Setelah perhelatan Clash Of Champions Season 1 berakhir, platform pendidikan Ruang Guru kembali menghadirkan Clash Of Champions Season 2 dengan peserta yang tak kalah hebat dibandingkan edisi sebelumnya. Banyak mahasiswa dari kampus top hadir di acara tersebut untuk menunjukkan kemampuan mereka.
Hadirnya Clash Of Champions mendapatkan respons positif dari warganet. Mereka berpendapat adanya acara semacam ini mampu membangkitkan semangat anak-anak bangsa untuk mengejar pendidikan yang lebih tinggi, mengingat kualitas anak bangsa kita sedang dipertaruhkan karena kualitas pendidikan yang menurun jika mengacu pada skor PISA. Acara ini juga menunjukkan masih banyak anak bangsa kita yang membanggakan karena prestasinya melimpah.
Adanya Clash Of Champions ini bukan hanya membangkitkan semangat untuk menggapai pendidikan tinggi, acara ini juga satir terhadap berbagai kalangan untuk melih menyadari realitas pendidikan hari ini yang semakin lama semakin jauh dari kata layak dan mendidik.
Ketimpangan itu Nyata
Melihat para peserta berasal dari top universitas yang ada di Indonesia maupun di luar negeri semakin menunjukkan bahwa ketimpangan universitas semakin nyata. Kita bisa melihat banyak peserta hanya berasal dari universitas dengan ranking tinggi di Indonesia.
QS World Ranking yang menjadi rujukan untuk menentukan universitas terbaik menunjukkan bahwa Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, dan seterusnya masuk dalam kategori TOP 10 Universitas. Dalam Clash of Champions, kita bisa melihat banyaknya peserta Clash of Champions dari kalangan universitas top sehingga hal ini akan membentuk stigma bahwa anak-anak hebat dan pintar harus masuk top universitas.
Baca juga:
Hal ini diperparah dengan kesempatan mahasiswa setiap universitas terhambat karena fasilitas dan tenaga pendidik yang tidak merata. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya keluhan mahasiswa tentang fasilitas yang terbatas, serta kualitas tenaga pendidik yang jauh dari kata layak untuk mengajar.
Bahkan, sesama top universitas terkadang masih mengalami ketimpangan fasilitas dan tenaga pendidik yang begitu terasa. Hal ini justru memperparah kualitas pendidikan Indonesia, sebab ada kasta di antara sesama mahasiswa maupun universitas. Hal ini bukan tidak mungkin melahirkan kecemburuan.
Di satu sisi, kita bisa melihat bahwa program seperti Clash of Champions dapat memperkuat stigma bahwa jika ingin dianggap anak pintar dan cerdas, harus masuk top Universitas. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya warganet yang menilai beberapa peserta dari top universitas lebih hebat dan berprestasi dibandingkan lainnya.
Hal seperti ini melahirkan sebuah pertanyaan, “Apakah sesama mahasiswa harus dibuat kasta kecerdasannya dalam bentuk universitas?”
Kita bisa melihat nasib rakyat Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi tetapi terhalang restu orang tua karena permasalahan ekonomi. Parahnya, masih saja banyak orang menganggap jika terdapat kendala ekonomi untuk meneruskan pendidikan tinggi, solusinya adalah beasiswa. Mereka seolah lupa mengenai kuota dari beasiswa yang cukup terbatas dan sangat tidak mencukupi untuk rakyat Indonesia yang masuk golongan miskin. Data dari Bank Dunia atau World Bank menunjukkan bahwa persentase kaum miskin di Indonesia sebesar 68,2%.
Fenomena semacam ini sebenarnya sudah dijelaskan oleh beberapa filosof maupun sosiolog, seperti Ivan Illich dan Pierre Bourdieu. Illich berpendapat bahwa pendidikan formal, yakni sekolah maupun kampus seringkali memproduksi hierarki sosial yang menyebabkan beberapa anak termarjinalkan dan tidak mampu mengakses pendidikan secara penuh.
Hal ini dapat dilihat dengan banyaknya ketimpangan sesama kampus di Indonesia yang membuat akses pendidikan tidak merata, dan kualitas pendidikan kita jauh dari kata layak. Maka saat itu, Ivan Illich sampai mengeluarkan pendapat untuk membebaskan masyarakat dari sekolah karena sistemnya yang membuat diskriminasi.
Semantara itu, sudut pandang Bourdieu dapat dijelaskan melalui habitus. Ia berpendapat bahwa perspektif anak pandai berasal dari universitas ternama terbentuk karena banyaknya anak pintar masuk universitas ternama, yang membuat masyarakat membentuk stigma bahwa anak pandai berasal dari universitas ternama.
Clash of Champions ini setidaknya menjadi satir terhadap pemerintah dan masyarakat mengenai kondisi pendidikan hari ini. Kita sebagai masyarakat selalu membandingkan anak-anak bangsa yang sedang menempuh pendidikan, sedangkan pemerintah merasa acuh terhadap kondisi pendidikan di lapangan. Mereka baru akan mmenebar citra ketika ada anak bangsa yang berhasil memperoleh prestasi gemilang.
Baca juga:
Dari fenomena ini, pemerintah sudah seharusnya mulai sadar kondisi pendidikan saat ini seperti apa di lapangan. Mulai dari faktor ekonomi, jumlah lembaga pendidikan, terutama SMA dan PTN yang terbatas, hingga kualitas antar lembaga berbeda membuat mewujudkan pendidikan yang adil dan setara sangatlah sulit.
Oleh karena itu, pemerintah sudah seharusnya fokus untuk membangun lembaga pendidikan supaya dapat dijangkau oleh semua pihak dan meningkatkan kualitasnya dengan menyamaratakan fasilitas sesama lembaga pendidikan.
Yang tak kalah penting adalah membuat pendidikan gratis, mengingat banyak orang miskin menempuh pendidikan supaya lepas dari garis kemiskinan dan menjalankan amanah Pembukaan UUD NRI 1945. Masyarakat umum juga punya peran. Mereka perlu mulai membuka mata selebar-lebarnya bahwa stigma anak pandai harus masuk masuk universitas ternama membuat beban anak bangsa berat.
Mulai sekarang, mari kita dukung anak bangsa yang menjalankan pendidikan tinggi di mana pun. Sebab mereka aset paling berharga untuk generasi Indonesia ke depan. Jangan sampai stigma yang terbentuk membuat anak bangsa menjadi patah hati untuk melanjutkan pendidikannya.
Editor: Prihandini N
