Tuhan, di Mana? dan Puisi Lainnya

salman aristo

54 sec read

Ada Bulan

Ada bulan, menggonggong pada anjing.
Anjing itu diam.

Barangkali ia sedang mendengarkan
sesuatu yang tak dapat didengar oleh halaman,
oleh pohon mangga, oleh angin
yang sejak tadi mondar-mandir di antara daun.

Jendela-jendela telah memejamkan lampunya.

Ada bulan, menggonggong pada anjing.
Tak ada yang berubah.

Hanya bayangan pagar
bergeser beberapa jari ke timur.

Menjelang pagi anjing itu tertidur.
Dan bulan, entah sejak kapan, sudah menjadi embun.

Duka Ini

Duka, ini.

Bukan ketika rumah terbakar,
melainkan ketika abu
masih mengenali bentuk jendela.

Bukan ketika alamat dilupakan,
melainkan ketika seseorang
masih pergi saat pulang.

Bukan ketika harapan habis,
melainkan ketika dia telah pamit
dan pintu masih dibiarkan terbuka.

Cuaca

Aku menulis
tentang kekalahan lama
yang jadi cuaca.

Mula-mula kukira
ia hanya lewat.

Kini ia ada
dalam napas yang pendek.

Begitu panjang menetap,
aku tak lagi tahu:

aku yang memikul cuaca,
atau cuaca yang memikulku.

Tuhan, di Mana?

Tuhan,
aku di mana?

Aku cari tubuhku
di antara orang-orang pulang dari pasar,
tetapi yang kutemukan
hanya seekor burung
sedang mematuki bayanganku.

“Lihat ke dalam saku bajumu,”
kata angin.

Ketika kuraba saku itu,
ada langit terlipat di dalamnya,
dan aku mendengar suara-Mu bertanya:

“Menurutmu?”

Hari di Luar Arsip

Ada apa,
dengan tinta?

semalam ia sibuk mencatut hidupku
sampai larut;

pagi-pagi kubaca
dan menemukan
wajah yang mirip semua orang

barangkali hidup memang lebih suka
bersembunyi di sela percakapan,
di kerutan wajah,
di napas yang tak sempat ditulis

kubiarkan tinta bekerja lagi;
siapa tahu suatu hari ia lelah mencatat
dan akhirnya belajar hidup.

*****

Editor: Moch Aldy MA

salman aristo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email