Manusia, Teknologi, dan Semesta dalam UWRF 2025

Mina Megawati

2 min read

Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2025 hadir bukan sekadar pesta sastra, tapi ruang refleksi yang membuat isu global terasa dekat dengan hidup kita sehari-hari. Percakapan tentang manusia, teknologi, dan semesta akan tersaji hangat di dalamnya.

Tahun ini UWRF kembali hadir pada 30 Oktober – 2 November 2025, membawa sebuah tema besar yang begitu relevan dengan zaman: Aham Brahmasmi. Sebuah konsep kuno dari Brihadaranyaka Upanishad, yang bermakna “Aku adalah Semesta.”

“Aku adalah Semesta” bukan sekadar filosofi spiritual. Ia mengingatkan bahwa manusia adalah bagian dari jagat raya, bukan entitas yang terpisah. Ia mempunyai potensi kreatif yang tak terbatas. Namun justru karena itulah manusia punya tanggung jawab yang besar.

Baca juga:

Di tengah laju perkembangan teknologi, terutama sejak hadirnya kecerdasan buatan (AI), tema ini terasa semakin menemukan titik urgensinya. Manusia kini seperti sedang berada di persimpangan: di satu sisi teknologi memberi kemampuan nyaris tanpa batas, namun di sisi lain ada risiko kontrol, ketidaksetaraan, hingga hilangnya nilai kemanusiaan. Pertanyaan pentingnya: apakah kita masih bisa menjaga kesadaran bahwa pada akhirnya manusia bukanlah penguasa tunggal semesta?

UWRF 2025 berusaha menjawab pertanyaan itu melalui sastra, percakapan, dan ruang refleksi. Festival ini bukan hanya tentang kata-kata indah, tetapi bagaimana kata-kata mampu menyingkap arah gerak zaman.

Okky Madasari: Sastra, Teknologi, dan Suara Perlawanan

Di antara sederet nama penulis dan pemikir dunia yang hadir, ada Okky Madasari dalam lima panel diskusi utama yang akan membuka banyak perspektif segar tentang AI, kebebasan berekspresi, hingga masa depan kesetaraan. Benang merah dari setiap panel itu adalah: sastra bukan cuma estetika, tapi juga ruang kritik, kesadaran, dan keberanian.

Tema kelima panel itu adalah sebagai berikut:

  1. People, Governance, and AI.

Bagaimana AI mengubah wajah pemerintahan dan kehidupan sosial? Siapa yang benar-benar memegang kendali manusia atau algoritma? Dalam panel ini, Okky mengajak kita melihat bahwa teknologi tidak netral. Ia selalu terikat dengan kuasa. Pertanyaannya, kuasa itu untuk siapa?

  1. Mengenalkan Ekologi dan Kekayaan Lokal Pada Anak-Anak Lewat Serial Mata

Seri Mata karya Okky Madasari membawa pembaca menelusuri kekayaan Indonesia lewat sudut pandang Matara, gadis muda yang penuh rasa ingin tahu dan keberanian. Melalui kisah petualangannya, pembaca diajak membayangkan luasnya alam dan budaya negeri ini sekaligus menumbuhkan semangat belajar dan menjelajah. Dalam klub buku istimewa ini, peserta akan diajak langsung oleh Okky menyelami dunia Mata. Mengenal proses kreatif, riset, serta gagasan di baliknya dan bersama-sama menelusuri makna abadi kisah petualangan bagi generasi muda.

  1. The Critical Voice of Okky Madasari

Panel ini adalah ruang khusus untuk mendengar langsung suara kritis penulis asal Kota Magetan tersebut: bagaimana ia memandang sastra, kebebasan berekspresi, dan peran penulis di tengah masyarakat yang semakin dikuasai narasi instan. Sesi ini bukan hanya tentang karya, tapi tentang mengapa suara kritis itu penting untuk terus dijaga.

  1. The Tension Between Artistic Freedom and Censorship

Seni adalah ruang kebebasan. Namun, ia juga sering berhadapan dengan batas: sensor, tekanan politik, bahkan kontrol pasar. Okky Madasari akan menyoroti paradoks ini bahwa di balik karya kreatif, selalu ada pertarungan antara kebebasan dan kekuasaan.

  1. Beyond Backlash: Imagining an Equal Future

Panel ini mengarahkan membicarakan tentang masa depan: bagaimana membayangkan kesetaraan yang melampaui backlash terhadap gerakan perempuan, minoritas, atau kelompok tertindas lainnya. Okky Madasari menegaskan bahwa masa depan yang adil bukan sekadar utopia, tetapi tanggung jawab kolektif yang harus diperjuangkan sekarang.

Sastra sebagai Ruang Kesadaran

Lima panel yang akan tersaji dalam empat hari tersebut membentuk satu narasi utama: tentang manusia, teknologi, kebebasan, dan masa depan. Okky Madasari menghadirkan perspektif yang tajam dan relevan, sekaligus mengingatkan kita bahwa di balik setiap perubahan zaman, kesadaran manusia tetap harus menjadi pusatnya.

Baca juga:

Aham Brahmasmi, “Aku adalah Semesta”, bukan hanya tema, tetapi ajakan untuk tidak kehilangan arah. Teknologi boleh secanggih apa pun, kuasa boleh sebesar apa pun, tetapi manusia harus tetap menyadari posisinya sebagai bagian kecil dari hamparan luas semesta yang saling terhubung.

Di perhelatan UWRF tahun ini, Okky Madasari meluncurkan dua buku terbarunya.

Pertama, kumpulan puisi Kita Adalah Jelata: 100 Sajak, yang memotret pergulatan manusia dengan iman, kekuasaan, dan kemanusiaan. Melalui sajak-sajaknya, Okky Madasari mempertanyakan hal-hal yang kerap kita terima begitu saja: Apa arti iman di negeri berketuhanan? Masih adakah kemanusiaan di tengah keserakahan?

Kedua, kumpulan esai Wawasan Kebangsatan: 80 Catatan, yang berisi fragmen-fragmen pemikiran Okky sebagai penulis dan sosiolog. Buku ini lahir dari pergulatannya dengan konteks sosial-politik Indonesia, sebuah refleksi tajam atas bangsa yang terus bergerak, tapi sering tersandung pada masalah yang sama.

Mengapa Panel Ini Relevan untuk Kita Semua?

UWRF 2025 bukan sekadar festival sastra yang hadir setahun sekali. Ia adalah ruang perjumpaan, tempat kita bisa duduk bersama, mendengar, dan berbagi kegelisahan tentang arah manusia dan dunia.

Buat siapa pun yang penasaran pada masa depan AI, peduli soal kebebasan berekspresi, atau hanya ingin pulang dengan inspirasi baru, lima panel bersama Okky Madasari bisa jadi ruang belajar sekaligus refleksi bersama.

Karena pada akhirnya, sastra bukan hanya sebatas membaca dan menulis. Sastra adalah percakapan, kesadaran, dan cara kita memahami zaman. Di UWRF 2025, percakapan itu tersaji hangat dan bernuansa. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Mina Megawati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email