Seorang suami yang mencintai istrinya. Seorang ayah yang menyimpan kebahagiaan di mata buah hatinya.

Berburu Harta dan Puisi Lainnya

Rafael Yanuar

1 min read

BERBURU HARTA

saat masih kecil, aku percaya
andai kami mau
berusaha sedikit lebih keras
atau berjalan lebih jauh,
ada harta karun
yang bisa kami temukan

mungkin terpendam
di bangunan dua lantai
yang sudah lama ditinggalkan,

atau di halaman rumah alung
yang ditumbuhi tiga ketapang kencana,

barangkali di dasar danau belakang kampung
andai kami berani menyelam
untuk memeriksanya

tapi syukurlah,
tak ada yang cukup bodoh
untuk melakukannya.

siapa sangka,
apa yang kami cari
sudah kami temukan
sayang saat menyadarinya
semua sudah terlambat.

waktu berjalan pelan
seperti jam pulang
yang tak kunjung tiba
tapi berlalu jua pada akhirnya,
tahu-tahu kita kehilangan segala
yang dulu milik kita

dari beribu perjumpaan
yang tersimpan dalam kotak kenangan,
tak satu pun yang tersisa.

“tapi setidaknya kotak itu masih ada,” katamu.
aku mengisnya dengan puisi ini.

(Minggu, 28 Juni 2026)

MUNGKIN ANEMOIA

saat itu, ada ladang tebu
dan seorang anak
mungkin juga seekor burung
yang entah apa namanya

tapi kau butuh nama
tidak harus nyata
tidak harus ada
hanya perlu menjadi benar

maka, itu adalah burung gereja
yang perutnya berwarna merah
dan sayapnya biru langit pukul tujuh

aku tak bisa menentukan
apa warna paruhnya

kau mengusulkan, abu-abu
seperti warna hujan

aku bahkan tak tahu
hujan juga punya warna

burung kecil itu hinggap
di dahan sebuah pohon
ketapang, katamu,
dan bertengger di balik cabang tertinggi
dalam kerimbunan yang ditinggalkan gerimis

maka:
saat itu ada ladang tebu
dan ada matahari senja
yang memandikan setiap batang tebu
dengan air cahaya berwarna jingga,
dan ada pohon ketapang
yang menyembunyikan burung gereja
perutnya biru, sayapnya merah, paruhnya hujan,
di bawah dahan kedua
ada seorang anak
yang sebentar lagi
dibangunkan mimpi.

(Sabtu, 27 Juni 2026)

PUKUL TIGA PAGI

aku tak tahu apa yang dibisikkan hujan
kepada lampu jalan yang pendiam itu
mungkin ia menyuruhnya tetirah saja
sebab jalan ini sepi adanya
lagipula ini sudah lewat tengah malam
dan semua jendela tak lagi membawa terang
segalanya lelap, bahkan pohon-pohon
meredupkan daunnya

lampu jalan itu tampak sekali kelelahan
hampir-hampir padam sepenuhnya
tapi kemudian ia urung menyerah

seekor kunang-kunang (kenang-kenang, katamu)
berlindung di jendela kamarku
meredakan lamunan yang hampir sunyi
kupandang jam, terasa begitu dalam
waktu telah membenamku

kemudian datang sebuah bisik,
“tidurlah saja, biar Aku berjaga malam ini.”

aku pun memadamkan mata,
bersama kenang-kenang
menunggu fajar yang ragu-ragu

(28 April 2025)

BUNGA KECIL

gadis kecil itu memandang bunga
di halaman rumah kakeknya.

pagi belum benar-benar datang.
dia ragu apakah warnanya kuning
jingga, atau malah putih?
seekor kupu-kupu hinggap di daunnya.

dengan suara ragu-ragu
ia menyapa selamat pagi.

esok ia harus berpisah
dengan bunga, burung, dan kupu-kupu
tak bisa lagi berburu wader dan udang di pematang
atau bermain hingga bada magrib

tapi mungkin masih ada
kunang-kunang di jendela
merah dan kuning warnanya
berbaris rapi di jalan berasap lampu.

untuk saat ini,
pada pagi yang masih belum pasti
dia hanya ingin memandang bunga
yang berkembang sempurna
memastikan warnanya
untuk menjadi warna hatinya.

(29 April 2025)

LEBIH SAYUP DARI EMBUN

senja belum berlalu ketika aku
berjalan di setapak berbatu
penjual bunga bersandar di seberang jembatan
tidak membawa apa pun
selain senyuman
yang selalu dikenakannya

entah sudah berapa lama dia di sana
hening yang mengalir di antara kami
mengalir pula di hati kami
dalam rimbun daun-daun
kami pun menyusun rencana

meski saat-saat bertemu
di pangkal titian bambu
masih abadi dalam kenangan
aku melupakan apa pun
yang terjadi setelah itu.
akan kutanyakan di surga nanti.

(Cirebon, Rabu, 14 Mei 2025, 08.49)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Rafael Yanuar
Rafael Yanuar Seorang suami yang mencintai istrinya. Seorang ayah yang menyimpan kebahagiaan di mata buah hatinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email