnya dengan tatapan menerawang. “Ternyata yang aku jatuhi rokok itu kamu?” tanyanya dengan suara tidak bersalah.
“Setidaknya ucapan maaf akan sangat bisa diterima di situasi macam ini,” pungkasnya pendek. Ia menolehkan pandang, menuju arah candi-candi yang hanya berjarak seberapa lemparan batu.
“Maaf, maaf. Aku minta maaf. Aku benar-benar sedang dalam masalah waktu itu. Maksudku, aku minum alkohol semalaman. Dan sepertinya aku agak tidak bisa merasakan tanganku karena kopi juga. So, it slipped.”
“Yah, terserahlah. Lukanya sudah hampir sembuh.”
Perempuan itu mencemooh, “Tentunya itu bukan hal yang besar untuk seorang atlet sepertimu, don’t you think? Meski begitu, aku berjanji akan merawatmu sampai lukanya sembuh.”
Sandi tidak menanggapi. Ingar bingar suasana gladi resik untuk festival itu sebenarnya terlalu berisik untuknya. Ia kebingungan mengapa ayahnya menyuruhnya untuk pergi ke sini. Biasanya dia terlalu cerewet untuk mengatakan berkali-kali bahwa Sandi tidak boleh kalah, bahkan jika itu hanya pertandingan latihan. Tapi orang tua itu malah menyuruhnya mengecek persiapan dari festival yang disponsorinya. Sampai sekarang, Sandi tidak terlalu paham pekerjaan ayahnya. Yang jelas, tidak dipungkiri, dia kaya raya sampai membiarkan anaknya menjadi atlet yang entah akan berhasil atau tidak.
“Kamu terdengar seperti perempuan di luar sana.”
“Terdengar kasar,” perempuan itu makin meledek, “trauma apa kamu?”
“Banyak.”
Mereka terdiam bersama, tidak ada yang berkata apa-apa sampai beberapa menit kemudian. Acara mereka tadi pagi masih membekas di dalam benak Sandi, bahkan sampai detik ini. Perempuan itu mengajaknya ke sebuah rumah, katanya milik kerabat. Ada anak kecil di rumah itu yang berambut gimbal dan bermain sangat lama dengan si perempuan. Kemudian, untuk menjawab kerut di kening Sandi, perempuan itu menjelaskan dengan baik hati, “Namanya rambut gimbal. Harus ada upacara untuk menghilangkannya, namanya upacara ruwatan. Mereka akan minta sesuatu dan orang tuanya harus mengabulkannya. Barulah rambut itu hilang dengan sendirinya ketika dipotong.”
“Terdengar tidak masuk akal. Bagaimana jika mereka meminta Lamborghini?”
“Iya, harus dipenuhi! Hanya saja sejauh ini tidak ada yang meminta hal-hal seperti itu. Consider seperti orang yang mengidam saja. Paling jauh minta sepeda atau mainan. Setelah itu rambutnya baru bisa digunting. Ayahku juga dulu seperti ini.”
“Kamu orang sini?” terkejut, Sandi memutuskan untuk bertanya. Ia mengutuk mulutnya sendiri. Dia tidak ingin menjadi lebih dekat dengan seseorang yang cukup gila untuk melemparkan rokok padanya, tapi mau bagaimana lagi.
“No, my dad was. Dan sekarang kami tidak saling bicara satu sama lain.”
Ada perasaan bersalah sudah menanyakan hal yang sepertinya berusaha disembunyikan oleh si perempuan asing. Namun, perempuan itu berbaik hati mencairkan suasana. Ia seperti mendapat gelagat dari Sandi yang merasa tidak enak. “Tenang saja. Itu sudah sangat lama. Biasalah, masalah anak perempuan sulung dengan ayah mereka. Ada masa saling benci, ada masa saling menyesal. Nanti juga masa itu akan tiba. Sekarang, aku tidak ingin dicampuri urusan olehnya banyak-banyak.”
Yah, terdengar seperti cerita sedih. Tapi Sandi tidak berkomentar lebih lanjut. Dibanding penemuan anak-anak berambut gimbal yang sangat aneh untuk bocah Jakarta sepertinya, ia bisa melihat bagaimana perempuan itu bekerja. Sifatnya sangat supel, tidak seperti orang yang baru berkunjung untuk sebuah liputan. “Kamu sering ke sini? Kupikir kamu baru meliput?”
