Mahasiswa Ushuluddin, tertarik pada berbagai disiplin keilmuan, dan suka memikirkan hal-hal yang katanya tidak perlu dipikirkan.

Vegapunk dan Hubungan Saling Ketergantungan antar Manusia

Satria Nurfajri

4 min read

“Memang hidup itu berarti merepotkan orang lain.”
 (Vegapunk, One Piece)

Kalimat di atas keluar dari mulut seorang ilmuwan jenius fiksi bernama Vegapunk dalam serial anime One Piece pada episode 1136. Perkataan dari karakter fiksi Vegapunk ini, walau singkat, menyimpan muatan filosofis yang mendalam. Perkataan itu diucapkan kepada Kuma, seorang ayah yang mengorbankan kehendak bebasnya demi kesembuhan anaknya. Saat Kuma merasa bersalah karena telah menyusahkan banyak orang, Vegapunk menanggapi dengan sebuah kalimat yang membebaskan, “bahwa hidup memang berarti merepotkan orang lain.”

Kalimat itu menyentuh sisi yang telah lama saya rasakan namun tak pernah berhasil saya ungkapkan. Ia membangkitkan pemahaman yang diam-diam hidup dalam diri saya, lalu mendesak saya untuk akhirnya memberinya suara, bahwa saling merepotkan bukanlah kelemahan, tapi cara manusia saling membutuhkan dan saling berbagi cinta.

Menurut saya, kalimat itu jauh lebih nyata daripada sekadar dialog anime. Ia mengandung filsafat kehidupan. Ia menyentuh inti dari kenyataan eksistensial manusia, bahwa kita ada karena orang lain, bahwa kita saling terikat, saling tergantung, dan saling merepotkan. Perkataan ini mampu mendobrak kesombongan manusia modern yang terlalu sering membanggakan diri sebagai makhluk independen, mandiri, dan tidak butuh siapa-siapa.

Dorongan Kemandirian

Dalam masyarakat modern, kemandirian kerap kali dianggap sebagai puncak keberhasilan pribadi. Seseorang dipandang berhasil ketika mampu hidup tanpa bergantung pada orang lain, baik secara ekonomi, emosional, maupun sosial. Namun, di balik pengagungan terhadap otonomi ini, ada sesuatu yang perlahan hilang, yaitu rasa kebersamaan dan ketergantungan satu sama lain yang telah lama menjadi landasan kehidupan antar umat manusia.

Baca juga:

Dorongan untuk menjadi individu yang “mandiri sepenuhnya” melahirkan kesan kuat, tetapi di saat yang sama mengikis ikatan solidaritas dalam komunitas. Kita lebih sering dididik untuk tidak merepotkan orang lain, sebisa mungkin jangan meminta bantuan, dan berusaha menyelesaikan semuanya sendiri. Seolah-olah jika membutuhkan orang lain berarti kita tidak memiliki kemampuan atau kekuatan. Padahal, secara kodrati manusia bukanlah makhluk yang ditakdirkan hidup terpisah dari sesamanya. Justru dalam keterputusan itu, kesepian berkembang, bukan karena ketiadaan orang lain secara fisik, melainkan karena absennya kehadiran yang tulus dan saling peduli.

Sebagaimana pepatah Jawa mengatakan: “Urip iku mung sak ndelon, ojo ngaya dadi kuat, ojo isin dadi ringkih.”
Artinya, hidup ini cuma sekejap, jangan memaksa menjadi kuat, dan jangan malu menjadi lemah.

Diakui sebagai pribadi yang kuat memang mampu meninggikan harga diri manusia. Tetapi orang kuat bukan berarti tidak boleh menunjukkan sisi lemahnya. Kekuatan sejati bukan terletak pada ketidakmampuan untuk jatuh, melainkan pada keberanian untuk mengakui bahwa kita pun bisa lelah, butuh bantuan, dan tak selalu sanggup berdiri sendiri. Secara lahiriah, membutuhkan atau merepotkan orang lain memang akan menunjukkan sisi lemah manusia. Namun, kelemahan bukanlah aib yang harus ditutup rapat-rapat oleh manusia. Justru dengan menunjukkan kelemahan dan membutuhkan orang lain berarti  mengafirmasi bahwa kita sejatinya adalah manusia.

Masyarakat modern juga kerap kali meyakini, bahwa direpotkan berarti dirugikan atau direpotkan berarti dimanfaatkan. Bukankah, direpotkan orang lain, justru menunjukkan bahwa kita dibutuhkan, atau kehadiran dan kemampuan kita diakui?

Lebih dari itu, hal tersebut mencerminkan adanya rasa percaya. Orang lain merasa cukup dekat dan yakin bahwa kita bersedia hadir dan membantu. Direpotkan berarti kita dianggap penting dalam lingkaran sosial. Bukan sekadar ada, tetapi benar-benar dihargai sebagai bagian dari kehidupan orang lain. Menjadi yang paling sering direpotkan bukanlah beban, tetapi sebuah kehormatan. Direpotkan bukan berarti dirugikan, melainkan dipercaya. Maka, setiap kerepotan yang datang dari orang yang kita cintai, sejatinya adalah cara mereka berkata: “Aku ingin kau hadir dalam hidupku.” Tetapi, jika orang lain tidak pernah  merepotkan kita, apakah itu berkah, atau justru kesepian yang diam-diam menyamar?

