Baca tulisan saya lainnya di akun Medium: tantridp

Seorang Lelaki yang Menjual Waktu

Tantri DP

5 min read

Sudah sejak pagi ia menekuri laman pencari kerja yang rutin ia sambangi tiga bulan belakangan. Segelas kopi pahit dan remahan biskuit menjadi penolong untuk mengganjal perutnya yang keroncongan sejak semalam. Ia menggeser dan mengetuk tetikus butut. Kali ini ia beralih melihat kotak masuk pada surat elektronik. Nihil. Tidak ada balasan.

Belum sempat menepis gondok yang bercokol di hatinya, ia mendapati seseorang menelepon. Dengan enggan ia meraih telepon seluler yang sebagian layarnya retak. Sebuah nama terpampang di sana. Semula jarinya ingin menekan tombol merah sebelum akhirnya ia menekan tombol hijau dan mulai berbicara.

“Halo, Bu. Ini baru selesai sarapan, mau berangkat ke kantor.”

Ia kembali berdusta. Suara di seberang telepon begitu lantang, mengutarakan kalimat demi kalimat tanpa jeda.

“Ya… Ya… Uangnya sedang dicari. Nanti Adil transfer.”

Ia menutup sambungan telepon dengan tergesa. Baru beberapa detik, panggilan lain masuk. Kali ini, ia segera menyahut.

“Bang… sebentar. Minggu depan janji saya lunasi. Kasih saya waktu.”

Sederet makian meluncur dari si penelepon membuat ia harus menjauhkan telepon seluler dari telinganya. Setelah si penelepon memutus sambungan dengan kasar, beberapa pesan masuk.

Angka-angka yang harus ia bayarkan bermunculan bagaikan ombak yang siap menelannya. Sial, semua jatuh tempo pada waktu yang sama. Ia mengumpat dalam hati. Jemarinya lincah membuka aplikasi perbankan. Enam puluh ribu rupiah. Kemudian ia mengambil dompet kulit yang sudah mengelupas. Nol. Bahkan untuk membeli makan siang nanti saja ia tak punya uang.

***

Tuhan, kalau hidup ini memang adil, di mana keadilan itu?

Ia merutuk frustasi. Tidak seperti namanya, Adil, bahkan hidup seolah enggan memberi keadilan baginya.

Pemutusan Hubungan Kerja yang ia terima jauh dari kata adil. Ia harus menjadi kambing hitam akibat ulah bosnya. Padahal, penghasilannya itu menjadi penopang ibu, nenek, dan adiknya di kampung.

Demi menghemat pengeluaran dan menabung, ia rela tinggal di kos-kosan sempit dan pengap. Tapi, jangankan menabung, semua gajinya habis tak tersisa. Bahkan kurang. Hingga akhirnya ia terseret pada pusaran pinjaman daring yang mencekiknya.

Ia mengambil ponsel dan membuka sosial media. Isinya hanya soal jualan kelas, e-book, atau tautan affiliate. Ah, basi. Semuanya berujung uang, uang, dan uang. Persis seperti yang ia butuhkan. Kemudian, ia kembali menggulirkan layar dan membaca satu utas yang mendapatkan banyak likes dan komentar.

Agar bisa mendapatkan penghasilan lebih, kalian harus punya skill dan daya tawar.

Ia terkekeh. Skill? Apa skill yang ia punya sebagai buruh pabrik selain kuat berdiri lama-lama di depan mesin raksasa. Namun, tawanya terhenti ketika ia melihat satu konten yang berbeda dari yang lain.

Butuh uang? Tawarkan kepada kami apapun yang kamu miliki!

Banyak orang yang meninggalkan komentar namun dibiarkan tanpa balasan. Hanya ada satu komentar yang disematkan berhasil menyita perhatiannya.

Real. Bukan tipu-tipu. Saya tidak punya apa-apa dan bisa mendapatkan uang hanya dengan menjual waktu.

***

Tanpa menunggu, ia menyambar jaket kumalnya dan memakai sandal dengan tergesa. Alamat yang tertera di konten tersebut begitu familier. Halte tempat ia dulu menunggu bus ke pabrik.

Loper koran. Laki-laki beruban menggunakan topi biru.

Ia mencari-cari sosok dengan ciri-ciri tersebut sembari menggerutu dalam hati. Bisa-bisanya tertipu hal remeh seperti ini. Mana ada yang menawarkan jual beli waktu? Tenggorokannya kering, nafasnya tersengal akibat berlari.

“Cari koran apa, Dik?” seorang loper koran mengibaskan topi dan kembali mengenakannya di kepala.

Ia menoleh dan melihat sosok yang ia cari dari tadi.

