Raskolnikov dan Kita: Ketika Situasi Membuat Orang Baik jadi Jahat

Zulfa Dillah

2 min read

Di sebuah kamar sempit di kota St. Petersburg, seorang mahasiswa miskin duduk termenung. Namanya Raskolnikov. Uang sudah habis, perut lapar, dan pikirannya dipenuhi rasa bersalah serta kalkulasi moral. Lalu, satu malam, ia mengambil kapak, berjalan ke apartemen seorang rentenir tua, dan membunuhnya.

Begitulah awal dari “Kejahatan dan Hukuman” karya Fyodor Dostoyevsky. Novel ini sudah berusia lebih dari satu abad, tapi pertanyaannya tetap terasa segar “kenapa ada orang baik yang tega melakukan kejahatan?”

Jawaban klasiknya “karena ia sebenarnya orang jahat.” Tapi ada jawaban lain, yang lebih gelisah, dan lebih jujur karena situasinya mendorong ke sana.

Efek Lucifer dan Logika Keputusasaan

Pada tahun 2007, psikolog Philip Zimbardo menulis “The Lucifer Effect”. Ia percaya, bukan hanya orang jahat yang berbuat jahat. Tapi siapa pun bisa jadi pelaku kekejaman jika lingkungan dan tekanannya cukup kuat. Dalam kondisi tertentu, bahkan orang biasa bisa berubah jadi monster.

Zimbardo tak sedang mengarang. Ia bicara berdasarkan eksperimen penjara Stanford tahun 1971 eksperimen yang terkenal dan menyeramkan itu, ketika mahasiswa biasa yang berperan sebagai sipir penjara berubah menjadi sosok kejam hanya dalam beberapa hari. Kekuasaan, tekanan sosial, dan rasa kehilangan kontrol membuat sisi gelap manusia keluar begitu saja.

Apa yang terjadi di Stanford itu, kurang lebih, juga terjadi pada Raskolnikov. Ia bukan pembunuh berantai. Ia bukan orang yang sejak kecil menyiksa hewan atau membakar rumah. Ia cuma anak muda yang lapar, kehabisan uang, dan merasa tidak ada pilihan lain. Apalagi, ia menipu dirinya sendiri dengan dalih filosofis: bahwa membunuh satu orang jahat untuk menyelamatkan banyak orang itu bisa dibenarkan.

Kita boleh mencemooh Raskolnikov. Tapi apakah kita betul-betul berbeda?

Di Mata Kita Kejahatan, di Mata Mereka Keterpaksaan

Kalau bicara soal orang baik yang terseret dalam tindakan keliru, kita tidak perlu langsung menunjuk ke kasus kriminal besar atau isu sensitif. Kadang, cerita-cerita kecil di sekitar kita sudah cukup menjelaskan.

Satu waktu, saya mendengarkan cerita dari seorang kawan saat duduk santai di kantin kampus. Ia bercerita kalau pernah “pinjam” sepeda motor milik temannya selama seharian penuh tanpa izin. Bukan karena iseng, tapi karena sepeda motornya sendiri rusak. Ia harus pergi ke tempat kerja dan sudah telat. Sementara itu kawannya masih tidur pulas dan sangat susah dibangunkan. Temannya marah besar, hubungan mereka menjadi kurang baik dan menjadi canggung. Tapi kalau ditanya, apakah si peminjam ini orang jahat? Tidak juga. Ia cuma kepepet.

Baca juga:

Atau kisah lain tentang seorang mahasiswa yang menyontek tugas kawannya. Ia harus memilih, antara mengerjakan tugas atau bekerja sampai malam agar bisa bayar SPP semester depan. Ia bukan pemalas. Tapi ia punya prioritas bertahan hidup yang lebih mendesak dibanding idealisme akademik.

Cerita-cerita seperti ini mungkin terdengar sepele. Tapi di dalamnya tersembunyi ketegangan yang sama, yaitu orang-orang yang semula punya niat baik, tapi ditekan keadaan sampai harus memilih cara yang salah. Mungkin mereka tidak membunuh seperti Raskolnikov. Tapi logika yang melandasinya tetap serupa keputusan moral yang digerus perlahan oleh kenyataan hidup.

Apakah Kita Semua Punya Sisi Raskolnikov?

Ada saat-saat di mana kita merasa dunia ini terlalu berat. Harga naik, kerja tak pasti, tuntutan hidup datang dari segala penjuru. Di titik itu, kita mungkin mulai paham bagaimana logika Raskolnikov bekerja. Bukan karena kita ingin membunuh siapa pun, tapi karena kita tahu bagaimana rasanya berada di ambang keputusasaan.

Raskolnikov bukan hanya karakter fiksi. Ia adalah cerminan dari sisi rapuh manusia yang bisa muncul kapan saja. Ia adalah potret dari kita, atau teman kita, atau tukang ojek di sudut jalan yang tak lagi bisa membayar kontrakan bulan ini.

Zimbardo menyebut ini “transformasi karakter” sebuah proses di mana tekanan perlahan-lahan mengikis moral seseorang, sampai ia bahkan tidak sadar telah berubah.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Tentu saja, memahami bukan berarti membenarkan. Tapi kita juga perlu berhenti memandang kejahatan sebagai sesuatu yang muncul dari “hati yang busuk.” Sering kali, kejahatan tumbuh dari kondisi yang busuk, seperti kemiskinan struktural, ketimpangan, ketidakadilan, dan sistem sosial yang memaksa orang untuk terus bertahan dalam mode darurat.

Baca juga:

Kalau kita ingin mencegah kejahatan, kita tidak bisa hanya mengandalkan moralitas individu. Kita butuh tatanan sosial yang manusiawi. Kita butuh pendidikan yang mengajarkan empati. Kita butuh sistem hukum yang adil, bukan yang menghukum si miskin dan membebaskan si kaya. Dan yang terpenting, kita butuh ruang aman untuk gagal karena tak semua orang kuat bertahan terus-menerus.

Akhirnya, Ini Tentang Siapa Kita Saat Situasi Terburuk Terjadi

Raskolnikov akhirnya menyesal. Bukan karena takut dihukum, tapi karena nuraninya sendiri mulai bangkit. Penyesalan itu membawa ia pada penebusan. Tapi apakah kita semua akan seberuntung dia?

Kita tidak tahu bagaimana kita akan bertindak saat berada di titik terendah. Tapi jika ada satu hal yang bisa kita lakukan sejak sekarang, mungkin itu adalah memastikan bahwa tak ada orang di sekitar kita yang merasa seputus asa seperti Raskolnikov. Kalau pun ada, mereka tidak merasa sendirian. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Zulfa Dillah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email