Dalam filsafat eksistensial, terutama dalam pemikiran Martin Buber dan Emmanuel Levinas, hubungan dengan yang lain (the Other) adalah syarat utama bagi kesadaran kita akan diri. Manusia hanya bisa menyadari bahwa “aku ada” karena ada orang lain yang “bukan aku”. Buber menyebutnya sebagai relasi “Aku-Engkau”, relasi sejati yang tidak melihat orang lain sebagai objek, tetapi sebagai subjek utuh. Dalam relasi itulah, kita menjadi manusia seutuhnya.

Sementara Levinas lebih jauh lagi. Baginya, wajah orang lain adalah panggilan etis. Kita pertama-tama adalah makhluk yang bertanggung jawab terhadap orang lain. Sebelum berpikir, sebelum berkata, kita telah dituntut oleh kehadiran orang lain.

Mungkin hidup memang bukan soal menjadi sempurna dan tidak menyusahkan siapa pun. Hidup adalah tentang kehadiran. Dan kehadiran manusia, sebagaimana dikatakan Buber dan Levinas, selalu bersifat etis dan relasional. Kita hadir bukan sebagai titik yang berdiri sendiri, tetapi sebagai simpul dari jaringan kebutuhan, kasih, dan kepercayaan.

Maka, ketika Vegapunk berkata, “Hidup berarti merepotkan orang lain,” ia tidak sedang melegalkan kelemahan. Ia sedang mengakui kodrat dasar manusia, bahwa kita saling tergantung. Dan justru dalam saling merepotkan itulah, cinta bekerja. Kalimat itu, bagi saya, bukan hanya hiburan, melainkan pembebasan. Ia membebaskan saya dari rasa bersalah karena merasa butuh. Ia membebaskan saya dari ilusi bahwa menjadi manusia berarti bisa semuanya sendiri.

Baca juga:

Zaman ini terlalu keras terhadap konsep ketergantungan. Kita diajari bahwa menjadi kuat berarti tidak pernah meminta tolong. Kita dilatih untuk malu jika dianggap menyusahkan. Kita bahkan memuji orang-orang yang tidak mau merepotkan siapa-siapa. Namun benarkah itu kekuatan, atau justru rasa takut yang disembunyikan?

Sumber Kebahagiaan

Salah satu sumber kebahagiaan yang paling bermakna bagi saya adalah ketika orang-orang terdekat menunjukkan kepercayaan dengan bersedia melibatkan saya dalam kesulitan atau kerepotan mereka. Saat mereka tidak ragu meminta bantuan, saya merasa dihargai dan dianggap hadir secara nyata dalam kehidupan mereka. Sebaliknya, ketika mereka tampak enggan atau tidak pernah merepotkan saya, muncul perasaan seolah saya tidak benar-benar dianggap sebagai bagian penting dalam lingkar hidup mereka. Bagi saya, dipercaya untuk direpotkan bukan beban, melainkan tanda keintiman dan pengakuan akan keberadaan saya yang bermakna bagi mereka.

Tentu saja, tidak setiap kerepotan lahir dari niat yang tulus. Ada kalanya seseorang menyalahgunakan kebaikan hati kita, menjadikan kita pelampiasan atau tempat bergantung tanpa adanya keseimbangan atau penghargaan. Namun, pengalaman seperti itu bukan alasan untuk membenci kerepotan itu sendiri. Justru, hal tersebut seharusnya menjadi pengingat agar kita bisa membedakan mana yang merupakan bentuk kasih sayang, dan mana yang merupakan bentuk eksploitasi.

Kita berhak untuk berkata tidak, untuk menjaga jarak, dan membangun batas yang sehat. Namun di balik itu semua, jangan pernah sepenuhnya menutup diri dari kemungkinan direpotkan oleh mereka yang benar-benar mencintai kita, atau meminta bantuan kepada orang yang kita cintai. Karena dalam saling merepotkan dengan kasih, di sanalah kedekatan dan makna hubungan manusia tumbuh.

Sejalan dengan Vegapunk. Hidup memang berarti merepotkan orang lain. Namun, dari kerepotan itulah lahir kasih, keterikatan, dan kemanusiaan yang paling murni. Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin individualistis ini, yang paling kita rindukan bukanlah orang yang sempurna, melainkan orang yang bersedia direpotkan atau merepotkan kita.

Terakhir, jika suatu hari Anda merasa merepotkan orang lain, jangan terlalu cepat merasa bersalah. Barangkali, Anda sedang memberi kesempatan kepada orang lain untuk mencintai. Karena siapa tahu, dalam kerepotan yang kamu timbulkan, ada seseorang yang merasa berarti. Ada seseorang yang merasa dibutuhkan. Merasa bahwa hidupnya masih berarti. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Satria Nurfajri
Satria Nurfajri Mahasiswa Ushuluddin, tertarik pada berbagai disiplin keilmuan, dan suka memikirkan hal-hal yang katanya tidak perlu dipikirkan.

One Reply to “Vegapunk dan Hubungan Saling Ketergantungan antar Manusia”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email