Perempuan itu menepuk-nepuk celananya yang kotor karena tanah. Sekarang, ia sedang merokok di pelataran rumah itu. Sepertinya mereka bukan kerabat, perempuan ini berbohong. Suasana yang sangat dingin membuat Sandi sedikit bergidik. Ucapan bahwa si perempuan berasal dari sini sepertinya bukan omong kosong. Dia terlihat biasa saja hanya mengenakan kaus pendek dan celana jins. Rambut panjangnya berkibar. Sandi meneguk ludah, setuju bahwa rambut itu terlihat memesona. Seperti pramugari itu, tapi biasanya dia dikuncir. “Memang baru meliput. Tapi aku sering ke sini. Jadi informasi yang kudapat dari mereka lebih cair. Masalah tulisan. Seperti kamu hendak membuat film dokumenter. Bukankah kameramu harus tersembunyi? Mereka harus terbiasa dengan adanya kamera itu sampai mereka bertingkah sewajarnya, tidak merasa sedang diawasi, hal-hal semacam itulah. Itu preferensiku sebagai orang yang ribet pada diri sendiri. Aku tidak suka tulisan yang buruk. Pun tidak suka membaca salah satunya.”
Sandi tertegun. Itu lumayan keren. “Namamu siapa? Akan aku baca satu dua tulisanmu di koran.”
“Katarina,” perempuan itu menatapnya. Rambutnya disibak sedikit, ada noda tanah di pipinya yang kemerahan karena dingin. “Kata, panggilannya.”
“It suits you.”
Adegan itu kembali terulang. Sandi sekarang mengamati Katarina, perempuan dengan rambut panjang hitam dan poni yang mengganggu mata. Ia tarik perkataannya kembali. She’s nothing like her. Pramugarinya jauh lebih cantik, ia rasa. Perempuan ini biasa saja. Tidak, dia cantik, tapi Sandi bingung bagaimana memaparkan cantik itu. “Film yang kemarin bagus ternyata.”
Katarina menoleh, tertawa terbahak-bahak lagi. “Get out! Itu film yang overrated di mana-mana. Aku hanya menawarkannya padamu untuk bilang bahwa pria idamanku adalah Tony Leung. Sampai aku mati pun fakta itu tidak akan berubah.”
“Aku tidak suka ada pramugari di situ.”
Katarina tidak menjawab lagi. Ia memilih untuk meraih gitarnya dari belakang. Rambutnya ia pasangi penjepit, kemudian mulai memetik senarnya dengan perlahan. “Iya, dari ceritamu, aku bisa membayangkan bahwa gadis itu pasti cantik luar biasa. Maksudku, pramugari? Buset. Aku rela mati dua kali untuk perempuan seperti itu.”
“Kamu tidak punya pacar?”
“Tidak, setidaknya sejak tujuh tahun yang lalu. Hanya sekali.”
“Itu waktu yang sangat lama.”
“Tell me about it,” petikan gitar itu tidak berhenti. Katarina mulai bergumam tentang lagu-lagu Natal, mengoceh bahwa Natal tahun ini sangat luar biasa baginya. Setidaknya dia sekarang tidak berada di Jakarta yang kumuh dan arogan itu. Menikmati suasana tempat kelahirannya yang dingin. “Tahu tidak? Aku merasa untuk benar-benar sembuh, kamu tidak bisa benar-benar sembuh, you know what I mean?”
“Omong-omong, tujuh tahun itu waktu yang sangat lama,” Sandi mendesak untuk mengatakan kalimat yang sama. Entahlah, ada rasa tidak suka mendengar perempuan ini berusaha untuk “menghiburnya”.
“Iya. Aku pernah melalui dua kisah cinta. Yang satunya aku bodoh selama tiga tahun, yang satunya aku bodoh selama enam bulan. Yang kudapat dari keduanya adalah perasaan hampa yang tidak ingin kuulangi, entah sampai kapan, entah dengan siapa pun. And yikes! It’s been seven years. Oh! Dan juga tempat-tempat yang sekarang jadi milikku!”
“Mind to elaborate?”