“Ehm.. anu.. saya…” seketika lidahnya kelu. Loper koran di depannya masih menunggu.

“Apakah bapak menerima jual-beli selain koran-koran ini?” Ia bertanya hati-hati.

Loper koran itu tersenyum dan mengangguk.

“Apa yang mau kamu jual?”

Ada sebersit kelegaan dalam benaknya. Tanpa menunggu, ia mengatakan ingin menjual waktu.

“Kamu yakin?”

Ia mengangguk mantap.

“Saya tidak punya apa-apa lagi. Semenjak menganggur, saya punya banyak waktu luang.”

Loper koran di depannya sedikit berpikir.

“Tapi, waktu yang kamu jual tidak akan kembali. Apakah kamu tetap ingin menjual waktumu?”

“Ya, lebih baik saya kehilangan waktu daripada tidak bisa melanjutkan hidup.”

“Hmm.. Baiklah.”

Tak lama loper koran itu mengecek sebuah buku tebal yang ada di tangannya.

“Berapa jam yang mau kamu jual?”

Ia berpikir sebentar. Sebagai awalan, ia menjual satu jam. Lagi pula, tak ada bedanya jika waktunya hanya berkurang satu jam.

“Seratus juta. Ada pengusaha yang menawar untuk membeli satu jam dengan seratus juta. Apakah kamu bersedia?”

Tanpa ragu, ia mengangguk. Kesepakatan itu berlangsung begitu cepat. Tanpa perlu menunggu, kini rekeningnya telah terisi oleh nominal yang tidak pernah ia sangka seumur hidup.

Ia mengerjap. Seratus juta enam puluh ribu rupiah. Nominal itu bertengger manis di sana. Dengan girang ia mengucapkan terima kasih dan berjalan ringan memikirkan apa menu makan siang hari ini.

***

Seratus juta pertama itu tak lama tinggal di rekeningnya. Ia melunasi sebagian utang pinjaman daring dan mengirimkan uang kepada ibunya di kampung.

“Nenekmu sakit. Apa bisa kirim lebih?”

Belum sempat ia menikmati uang tersebut. Dengan berat hati, ia kembali mengirimkan nominal yang cukup besar untuk berobat neneknya di kampung. Meski sedikit tak rela, namun ia tak mungkin membiarkan nenek yang merawatnya sejak kecil sakit-sakitan.

Kini, sisa saldo di rekeningnya hanya cukup untuk membayar utang kos-kosannya yang menunggak.

Tidak apa-apa, aku bisa menjual waktuku lagi. Pikirnya.

Keesokan harinya, ia kembali menuju halte bus. Matanya mencari-cari loper koran.

“Saya ingin menjual waktu kembali. Kali ini tiga jam sekaligus.”

Mata loper koran membelalak.

“Kamu yakin?”

Ia mengangguk mantap.

“Banyak orang ingin membeli waktu, kamu malah menjualnya.” Loper koran itu menggeleng heran.

“Untuk kali ini penawarannya hanya sepuluh juta untuk satu jam.” Loper itu membetulkan kacamatanya yang merosot,

“Hah? Bukannya satu jam itu senilai seratus juta?” ujarnya protes.

“Tidak semua orang menjual waktu semahal itu. Tergantung seberapa mereka menghargai waktu mereka.”

“Apa tidak ada penawaran yang lebih mahal?” tawarnya.

“Saat ini belum ada.”

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya ia mengangguk. Tidak apa, baru empat jam waktunya yang hilang. Masih ada dua puluh jam yang ia punya.

Meski tidak sepuas sebelumnya, namun ia tetap merasa lega saldonya kembali terisi.

***

Ia kembali pada rutinitasnya mengirimkan sebanyak-banyaknya lamaran. Tak mungkin hanya mengandalkan sisa uang yang semakin hari semakin menipis. Saat dirinya hanyut dalam ratusan lowongan, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.

Nenek kambuh, butuh dirujuk ke kota. Motor adik rusak, perlu service. Barang-barang di warung habis, bisakah Ibu minta sedikit modal?

Kemarin ia merasa menjadi orang kaya, kini perasaan itu lenyap begitu saja. Ia menarik napas berat, seberat beban yang ia pikul selama ini. Saldonya kian menipis, tak cukup untuk membayar berbagai kebutuhan. Dengan malas ia beranjak meninggalkan laptopnya.

Sebelum membuka pintu kamar, ia bergumam, malu tidak, ya, jika menjual waktu lagi? Kakinya ragu melangkah. Ia hendak beralasan saja kepada ibunya jika tidak punya uang. Cepat-cepat ia ambil ponsel di kantong celananya dan mulai mengetik. Ia menulis pesan kepada ibunya, lalu menghapusnya lagi.