“Ehem, maksudku begini.” Katarina beranjak. Kakinya diseret untuk membuat semacam garis-garis di atas tanah. “Bayangkan jika sebuah kota jadi milikmu. Milikmu dan pramugari cantik itu. Kalian pergi ke banyak tempat, bukan? Aku rasa tempat-tempat yang mahal. Nah, tempat-tempat itu sekarang jadi milikmu. Jadi sesuatu yang pernah mereka bagikan denganmu, selfishly, you own them now. Kalaupun mereka membagikannya dengan orang lain, kamu harus marah dan menggertak bahwa no, it’s mine now! Kamu membagikannya denganku di suatu masa, jadi jangan dibawa ke mana-mana, bahkan dengan orang lain! Aku akan menggugatmu di pengadilan untuk itu!”
Sedikit banyak, Sandi memahami itu. Tapi, ia merasa cerita itu lebih cocok untuk Katarina dibanding untuknya. Ia tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang menarik dengan si pramugari. Setidaknya, Dieng jauh lebih menarik dibanding restoran mahal dan hotel bintang lima itu. Tapi, jika berbicara tentang suatu tempat secara persis, atau film yang ditonton, atau lagu yang mereka bagikan bersama; sepertinya ia paham tentang apa yang dibicarakan perempuan di depannya–yang sekarang sedang menyulut rokoknya untuk kesekian kali.
“Omong-omong, Sandi Yuda, aku ingin membagikan satu film lagi denganmu. Mau menontonnya lagi? Aku akan ke kamarmu nanti.”
“Hanya Sandi, tidak ada Yudanya.”
“Sandi Yuda tokoh favoritku di suatu novel. Dia juga seksi sepertimu.”
Oh, perempuan ini benar-benar tidak seperti pramugarinya.
***
“Aku benci Jogja saja. Setelah menamatkan magister, aku agak butuh waktu untuk sendiri dan berpindah kota makanya aku memutuskan menjadi jurnalis sekarang. Sudah dua tahun, sudah waktunya aku mendaftar S3. Long story short, seperti itulah. Cerita orang-orang yang tidak ingin beranjak dari apa pun.”
Keduanya bergelung di dalam selimut yang sama. Sandi mencium pundak telanjang Katarina, ia mengamati lehernya yang berbekas ciuman. Perempuan ini tidak sekurus pramugarinya. Lekuk tubuhnya lebih terlihat, terdapat beberapa bagian yang bisa ia pegang, terutama pinggulnya yang menawan. Dari awal bertemu, Sandi sudah menangkap bahwa Katarina punya banyak sekali tahi lalat di mukanya yang bulat. Juga pipinya yang benar-benar kemerahan, yang ternyata bukan karena suhu dingin. “Katamu tadi, nama panggilanmu apa ketika kecil?”
“Humaira. Artinya dia yang pipinya kemerah-merahan. Oh! Rambutku dulu juga selalu pendek! Mau lihat?” ia beranjak seperti seorang kanak-kanak yang polos. Sandi merasa hatinya sedikit menghangat. Katarina beranjak dari kasur putih lembut itu. Tubuh telanjangnya terlihat berpendar, atau mungkin itu ilusi semata. “Ini fotoku yang dulu. Aku lebih kurus sekarang, aku rasa.”
“Wow, I’m speechless. Tapi sejujurnya kamu tidak berubah banyak.”
Tawa terbahak-bahak itu kembali terdengar lagi. Sandi meraih tangan itu, membelai rambut panjang itu ke balik telinganya. Apakah degup jantung itu benar-benar degup jantungnya? Atau degup jantung perempuan di depannya? Apakah semburat merah itu benar-benar punya dia yang bersinar dan memantul dari pipi Katarina? Atau benar-benar punya Katarina saja? “Kamu cantik.”
“Tidak mungkin. Mantanmu pramugari. A fucking pramugari. Yang sepertiku bukan apa-apanya.”
Selalu seperti itu ucapannya. “Kata, selama tujuh tahun ini kamu tidak berhubungan dengan siapa pun? Are you serious?”
“Kenapa dibahas lagi?” terkekeh, Katarina menghidupkan musik dari ponselnya. Merry Christmas, Please Don’t Call dari Bleachers kembali terdengar. Ia berdiri lagi, berhadapan dengan cermin yang menampilkan keseluruhan badannya. “You know, aku tidak pernah suka badanku. Dulu aku jauh lebih gendut. Seperti rasanya ingin kupotong-potong dengan gunting.”
Sandi tidak berkomentar apa pun. Dia tidak merasa berhak. Lagi pula, baginya Katarina super menarik. Ia tidak terbayang pramugari itu selama beberapa hari terakhir bersama perempuan ini. Katarina membuka banyak hal baru baginya. Film-film yang tidak pernah ia lirik. Lagu-lagu lawas. Seleranya yang tua dan kuno. Buku-buku yang tidak pernah ia baca. Orang-orang yang baru ia pandang menarik setelah kesekian kali ia berkunjung ke tempat ini. Rokok yang tidak pernah dirasakannya sebagai seorang atlet yang disiplin. Katarina membawanya di pertama-pertamanya yang menarik, ia tidak menyanggah itu. Di matanya, pramugari itu memang cantik, tapi Katarina membakarnya. Setelah sekian lama ia mati rasa.
“Mantan tiga tahunku merusakku, Sandi Yuda. I was a child, I guess. Aku bersyukur sebenarnya, setidaknya semua kebodohanku terjadi ketika aku masih begitu muda. Aku berusaha keluar dari hubungan yang buruk dengan orang tuaku, terutama Ayah. He was … crazier than now. Aku berusaha mencari cinta yang hangat, di tiap laki-laki yang kutemui.” Ia menoleh ke belakang, membiarkan matanya bersitatap dengan mata tajam Sandi yang masih berusaha memeta. “Termasuk denganmu sekarang. Ini hanya sementara. Rasa terbakar itu selalu sementara, bukan begitu? Oh, omong-omong, matamu sangat cantik.”
Udara Dieng yang dingin tidak bisa menembus ruangan itu, tapi Sandi merasa dadanya seperti dicubit. Itu hanya cerita biasa, seolah berusaha menjawab, tapi juga berusaha menutupi. Ia merasa ditolak, padahal ia tidak meminta apa pun, termasuk ciuman dan pelukan yang ganas beberapa menit lalu. Ia tidak memintanya. Keduanya berpacu dengan hasrat untuk saling melukai. Ia bisa merasakan sakit yang ia lemparkan pada gigitan-gigitan di leher dan pundak itu. Perempuan itu juga berlaku sama dengan cakaran-cakaran yang ia torehkan di punggungnya. Mungkin, “sementara” yang dimaksud itu adalah perkelahian yang mereka lakukan barusan. Ada tangis di dalamnya, ada marah di dalamnya. Dan itu tidak seharusnya diteruskan, bukan?
“Dan pria selanjutnya … kami tidak pernah benar-benar berkencan. Hanya setengah tahun, tapi itu merusakku jauh lebih dalam. Aku berusaha seperti apa yang dia mau, termasuk memanjangkan rambutku seperti sekarang. Aku berusaha mengukir hal-hal yang dia suka di badanku, juga di tulisanku. Aku membiarkan dia berjalan di depanku ketika kami bersama, tanpa dia pernah benar-benar membersamai langkahku, atau menggandeng tanganku. Dia mengatakan dia menyukaiku maka aku berhenti bertemu laki-laki yang lebih menghargaiku. Yah, itu satu dua hal yang bisa kusebutkan. Yang lainnya jauh lebih tolol. Mungkin karena waktu itu aku memotong rambutku terlalu pendek dan aku mengenakan baju selain hitam yang dia benci maka kemudian dia benar-benar membuangku begitu saja. Aku harap itu penyebabnya. Rambut pendek sialan itu.”
“Cerita-cerita yang sedih. Kau menuliskannya?”
Katarina tersenyum kecil, ia merebahkan badannya ke dalam rengkuhan Sandi. Matanya yang seperti kucing bertemu dengan mata Sandi yang seperti rubah. Sandi kembali berbicara dalam hati, dia benar-benar punya tahi lalat sangat banyak. “Wajahmu seperti konstelasi bintang.”
“Yuda, maka dari itu, sebenarnya kamu tidak perlu benar-benar memaafkan pramugari cantik itu. Maksudku, hal yang terjadi padaku tadi, itu sudah sangat lama. Jika aku bertemu dengan mereka lagi, aku tidak memaafkan mereka sedikit pun. Mereka juga harusnya sama. Lebih baik kami begini saja. Saling membenci, saling tidak memaafkan. Tidak semua hal harus dimaafkan, termasuk ucapan selamat natal dan tahun baru yang akan datang.”