Persetan dengan rasa malu! Lebih baik menanggung malu daripada mati kelaparan!

***

Loper koran itu tersenyum menyambut kedatangannya. Semula ia berpikir Loper koran akan menasihati macam-macam, namun dugaannya meleset.

“Cari koran apa?”

Meski heran, namun ia lega mendapati loper koran tak mengenalnya.

“Saya ingin menjual sesuatu, Pak. Saya ingin menjual waktu.”

“Oh, kamu yakin?”

Ia mengangguk mantap. Lantas, transaksi jual beli waktu itu kembali terjadi. Kali ini, dana yang ia butuhkan sungguhlah banyak. Jadi, ia tak segan-segan menjual lima jam waktunya. Ia berjanji, ini terakhir kali menjual waktu.

***

Dengan sisa waktu yang ia miliki, ia mencoba mengurangi jam tidur dan lebih rajin melamar pekerjaan. Tak segan, ia juga menghubungi teman-teman lamanya meminta pekerjaan apa saja. Sementara itu, ibunya di kampung rutin meminta kiriman uang seperti biasa.

Meski baginya dunia ini terasa tak adil, namun kerja kerasnya berbuah manis. Ia mendapatkan pekerjaan di pabrik tempat kawan lamanya bekerja. Satu hal yang mengganjal adalah jarak antara tempat tinggalnya dengan pabrik tersebut cukup jauh. Dengan sisa waktu yang ia miliki, tentu ia harus rela memangkas lagi jam tidur agar tak mengganggu waktu kerja.

***

Hari-hari awal bekerja, semua berjalan baik-baik saja. Setelah lama menganggur, baru kali ini ia merasakan waktunya begitu singkat. Entah karena waktu yang telah terjual, atau karena ia telalu sibuk bekerja.

Baru saja menikmati lembaran barunya, ibunya kembali menelepon.

“Nenekmu koma, masuk rumah sakit.”

Di ujung telepon Ibunya menangis sesegukan. Jantungnya seolah merosot. Nenek yang ia sayangi, dalam kondisi kritis. Ia baru sadar, sudah lama ia tak menengok nenek.

“Biaya rawatnya mahal sekali, Nak.” Ibunya terus saja menangis.

Otaknya berputar cepat. Gajinya belum turun, bahkan ia belum genap sebulan bekerja. Berutang? Sudah cukup ia menelan pengalaman pahit akibat berutang. Satu-satunya yang bisa ia harapkan adalah loper koran.

***

Dengan keringat yang membasahi tubuhnya, ia terus berlari menaiki anak tangga mencari loper koran.

“Saya – mau – jual – waktu – saya, tujuh jam!” Dengan terbata-bata ia mengutarakan maksudnya.

Tidak seperti biasanya, loper koran itu hanya terdiam. Kemudian menggelengkan kepalanya.

“Tidak mungkin orang hidup hanya dengan waktu kurang dari sepuluh jam. Apa kau sudah gila?”

Ia terkejut mendengar pernyataan Loper koran tersebut. Bukannya terakhir kali Loper koran tersebut tidak ingat tentang dirinya?

Ia berpikir sejenak. Nyawa neneknya dalam ancaman.

“Tidak apa-apa, saya butuh uang untuk nenek saya.”

Loper koran sedikit ragu. Namun, ia tetap mengabulkan permintaan anak muda yang putus asa itu.

“Baiklah, kalau itu maumu.”

Ia hanya mengucapkan terima kasih berkali-kali ketika akhirnya uang tersebut muncul di rekeningnya. Dengan cepat ia mengirimkan uang itu kepada ibunya. Berharap neneknya bisa selamat.

Saat ia akan mencari bus menuju pabrik, ibunya mengirimkan pesan singkat.

Nenekmu sudah berpulang.

***

Ia menatap nanar mesin-mesin pabrik yang ada di depannya. Sejak pesan itu dikirimkan ibunya, ia ingin sekali segera pulang ke kampung. Namun, entah mengapa ia hanya terjebak dalam rutinitas bekerja tiada henti. Setiap kali selesai bekerja, ia tak bisa mengambil waktu untuk mengerjakan hal lain.

Tubuhnya lelah, pikirannya kusut. Uang di rekeningnya kini bertambah sebab bosnya sungguh baik hati. Gajinya dibayarkan lebih karena hasil kerjanya di atas rata-rata. Namun, uang tersebut tak dapat ia nikmati.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu.

Mungkin inilah saatnya untuk membeli waktu.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Tantri DP
Tantri DP Baca tulisan saya lainnya di akun Medium: tantridp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email