***
“It was so freaking fun! Thanks! Sandi, aku menikmatinya!”
Ucapan itu kembali terdengar di telinganya. Berdering, berpacu dengan semerbak festival yang sedang berlangsung. Elle, si bule Prancis itu, menatap Sandi dengan tatapan yang sulit ditebak. “Masih mencari Katarina? Dia kembali ke Jakarta.”
“Aku tahu, kamu sudah mengatakannya tadi, Elle.”
“Kuharap kamu segera pergi saja. Aku akan mengatakannya sekali lagi, Katarina memang seperti itu. Kamu tidak boleh meneruskan perasaan itu.”
Mungkin yang dimaksud dengan seperti itu ialah berengsek maka Sandi akan mengiyakannya. Perempuan berengsek yang sudah memorakporandakan hatinya hanya dalam beberapa hari. Dalam beberapa hari saja, Sandi mengganti lagu-lagu di playlist-nya. Dia mengubah film-film kesukaannya. Dia mengecek buku-buku yang hendak ia baca. Mungkin semuanya hanyalah harapan agar bisa berbicara lebih lama dengan si perempuan jurnalis? Apa yang dimaksudkannya dengan membantu Sandi untuk melewati luka-luka itu?
“Apa dia punya media sosial?”
“Aku tidak bisa memberitahukannya.”
“Aku akan mencarinya.”
“Good luck with that. Dia hidup seperti laki-laki kuno di tahun 80-an.”
***
“Kenapa kamu memilih plot yang seperti ini? Apa kamu kesulitan dalam menuliskannya?”
Demi Tuhan, Katarina tidak bermaksud sombong, tapi kenapa banyak sekali orang yang tertarik mendengarnya berceloteh tentang novelnya yang tidak menarik itu? “Sebenarnya memahaminya mudah. Karakter utamanya pergi berkeliling dunia dan menemukan banyak kisah cinta. Selama perjalanannya, dia juga berusaha untuk menuliskan satu kisah cinta yang ia jalani. Nah, sebenarnya pembaca harus menebak kisah cinta mana yang pernah dia jalani itu. Atau kisah cinta yang dia temukan dari orang lain. Entahlah, aku buruk dalam menulis latar. Aku selalu kesulitan dengan itu. Makanya aku sering menonton film, kuharap aku bisa menuliskan latar tanpa benar-benar mengalaminya. Semua yang ada di sini hanya khayalan. Dan mungkin sedikit riset. Hanya sedikit. Aku tidak terlalu sering membaca.”
“Di antara semua karakter di sini, apakah ada petunjuk untuk kisah cinta dari kamu sendiri?”
“Aku tidak bisa mengatakannya, tapi kurasa … tipe karakter laki-laki yang selalu aku tulis biasanya adalah seseorang yang … lembut? You know, tipe yang mudah menangis seperti anak anjing.”
Satu studio tertawa deras. Katarina mengulum senyum, dia hampir saja betulan hendak membocorkan siapa sebenarnya sosok laki-laki dari kisah cintanya yang nyata. Suara dering bel dari pintu membuat ujung matanya sepintas melirik. Seorang laki-laki dengan parka hitamnya. Rambutnya sedikit kebasahan. Ah, apakah sedang hujan? Katarina hampir tertawa. Ah, akhirnya bocah itu menemukannya juga? Mungkin setelah novelnya terbit dan dibahas di mana-mana? Setidaknya ia berhasil menulis novel sebelum ulang tahunnya yang ke-30. Pasti dia hendak marah-marah karena Katarina menuliskannya di salah satu tulisannya, bukan? Atau ada alasan lain mengapa dia datang setelah tiga tahun berselang.
“Kurasa itu saja. Aku tidak bisa memberikan petunjuk lebih jauh. Sebentar, aku harus menyapa seseorang. Sebentar saja, lima menit.”
Merry Christmas, Please Don’t Call dari Bleachers kembali berputar untuk mengisi jeda. Membuat mata Katarina memanas seiring dengan langkahnya menuju seseorang. Ah, sialan, apa yang kamu lakukan setelah membuatku menunggu terlalu lama?
*****
Editor: Moch Aldy MA
